Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun RT RW

Bank Sampah RW 004 Untia Tampung 200 Kg Sampah, Bisa Ditukar Sembako

Kegiatan ini merupakan penimbangan kedua sejak BSU RW 004 Untia mulai beroperasi.

Tayang:
Penulis: Makmur | Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Makmur
TUKAR SAMPAH - Ketua RT/RW 004 Kelurahan Untia menyerahkan sembako kepada warga sebagai konversi nilai sampah yang dimasukkan ke Bank Sampah RT/RW 004 Kelurahan Untia, Kota Makassar, Sabtu (23/5/2026). Sembako yang diberikan adalah opsi pembayaran bagi warga menimbang sampahnya. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Bank Sampah Unit (BSU) yang dikelola RT/RW 004 Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, kembali menggelar kegiatan penimbangan sampah, Sabtu (23/5).

Kegiatan ini merupakan penimbangan kedua sejak BSU RW 004 Untia mulai beroperasi.

Pada penimbangan kali ini, antusiasme warga meningkat dibanding kegiatan sebelumnya.

“Hari ini kami melakukan penimbangan kedua, alhamdulillah antusiasme warga semakin meningkat,” ujar Ketua RW 004 Untia, Idris. 

Pada penimbangan kedua tersebut, sampah yang masuk didominasi kardus dengan total 101 kilogram.

Selain itu, warga juga menyetorkan berbagai jenis sampah anorganik lainnya, seperti botol kecap sebanyak 28 kilogram, plastik gelas 17 kilogram, dan kertas berwarna 14 kilogram.

Sampah lain yang turut terkumpul di antaranya botol plastik, rak telur, tutup botol, tutup galon, serta sejumlah jenis sampah bernilai ekonomis lainnya.

Secara keseluruhan, total sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai 200 kilogram.

Berbeda dengan bank sampah pada umumnya yang mengonversi hasil timbangan menjadi uang tunai, BSU RW 004 Untia menyediakan pilihan penukaran dalam bentuk kebutuhan pokok.

Sampah yang disetorkan warga dapat ditukar dengan gula pasir, minyak goreng, mi instan, deterjen, hingga berbagai kebutuhan dapur lainnya.

“Kebetulan saya punya toko kelontong, jadi warga tinggal pilih sembako sesuai nilai timbangannya,” kata Idris.

Meski demikian, tidak semua warga memilih menukarkan hasil timbangan dengan sembako.

Sebagian warga memilih menyimpan nilainya sebagai tabungan.

“Ada juga yang memilih menabung, tidak menukarnya dengan sembako,” ujarnya.

Idris menjelaskan, sistem penukaran dengan sembako diterapkan karena sampah yang terkumpul masih harus disetor terlebih dahulu ke TPS3R dan Bank Sampah Pusat sebelum menghasilkan nilai penjualan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved