Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ekonomi Tak Stabil, Operasional Panti Asuhan di Makassar Terjepit

Pengurus Panti Asuhan Nahdiyat, Ayu, mengaku merasakan dampak kenaikan kebutuhan pokok dan barang-barang lainnya.

Tayang:
Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Kaswadi Anwar
PANTI ASUHAN – Anak yatim piatu Panti Asuhan Nahdiyat zikir bersama untuk kemenangan PSM Makassar di Musalah Panti Asuhan Nahdiyat, Jl Anuang No 138, Kelurahan Maricaya Selatan, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Senin (4/5/2026). Panti Asuhan Nahdiyat terdampak dengan situasi ekonomi tak stabil. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Pengurus panti asuhan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) merasakan situasi ekonomi yang tak stabil.

Harga bahan pokok naik, tarif listrik juga melonjak, belum lagi kebutuhan primer lain yang melambung tinggi.

Hal ini membuat biaya operasional panti asuhan terdampak.

Apalagi, panti asuhan tak mempunyai penghasilan tetap.

Hanya mengandalkan sumbangan dari pemerintah maupun donator, itu pun tak tetap.

Pengurus Panti Asuhan Nahdiyat, Ayu, mengaku merasakan dampak kenaikan kebutuhan pokok dan barang-barang lainnya.

Apalagi, panti asuhan diurusnya ini dihuni 75 orang, terdiri 65 anak yatim piatu dan 10 pengurus.

Untuk makan sehari-hari saja, bisa menghabiskan Rp 800 ribu – Rp 1 juta.

Belum terhitung biaya listrik, biaya air, wifi, iuran sampah, peralatan mandi, perlengkapan sekolah, obat-obatan dan operasional  panti lainnya.

Baca juga: 5 Panti Asuhan di Tanjung Bunga Makassar Dapat Uang Saku dan Paket Makan Siang GMTD

Jika diperkirakan dalam sebulan pengeluaran bisa mencapai Rp 20 jutaan.

“Jadi mungkin operasional itu Rp 20 juta-Rp 25 juta per bulannya,” katanya saat ditemui Tribun-Timur.com di Panti Asuhan Nahdiyat, Jl Anuang No 138, Kelurahan Maricaya Selatan, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Kamis (7/5/2026).

Ia menyebut, angka Rp 20 jutaan tersebut belum termasuk biaya sehari-hari untuk anak-anak sekolah

Misalnya, uang jajan, pengeluaran kerja tugas, kebutuhan praktik dan sebagainya.

Apalagi, dari 65 anak di Panti Asuhan Nahdiyat didominasi siswa di sekolah menengah pertama (SMP). Ada sekira 28 orang.

Sisanya masih di sekolah dasar (SD), duduk di sekolah menengah atas (SMA) dan kuliah.

Untuk itu, pengurus biasanya kerap merogoh kantong pribadi untuk keperluan anak.

Sebagian pengurus berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN) dan karyawan swasta.

“Kami keluarkan dari kantong pribadi, tanggung jawab kami sebagai orangtua. Kami tambah biaya sekolah,” sebut perempuan yang mengenakan baju putih dan jilbab pink ini saat ditemui.

Ayu menyebut, idealnya operasional panti asuhannya di kisaran Rp 40 juta sampai Ro 50 juta.

Jumlah ini sudah dapat memenuhi seluruh kebutuhan anak yatim piatu dan operasional.

“Kalau idealnya mungkin Rp 40 sampai Rp 50 juta baru aman bergerak,” ujarnya.

Tak Punya Donatur Tetap

Ayu mengungkapkan, Panti Asuhan Nahdiyat saat ini tak mempunyai donatur tetap.

Kondisi ini terjadi ketika pandemi Covid-19. Banyak donatur yang sebelumnya rutin membantu, kini tak begitu aktif lagi.

Penyebabnya, usaha donator terdampak saat Covid-19 melanda.

“Pas Covid terasa sekali, karena banyak pengusaha dulu menyumbang, usahanya terdampak,” ungkapnya.

Ayu pun mengenang masa-masa sulit ketika Covid-19 dari 2019 hingga 2022.  Situasi semakin berat dialami.

Hampir setiap hari anak-anak hanya makan dengan menu seadanya. Terpenting sehat.

“Covid dari 2019-2022, asli setiap hari makan tempe saja, ditemani nasi dan kecap. Terpenting saat itu anak-anak tidak sakit,” kenangnya.

Baca juga: 55 Anak Yatim Panti Asuhan Assyifa Makassar Sumringah Terima Santunan

Menurutnya, menurunya jumlah donatur pasca Covid-19 masih sangat dirasakan hingga sekarang.

Buktinya, sumbangan hewan kurban sapi ke Panti Asuhan Nahdiyat menurun.

Dulu, dua pekan sebelum IdulAdha, sumbangan sapi bisa lima ekor, saat ini baru dua ekor.

“Terasa sekali memang pasca Covid-19,” tambahnya.

Walau donatur menurun, Ayu bersama pengurus Panti Asuhan Nahdiyat tak berkecil hati.

Dengan keadaan terbatas, panti asuhan tetap bisa berjalan.  Ia percaya, setiap anak diasuhnya memiliki rezeki sendiri.

“Alhamdulillah, sekarang bisa dipenuhi meski terbatas. Kami percaya anak-anak ini punya rezekinya,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Agar biaya operasional tak membengkak, pihaknya pun tak menambah jumlah anak.

Panti Asuhan Nahdiyat sebenarnya mampu menampung 120 anak. Cuma diterima saat ini hanya setengah dari kapasitas.

“Kami hanya isi setengahnya saja, khawatirnya kalau 120 anak akan membengkak biaya,” ujar Ayu.

Ia pun berharap, perhatian dari pemerintah dan pengusaha bisa membantu mengurus Panti Asuhan Nahdiyat.

Meski dari pemerintah kota melalui Dinas Sosial dalam dua kali setahun memberikan bantuan beras.

Untuk pengusaha, ia menyarankan dapat menyisihkan sebagian kecil keuntungan secara rutin untuk membantu panti asuhan.

“Kalau bisa mungkin per enam bulan saja menyumbang. Tidak harus besar, Rp 500 ribu pun sangat berarti untuk operasional anak-anak,” harapnya.(*)

 

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved