Jawaban PT SUS Terkait Penolakan Warga Tamalanrea Atas Proyek PSEL
Pihak PT SUS menjelaskan proyek PSEL dirancang menggunakan teknologi tertutup sehingga diklaim aman bagi lingkungan sekitar.
Penulis: Siti Aminah | Editor: Alfian
Proses pembakaran sampah dalam proyek PSEL itu disebut dilakukan pada suhu di atas 1.000 derajat Celsius.
PT SUS mengklaim suhu tinggi tersebut mampu menekan terbentuknya senyawa berbahaya seperti dioksin dan furan yang selama ini menjadi kekhawatiran masyarakat.
Sementara sisa pembakaran berupa bottom ash disebut masih dapat dimanfaatkan kembali, salah satunya sebagai material penambalan jalan.
"Bottom ash bisa digunakan sebagai bahan penambalan jalan. Jadi konsepnya sustainability, semua bisa dimanfaatkan kembali,” jelasnya.
Untuk pengendalian emisi, perusahaan mengaku menggunakan sistem filtrasi berlapis seperti SCR, bag filter, dan karbon aktif.
Richard menyebut, standar pengolahan emisi yang digunakan mengacu pada standar Uni Eropa yang lebih ketat dibanding regulasi di Indonesia.
Kekhawatiran warga terkait penggunaan air tanah juga dibantah oleh PT SUS.
Perusahaan memastikan operasional pendinginan mesin tidak menggunakan air tanah milik warga sekitar, melainkan memanfaatkan air dari Sungai Tallo.
Menurut Richard, penggunaan air Sungai Tallo telah melalui penelitian serta memperoleh izin dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Ia juga memastikan ketersediaan debit air dinilai cukup untuk kebutuhan operasional sepanjang tahun, termasuk saat musim kemarau.
"Kami tidak menggunakan air tanah. Sistem pendinginan mesin menggunakan air Sungai Tallo,” paparnya.
Selain menjelaskan aspek teknis, Richard turut menanggapi keraguan warga terkait pengalaman perusahaan menjalankan proyek serupa.
Richard mengatakan, PT SUS merupakan bagian dari SUS Environment, perusahaan asal Tiongkok yang telah mengembangkan berbagai proyek waste to energy di sejumlah negara.
Selain di China, proyek serupa disebut telah dijalankan di Vietnam, Thailand, hingga Bangkok.
PT SUS juga mencontohkan keberadaan fasilitas waste to energy di kawasan perkotaan Jepang yang berada dekat dengan permukiman warga.
| Pengakuan Kevin, Penemu Mayat Bocah SD Korban Pembunuhan di Makassar |
|
|---|
| 250 Fans Arsenal di Makassar Nobar Final Liga Champions, Optimistis The Gunners Juara |
|
|---|
| BookCabin Travel Fair 2026 di MaRI Makassar Diserbu Pengunjung |
|
|---|
| Nonton Bareng Piala Dunia 2026 di Mercure Makassar Mulai Rp75 Ribu |
|
|---|
| Kallafriends Meriahkan MHM 2026, Ada Polaroid Keliling Hanya Rp5 Ribu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260529-Dialog-terkait-proyek-PSEL.jpg)