Malino: Dulu, Kini, dan Nanti
Sejak masa kolonial Belanda, Malino sudah dijadikan sebagai lokasi peristirahatan karena kesejukannya.
Selain di Gowa, RS Regional juga akan dibangun di Luwu, tepatnya di dekat Bandara Bua.
Kota Harapan
Melihat perkembangan yang terjadi, Malino hari ini adalah cerminan bagaimana sebuah kota kecil mampu bertumbuh, beradaptasi, dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Dari kota dingin yang menyimpan banyak kenangan, Malino kini menjelma menjadi kota harapan.
Masyarakat menikmati manfaat ekonomi melalui geliat pariwisata dan UMKM.
Wisatawan menemukan ketenangan dan keindahan yang tidak mudah digantikan.
Pemerintah melihat potensi besar menjadikan Malino sebagai pusat layanan kesehatan sekaligus ikon wisata kesehatan di Indonesia timur.
Transformasi Malino juga memberi pesan penting bahwa pembangunan tidak harus mengorbankan alam dan identitas lokal.
Justru, dengan menjaga keseimbangan antara alam, sejarah, budaya, dan inovasi, Malino bisa menjadi contoh bagaimana sebuah destinasi wisata tumbuh berkelanjutan.
Rewako Gowa
Diketahui Gowa kini dipimpin oleh Husnia Talenrang. Perempuan pertama yang memimpin daerah bersejarah di Sulsel ini.
Husnia menegaskan komitmennya untuk menyelaraskan arah pembangunan daerah dengan program strategis, khususnya Asta Cita.
Menurutnya, Pemkab Gowa akan terus mendorong implementasi kebijakan yang berpihak pada rakyat, seperti penguatan ketahanan pangan, peningkatan layanan kesehatan, serta pengembangan ekonomi daerah.
"Sebagai Bupati, saya akan memastikan bahwa Gowa tidak hanya menjadi daerah yang berkembang, tetapi juga menjadi daerah yang menjadi contoh dalam implementasi kebijakan nasional di tingkat daerah. Rewako Gowa," serunya usai paripurna di DPRD Gowa, Sungguminasa.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian dalam pengembangan daerah adalah Malino, yang terletak di Kecamatan Tinggimoncong.
Ia menyebut Pemkab berkomitmen memajukan Malino melalui program strategis seperti event pariwisata hingga pendampingan UMKM.
Masyarakat Malino sendiri dinilai memiliki karakter yang kuat dalam menjunjung tinggi nilai toleransi dan pentingnya pendidikan.
Hal ini disampaikan oleh Nursiah, seorang guru di Kelurahan Malino.
"Alhamdulillah, sudah banyak lulusan kami yang sukses. Ada jadi ASN, tentara, ada juga jadi guru, banyak juga yang jadi pengusaha. Saya berharap putra-putri Malino ke depan bisa menjadi lebih baik, membangun bangsa, dan kembali ke Malino untuk memajukan daerah yang sejuk ini," tuturnya.
Demografi Kecamatan Tinggimoncong
Utara: Berbatasan dengan Kabupaten Maros
Selatan: Berbatasan dengan Kecamatan Parigi
Barat: Berbatasan dengan Kecamatan Parangloe
Timur: Berbatasan dengan Kecamatan Tombolo Pao
Ketinggian: ±500 meter di atas permukaan laut
- Jumlah Wilayah Administratif:
7 desa/kelurahan (dibentuk melalui Perda No. 7 Tahun 2005)
- Ibu Kota Kecamatan: Kelurahan Malino, berjarak ±63 km dari Sungguminasa
- Jumlah Penduduk:
Total: 24.065 jiwa
Laki-laki: 11.902 jiwa
Perempuan: 12.163 jiwa
Mayoritas agama: Islam (±98,7 persen)
- Fasilitas Pendidikan:
Taman Kanak-Kanak: 10
SD Negeri: 8
SD Inpres: 17
SMP: 6
SMA: 2 (termasuk satu sekolah unggulan)
Madrasah Ibtidaiyah: 2
Madrasah Tsanawiyah: 3
Madrasah Aliyah: 2
- Fasilitas Lain:
Sarana kesehatan, tempat ibadah (masjid dan gereja), pasar
Pusat pendidikan militer untuk calon Tamtama TNI di Malino
- Mata Pencaharian Umum:
Petani sayuran dan perkebunan
Pedagang besar dan eceran (sektor non-pertanian).(*)
| Browcyl Rayakan Usia ke-14, Promo Beli Satu Dapat Tiga Diserbu Warga |
|
|---|
| Wabup Gowa Sebut Koperasi Merah Putih Jadi Penggerak Ekonomi Desa |
|
|---|
| PMII Gowa Resmi Dilantik, Siap Perkuat Gerakan Sosial dan Kolaborasi |
|
|---|
| Dinas Peternakan Gowa Bagikan Tips Memilih Hewan Kurban, Pastikan Ada Surat Kesehatan |
|
|---|
| Jelang Idul Adha 2026, Harga Sapi Kurban di Gowa Capai Rp14 Juta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/agung-di-malino.jpg)