Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Malino: Dulu, Kini, dan Nanti

Sejak masa kolonial Belanda, Malino sudah dijadikan sebagai lokasi peristirahatan karena kesejukannya.

Tayang:
Editor: Saldy Irawan
ISTIMEWA
Warga Makassar Agung Tanrasula saat menikmati suasana sejuknya hutan pinus Malino, Kecamatan Tinggimoncong Gowa 

TRIBUN-TIMUR.COM - Malino, sebuah kawasan sejuk di Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kawasan ini dijuluki ‘Kota Bunga’. 

Dari masa ke masa, Malino tak hanya menghadirkan panorama yang memanjakan mata, tetapi juga menyimpan cerita sosial, sejarah, dan harapan baru bagi warganya khusunya wisatawan yang datang.

Dulu, Kota Dingin Sarat Kenangan

Bagi banyak orang, menyebut nama Malino berarti mengingat dinginnya udara yang menusuk tulang, aroma hutan pinus yang khas, serta bentangan perkebunan teh dan sayur yang menyejukkan pandangan. 

Sejak masa kolonial Belanda, Malino sudah dijadikan sebagai lokasi peristirahatan karena kesejukannya.

Di kawasan ini, peninggalan sejarah masih berdiri kokoh. 

Pasangrahan Malino, tempat berlangsungnya Konferensi Malino pada 1946, menjadi salah satu saksi penting perjalanan bangsa. 

Begitu pula dengan Balla Lompoa dan Balla Jambua yang memperlihatkan jejak kebesaran budaya Gowa

Tak ketinggalan, meriam peninggalan Belanda yang hingga kini masih bisa ditemukan, menjadi pengingat bahwa Malino telah lama berada di pusaran sejarah.

Di masa lalu, sebagian besar masyarakat Malino menggantungkan hidup dari pertanian. 

Lahan subur di kawasan pegunungan ini menghasilkan sayuran, buah-buahan, dan bunga yang kemudian dijual ke berbagai daerah di Sulawesi Selatan. 

Bagi generasi yang pernah menikmati Malino tempo dulu, kenangan akan suasana dingin yang ekstrem dan kabut tebal yang menyelimuti hampir setiap sore, menjadi sesuatu yang tak tergantikan. 

Malino adalah ruang kenangan, tempat rekreasi sederhana yang menyatukan keluarga, teman, sekaligus melahirkan banyak kisah yang masih dibicarakan hingga kini.

Kini, Kota Bunga Menawan

Seiring perjalanan waktu, Malino mengalami banyak perubahan. 

Suhunya memang tidak sedingin dulu, tetapi kesejukan dan ketenangan yang tersisa tetap menjadi daya tarik utama. 

Julukan ‘Kota Bunga’ semakin melekat, terutama setelah Pemerintah Kabupaten Gowa secara konsisten menggelar event tahunan Beautiful Malino.

Acara ini telah menjadi ikon pariwisata Gowa

Ribuan pengunjung dari berbagai daerah memadati Malino untuk menikmati konser musik, pameran UMKM, hingga pertunjukan budaya. 

Tahun ini, perputaran uang selama lima hari pelaksanaan Beautiful Malino tercatat sekitar Rp15 miliar.

Potret Bupati Gowa Husnia Talenrang dan Camat Tinggimoncong Andi Aso Ambarala saat berada di Kelurahan Malino
Potret Bupati Gowa Husnia Talenrang dan Camat Tinggimoncong Andi Aso Ambarala saat berada di Kelurahan Malino (DOK PRIBADI)

Camat Tinggimoncong, Andi Aso Ambarala, mengungkapkan angka itu baru dihitung dari sektor vila, hotel, dan warung makan. 

“Potensi ekonomi bisa jauh lebih besar karena masih banyak sektor lain yang belum terdata, termasuk UMKM dan pedagang kecil,” ujarnya.

Perubahan ekonomi masyarakat juga terasa nyata. 

Jika dulu sebagian besar warga hanya menggantungkan penghasilan dari pertanian, kini roda perekonomian mereka bergerak lebih cepat. 

UMKM bermunculan, mulai dari kuliner khas, kerajinan tangan, hingga jasa wisata kreatif. 

Oleh-oleh seperti cendol Malino dan tenteng Malino kini menjadi buruan wisatawan.

Tak hanya itu, Malino terus menghadirkan destinasi baru yang menambah daya tarik kawasan. 

Sebut saja The River Malino, Sierra Sky View, Kampoeng Eropa, hingga Cimory Malino yang baru beroperasi. 

Kehadiran destinasi-destinasi ini memperkaya pilihan wisatawan, dari sekadar menikmati panorama alam hingga merasakan pengalaman modern yang dikemas dengan nuansa khas pegunungan.

Namun, Malino bukan hanya soal wisata dan perputaran uang.

Ia juga menjadi ruang sosial lintas generasi. 

Anshar Aminullah, mahasiswa Universitas Indonesia asal Bontonompo, menilai Malino memiliki peran penting dalam menjaga ikatan sosial masyarakat. 

“Malino bukan hanya tempat wisata. Di sini ada ruang sosial yang menyatukan banyak generasi. Hening pinus dan kesejukan Malino adalah warisan sosial Gowa yang harus dijaga,” ujarnya.

Baginya, Malino tidak sekadar tumbuh menjadi destinasi wisata, tetapi juga menjadi simbol identitas, ruang kebersamaan, dan pengingat bagi banyak orang tentang pentingnya merawat alam serta budaya lokal.

Nanti, Wisata Kesehatan

Masa depan Malino tampak semakin cerah. 

Kawasan ini tidak lagi diposisikan hanya sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga disiapkan untuk menjalankan peran baru yang lebih strategis, yakni pusat layanan kesehatan regional dengan konsep wisata kesehatan.

Pemerintah Provinsi Sulsel memilih Malino sebagai lokasi pembangunan Rumah Sakit (RS) Regional. 

Alasannya, lingkungan pegunungan yang sejuk, hijau, dan bebas polusi, dinilai sangat mendukung proses pemulihan pasien.

Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Ishaq Iskandar, menjelaskan bahwa studi kelayakan tengah dilakukan untuk memastikan semua aspek mendukung pembangunan. 

“Salah satu yang menyebabkan orang sembuh itu karena lingkungan. Apalagi jika cuaca dan alamnya bagus, udara segar bisa menunjang pemulihan,” katanya di Kantor Gubernur Sulsel, Kamis (21/8/2025).

RS Regional Malino nantinya akan menjadi rujukan bagi pasien dari Sinjai, Jeneponto, dan Takalar. 

Konsep health tourism atau wisata kesehatan yang diusung akan memadukan perawatan medis dengan rekreasi alam, sehingga pasien tidak hanya mendapatkan layanan kesehatan, tetapi juga pengalaman penyembuhan yang lebih menyeluruh.

Proyek dengan anggaran sekitar Rp400 miliar ini akan menggunakan skema multiyears agar proses konstruksi berjalan lancar tanpa harus mengulang tender setiap tahun. 

Targetnya, pembangunan dimulai pada akhir 2025 dan rampung pada 2027.

Selain di Gowa, RS Regional juga akan dibangun di Luwu, tepatnya di dekat Bandara Bua. 

Kota Harapan

Melihat perkembangan yang terjadi, Malino hari ini adalah cerminan bagaimana sebuah kota kecil mampu bertumbuh, beradaptasi, dan memberikan manfaat yang lebih luas. 

Dari kota dingin yang menyimpan banyak kenangan, Malino kini menjelma menjadi kota harapan.

Masyarakat menikmati manfaat ekonomi melalui geliat pariwisata dan UMKM.

Wisatawan menemukan ketenangan dan keindahan yang tidak mudah digantikan. 

Pemerintah melihat potensi besar menjadikan Malino sebagai pusat layanan kesehatan sekaligus ikon wisata kesehatan di Indonesia timur.

Transformasi Malino juga memberi pesan penting bahwa pembangunan tidak harus mengorbankan alam dan identitas lokal. 

Justru, dengan menjaga keseimbangan antara alam, sejarah, budaya, dan inovasi, Malino bisa menjadi contoh bagaimana sebuah destinasi wisata tumbuh berkelanjutan.

Rewako Gowa

Diketahui Gowa kini dipimpin oleh Husnia Talenrang. Perempuan pertama yang memimpin daerah bersejarah di Sulsel ini. 

Husnia menegaskan komitmennya untuk menyelaraskan arah pembangunan daerah dengan program strategis, khususnya Asta Cita.

Menurutnya, Pemkab Gowa akan terus mendorong implementasi kebijakan yang berpihak pada rakyat, seperti penguatan ketahanan pangan, peningkatan layanan kesehatan, serta pengembangan ekonomi daerah.

"Sebagai Bupati, saya akan memastikan bahwa Gowa tidak hanya menjadi daerah yang berkembang, tetapi juga menjadi daerah yang menjadi contoh dalam implementasi kebijakan nasional di tingkat daerah. Rewako Gowa," serunya usai paripurna di DPRD Gowa, Sungguminasa.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian dalam pengembangan daerah adalah Malino, yang terletak di Kecamatan Tinggimoncong. 

Ia menyebut Pemkab berkomitmen memajukan Malino melalui program strategis seperti event pariwisata hingga pendampingan UMKM.

Masyarakat Malino sendiri dinilai memiliki karakter yang kuat dalam menjunjung tinggi nilai toleransi dan pentingnya pendidikan. 

Hal ini disampaikan oleh Nursiah, seorang guru di Kelurahan Malino.

"Alhamdulillah, sudah banyak lulusan kami yang sukses. Ada jadi ASN, tentara, ada juga jadi guru, banyak juga yang jadi pengusaha. Saya berharap putra-putri Malino ke depan bisa menjadi lebih baik, membangun bangsa, dan kembali ke Malino untuk memajukan daerah yang sejuk ini," tuturnya.

Demografi Kecamatan Tinggimoncong

Utara: Berbatasan dengan Kabupaten Maros

Selatan: Berbatasan dengan Kecamatan Parigi

Barat: Berbatasan dengan Kecamatan Parangloe

Timur: Berbatasan dengan Kecamatan Tombolo Pao

Ketinggian: ±500 meter di atas permukaan laut

- Jumlah Wilayah Administratif:

7 desa/kelurahan (dibentuk melalui Perda No. 7 Tahun 2005)

- Ibu Kota Kecamatan: Kelurahan Malino, berjarak ±63 km dari Sungguminasa

- Jumlah Penduduk:

Total: 24.065 jiwa

Laki-laki: 11.902 jiwa

Perempuan: 12.163 jiwa

Mayoritas agama: Islam (±98,7 persen)

- Fasilitas Pendidikan:

Taman Kanak-Kanak: 10

SD Negeri: 8

SD Inpres: 17

SMP: 6

SMA: 2 (termasuk satu sekolah unggulan)

Madrasah Ibtidaiyah: 2

Madrasah Tsanawiyah: 3

Madrasah Aliyah: 2

-  Fasilitas Lain:

Sarana kesehatan, tempat ibadah (masjid dan gereja), pasar

Pusat pendidikan militer untuk calon Tamtama TNI di Malino

- Mata Pencaharian Umum:

Petani sayuran dan perkebunan

Pedagang besar dan eceran (sektor non-pertanian).(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved