Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Jawaban PT SUS Terkait Penolakan Warga Tamalanrea Atas Proyek PSEL 

Pihak PT SUS menjelaskan proyek PSEL dirancang menggunakan teknologi tertutup sehingga diklaim aman bagi lingkungan sekitar.

Tayang:
Penulis: Siti Aminah | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Siti Aminah
DIALOG PSEL - Dialog terkait proyek PSEL yang digelar PT SUS bersama warga sekitar lokasi proyek, Grand Eterno, Jl Ir Sutami, Kecamatan Tamalanrea, Jumat (29/5/2026). Pihak SUS menjelaskan rencana proyek strategis nasional (PSEL) yang akan dijalankan di Makassar. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Penolakan sebagian warga terhadap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di Kecamatan Tamalanrea masih terus bergulir.

Warga bukan menolak program pengolahan sampah menjadi energi listrik tersebut, namun mempertanyakan alasan lokasi proyek dibangun dekat dengan permukiman.

Ada dua wilayah yang berpotensi terdampak, Kampung Tamala'lang Kelurahan Parang Loe dan Mula Baru, Kelurahan Bira. 

Menanggapi penolakan itu, pihak konsorsium, diwakili Electrical Engineering PT Sarana Utama Synergi (SUS) Richard, menjelaskan proyek PSEL dirancang menggunakan teknologi tertutup sehingga diklaim aman bagi lingkungan sekitar.

Penjelasan itu disampaikan Richard dalam Dialog yang digelar bersama warga sekitar lokasi proyek, di Grand Eterno, Jl Ir Sutami, Kecamatan Tamalanrea, Jumat (29/5/2026). 

Agenda tersebut dihadiri beberapa warga Tamalalang, RT/RW, lurah setempat, aparat TNI Pori, dan jajaran PT SUS

Diskusi dipimpin influencer Makassar, Rijal Djamal. 

Baca juga: Warga Tamalanrea soal PSEL: Kami Tidak Tolak Proyeknya, Tapi Lokasinya

DEMO PSEL -  Kelompok ibu-ibu demo Gedung DPRD Makassar di Jalan Andi Pangerang Petta Rani, Makassar, Sulsel, Rabu (6/8/2025), menolak rencana pembangunan PSEL. Mereka demo karena khawatir terhadap dampak lingkungan, kesehatan, pencemaran air, dan penurunan kualitas hidup akibat proyek ini.
DEMO PSEL - Kelompok ibu-ibu demo Gedung DPRD Makassar di Jalan Andi Pangerang Petta Rani, Makassar, Sulsel, Rabu (6/8/2025), menolak rencana pembangunan PSEL. Mereka demo karena khawatir terhadap dampak lingkungan, kesehatan, pencemaran air, dan penurunan kualitas hidup akibat proyek ini. (TRIBUN TIMUR/SITI AMINAH)

Pada dialog tersebut, Rijal menanyakan beberapa aspirasi masyarakat yang dikeluhkan.

Mulai dari pemilihan lokasi, potensi dampak lingkungan, hingga teknologi perusahaan asal Cina tersebut dalam menjalankan proyek sampah di Makassar

Richard menyampaikan, seluruh sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan akan ditempatkan di bunker atau ruang tertutup dengan lapisan beton dan sistem pengamanan khusus.

Ia menyebut sistem tersebut dirancang agar bau sampah tidak menyebar keluar dan air lindi tidak meresap ke tanah di sekitar lokasi proyek.

Selain itu, bunker menggunakan teknologi tekanan udara negatif sehingga udara dari luar masuk ke dalam ruangan, bukan sebaliknya.

Udara yang berada di dalam bunker kemudian dialirkan ke ruang pembakaran untuk membantu proses pembakaran sampah menjadi lebih efisien.

"Sampah dibawa masuk ke ruangan tertutup atau bunker. Ruangan ini memiliki atap tertutup dan lantai beton, sehingga bau tidak keluar dan air lindi tidak meresap ke tanah,” ujarnya. 

Baca juga: Dibanding Tamalanrea, Antang Disebut Lebih Siap untuk PSEL

Richard menjelaskan gas metana yang dihasilkan sampah juga ikut diarahkan ke ruang pembakaran sehingga tidak terlepas ke lingkungan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved