14.525 Warga Maros Terserang ISPA dalam Lima Bulan, Satu Meninggal di Bontoa
Dari total kasus tersebut, satu orang warga Bontoa dilaporlan meninggal dunia saat dirawat di rumah sakit.
Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Ansar
TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Sebanyak 14.525 warga di Kabupaten Maros terjangkit penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam kurun waktu lima bulan terakhir, Januari hingga Mei 2026.
Dari total kasus tersebut, satu orang warga Bontoa meninggal dunia saat dirawat di rumah sakit.
Meningkatnya kasus ISPA salah satunya dipengaruhi akibat cuaca tidak menentu.
Kepala Dinas Kesehatan Maros, Muhammad Yunus mengatakan kasus ISPA paling banyak ditemukan bulan April sebanyak 3.211 kasus.
Kemudian disusul bulan Februari sebanyak 3.112 dan Januari sebanyak 2.939 kasus.
"Maret sebesar 2.775 kasus dan Mei 2.488 kasus jadi memang fluktuatif tiap bulannya," katanya kepada Tribun Timur, Kamis (4/6/2026).
Kasus ISPA tertinggi selama periode Januari hingga Mei 2026 ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Moncongloe.
Mantan Kapus Bantimurung itu menuturkan pasien ISPA paling banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa, 19 hingga 59 tahun.
Hal itu disebabkan kelompok usia produktif memiliki mobilitas yang tinggi dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Jumlah populasi dewasa merupakan kelompok usia produktif yang menjadi bagian terbesar dari populasi dan memiliki mobilitas tinggi untuk bekerja, sekolah, maupun menggunakan transportasi umum,” jelasnya.
Menurutnya, semakin sering seseorang berinteraksi dengan banyak orang, maka risiko terpapar virus maupun bakteri penyebab ISPA juga semakin besar.
Yunus menjelaskan ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung, tenggorokan hingga paru-paru.
Gejala yang sering dialami penderita antara lain batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, sesak napas, hingga tubuh terasa lemas.
“Jika gejala yang muncul cukup berat seperti sesak napas, demam tinggi yang tidak turun atau kondisi tubuh semakin memburuk, masyarakat sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” katanya.
Untuk penanganan awal, masyarakat dianjurkan memperbanyak istirahat, mengonsumsi makanan bergizi, minum air putih yang cukup serta menghindari paparan asap rokok dan polusi udara.
Selain itu, penggunaan masker saat sakit maupun saat berada di kerumunan juga dapat membantu mencegah penularan penyakit.
Yunus mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang ISPA.
“Dengan berolahraga teratur, banyak minum air putih, mengonsumsi makanan bergizi dan istirahat yang cukup,” tuturnya.
Seorang warga Maros, Rahmawati, mengaku sempat mengalami gejala ISPA beberapa waktu lalu.
Awalnya, ia hanya merasakan sakit tenggorokan dan pilek sebelum akhirnya mengalami batuk berkepanjangan.
“Awalnya tenggorokan terasa sakit, lalu pilek dan batuk selama beberapa hari. Setelah berobat dan banyak istirahat alhamdulillah sudah membaik,” katanya.
| Warganet Pertanyakan Patung Kucing Orange di Bandara Sultan Hasanuddin, Abai Ikon Budaya Sulsel |
|
|---|
| Ellacare dan Pramuka Maros Kampanyekan Makan 2 Butir Telur Sehari Dorong Generasi Sehat Cerdas |
|
|---|
| Marjan Massere Jagokan Spanyol di Piala Dunia 2026, Lamine Yamal Pemain Andalan |
|
|---|
| Begal, Kota Besar, dan Masa Depan Keamanan Indonesia |
|
|---|
| 14 Kali Berturut-turut, Pemkab Maros Sabet Opini WTP dari BPK |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ISPA-MAROS-Kepala-Dinas-Kesehatan-Maros-Muhammad-Yunus.jpg)