Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Banjir Maros

5 Kecamatan Terendam, 3.500 Warga Maros Terdampak Banjir

Hujan deras tiga hari terakhir membuat lima kecamatan di Maros, Sulsel terendam banjir.

Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Sukmawati Ibrahim
Tribun-timur.com/Kades Moncongloe 
BANJIR MAROS - Kondisi banjir di Desa Moncongloe, Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros, Kamis (26/2/2026).Sebanyak 3.500 jiwa terdampak akibat banjir yang merendam sejumlah kecamatan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan dalam tiga hari terakhir.     
Ringkasan Berita:
  • Banjir melanda lima kecamatan di Maros akibat hujan deras dan sungai meluap. 
  • Sebanyak 3.500 jiwa terdampak. 
  • Warga dievakuasi ke masjid, rumah kerabat, bahkan ke Makassar. 
  • Air setinggi selutut hingga sepinggang orang dewasa merendam perumahan. 
  • BPBD siaga, BMKG keluarkan peringatan cuaca ekstrem hingga 1 Maret.

TRIBUNMAROS.COM, MAROS – Sebanyak 3.500 jiwa terdampak akibat banjir yang merendam sejumlah kecamatan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan dalam tiga hari terakhir.

Dari data BPBD Maros tercatat wilayah Moncongloe dan Marusu menjadi yang paling parah.

Banjir dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah Maros selama dua hari berturut-turut, ditambah meluapnya sejumlah sungai yang tak mampu menampung debit air.

Warga yang berada di pinggiran sungai terpaksa menggunakan perahu untuk aktivitas sehari-hari.

Lantaran akses jalan menuju Kota Kabupaten Maros terendam air hingga ketinggian paha orang dewasa.

Selain itu, seorang lasia di Moncongloe pun terpasa dievakuasi akibat dikepung banjir di rumahnya.

Bupati Maros, Chaidir Syam, mengatakan dampak banjir tersebar di beberapa kecamatan dengan jumlah terdampak yang cukup besar.

Di Kecamatan Marusu, tepatnya di Desa Bonto Mate’ne, Dusun Kampala, sekitar 750 jiwa atau 200 kepala keluarga terdampak genangan.

Sementara di Kecamatan Maros Baru, Desa Borimasunggu Tekolabbua, tercatat sekitar 300 jiwa atau 100 kepala keluarga ikut terdampak.

“Air menggenangi rumah warga dan fasilitas lingkungan,” ujar Chaidir.

Di Kecamatan Lau, Desa Mattiro Deceng, sebanyak 750 jiwa atau 250 kepala keluarga juga terimbas banjir.

Sedangkan di Kecamatan Bontoa, Desa Bonto Lempangan, jumlah warga terdampak mencapai sekitar 1.000 jiwa atau 300 kepala keluarga.

Wilayah Kecamatan Moncongloe menjadi salah satu titik dengan kondisi terparah.

Di Desa Moncongloe Lappara, sekitar 700 jiwa atau 300 kepala keluarga terdampak banjir dengan ketinggian air bervariasi.

Sejumlah perumahan di Desa Moncongloe ikut terendam.

Di antaranya Pesona Pelangi, Dorsen, Grand Attila, hingga Mega Pontri.

Ketinggian air di kawasan tersebut berkisar mulai dari selutut hingga sepinggang orang dewasa dan telah masuk ke dalam rumah warga.

"Beberapa warga bahkan harus dievakuasi menggunakan perahu karet saat debit air meningkat," katanya.

Kepala Desa Moncongloe, Iqbal, menjelaskan banjir terjadi akibat intensitas hujan yang tinggi serta meluapnya air sungai di sekitar permukiman.

“Kalau di Grand Attila itu sekitar sepinggang. Di Pesona Pelangi kurang lebih sepaha. Penyebabnya selain hujan deras, air sungai yang meluap. Sejauh ini warga rata-rata mengungsi di masjid dan rumah keluarganya,” kata Iqbal.

Sejumlah masjid kini difungsikan sebagai posko pengungsian sementara bagi warga terdampak.

Selain itu, sebagian warga memilih mengungsi ke rumah kerabat di wilayah yang lebih tinggi, bahkan ada yang menuju ke Kota Makassar untuk sementara waktu.

Ketua Tim Kerja Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV, Rizky Yudha, mengatakan potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat terjadi pada 24 Februari hingga 1 Maret 2026.

“Berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer, terdapat kombinasi aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby, serta konvergensi angin yang mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif di wilayah Sulawesi Selatan,” katanya saat dikonfirmasi, Selasa (24/2/2026).

Selain Kabupaten Maros, wilayah lain yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat diantaranya Parepare, Barru, Pangkajene dan Kepulauan, Makassar, Gowa, Takalar, dan Kepulauan Selayar.

Sementara itu, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Luwu Utara, Pinrang, Sidrap, Soppeng, Bone, Sinjai, Jeneponto, Bantaeng, dan Bulukumba.

Selain hujan lebat, BMKG juga memprakirakan potensi angin kencang di wilayah Sulawesi Selatan bagian barat dan selatan.

Potensi cuaca ekstrem ini dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, hingga pohon tumbang. 

"Masyarakat di lokasi yang disebutkan dalam peringatan dini perlu waspada dan berhati-hati terhadap potensi bencana yang bisa terjadi,” bebernya.

Tak hanya di daratan, BMKG juga mengingatkan masyarakat pesisir dan nelayan untuk mewaspadai gelombang tinggi di sejumlah perairan.

Gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di Perairan Pinrang, Barru, Makassar, Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Kepulauan Selayar, Bulukumba, Kepulauan Takabonerate, serta Jeneponto. (*)

 

 
 
 

 
 
 

 

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved