Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Nurwahyuni Malik Sosok Kartini Masa Kini di Pimpinan DPRD Maros

Wahyuni menilai, perempuan tidak memiliki kemandirian ekonomi rentan menghadapi persoalan hidup

Tayang:
Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com/Nurul Hidayah
HARI KARTINI - Wakil Ketua II DPRD Maros, Nurwahyuni Malik saat ditemui, Selasa (21/4/2026). Ia mendorong perempuan di era saat ini untuk lebih berdaya dan mandiri. Menurutnya, tantangan perempuan saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa sebelumnya. 
Ringkasan Berita:
  • Nurwahyuni Malik kartini masa kini di unsur pimpinan DPRD Maros
  • Perempuan kelahiran 24 Mei 1989 ini tumbuh dan besar di Papua mengikuti orang tuanya yang merantau
  • Waktu kecil jaga toko, kini duduki unsur pimpinan

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS – Wakil Ketua II DPRD Maros, Nurwahyuni Malik, mendorong perempuan di era saat ini untuk lebih berdaya dan mandiri.

Menurutnya, tantangan perempuan saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa sebelumnya.

Perempuan tidak hanya dituntut mengurus rumah tangga, tetapi juga harus mampu berpenghasilan dan mengembangkan diri.

“Perempuan sekarang harus bisa mengurus rumah tangga, harus bisa berpenghasilan, dan harus mampu mengembangkan diri,” ujarnya.

Ia menilai, perempuan yang tidak memiliki kemandirian ekonomi akan lebih rentan dalam menghadapi persoalan hidup.

Terutama dalam rumah tangga, di mana perempuan kerap menjadi pihak yang dirugikan.

“Kalau tidak punya penghasilan atau pendidikan, akan sulit keluar dari masalah,” katanya.

Perjalanan hidup Nurwahyuni Malik sendiri tidak lepas dari kerja keras sejak usia muda.

Perempuan kelahiran 24 Mei 1989 ini tumbuh dan besar di Papua mengikuti orang tuanya yang merantau.

Sejak kecil, ia sudah terbiasa membantu usaha keluarga.

Sepulang sekolah, ia langsung menjaga toko milik orang tuanya.

“Dari kecil memang sudah terbiasa kerja, jadi itu terbawa sampai sekarang,” ungkapnya.

Kebiasaan tersebut membentuk dirinya menjadi pribadi yang mandiri dan produktif.

Bahkan hingga kini, ia mengaku selalu ingin melakukan aktivitas yang bermanfaat.

“Kalau tidak ada kegiatan, rasanya harus cari usaha lagi,” ujarnya.

Sebelum terjun ke dunia politik, Nurwahyuni dikenal sebagai seorang pengusaha.

Ia merintis usaha saat masih berada di Papua.

Keputusannya masuk ke dunia politik pun tidak terlepas dari dorongan orang tua.

Kini, ia duduk sebagai Wakil Ketua II DPRD Maros dan menjalani peran sebagai wakil rakyat.

Menurutnya, menjadi anggota DPRD merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Ia menyebut, peran di legislatif memberi ruang lebih luas untuk membantu masyarakat.

“Kalau di DPRD, kita bisa membantu masyarakat lebih banyak,” katanya.

Di tengah dominasi laki-laki di dunia politik, Nurwahyuni menilai tidak ada lagi perbedaan signifikan antara perempuan dan laki-laki.

Ia menyebut, suara perempuan kini mulai didengar dalam pengambilan kebijakan.

“Sekarang sudah setara, perempuan juga didengar,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan perempuan dalam pembangunan daerah.

Di DPRD Maros, jumlah anggota perempuan disebut mencapai sekitar sepuluh orang dalam satu periode.

Dalam kiprahnya, ia aktif mendorong program pemberdayaan perempuan, khususnya di tingkat desa.

Menurutnya, masih banyak perempuan yang belum memiliki pekerjaan tetap.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat sektor UMKM.

“Rata-rata pelaku UMKM itu perempuan, jadi harus didorong dari sisi anggaran dan pelatihan,” jelasnya.

Ia meyakini, perempuan yang memiliki penghasilan akan lebih percaya diri dan mandiri.

Selain itu, perempuan juga bisa berperan lebih besar dalam membantu ekonomi keluarga.

“Kalau perempuan punya penghasilan, dia lebih percaya diri,” katanya.

Ia juga mendorong perempuan untuk berani terjun ke dunia politik.

Menurutnya, kunci utama bagi perempuan adalah keberanian.

“Perempuan harus berani,” tegasnya.

Pada momentum Hari Kartini, ia mengajak perempuan di Kabupaten Maros untuk keluar dari zona nyaman.

Ia menekankan pentingnya kepercayaan diri dan kemandirian.

“Harus berani dan percaya diri. Lebih baik lagi kalau bisa berpenghasilan,” ujarnya.

Dari sisi pendidikan, Nurwahyuni memiliki latar belakang sebagai pendidik.

Ia menyelesaikan pendidikan S1 di STIT Al-Khairiyah jurursan keguruan.

Sementara pendidikan S2 diselesaikan di Universitas Hasanuddin dengan jurusan Manajemen Publik pada 2026.

Kini, di usia 36 tahun, Nurwahyuni Malik terus konsisten memperjuangkan pemberdayaan perempuan.

Ia berharap perempuan di Maros semakin mandiri, berdaya saing, dan berani mengambil peran dalam pembangunan daerah.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved