TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ketua RT 002 RW 008 Kelurahan Tamalanrea, Juprianda Yunus, mulai menginisiasi pengelolaan sampah berbasis warga dengan membangun Teba (Tempat Olahan Sampah) untuk sampah organik.
Pembangunan Teba tersebut dilakukan bersama warga dengan memanfaatkan dua gorong-gorong yang ditanam di dalam tanah.
Fasilitas ini nantinya digunakan untuk mengurai sampah organik menjadi pupuk kompos.
Juprianda mengatakan, pembuatan Teba merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah kelurahan agar setiap RT memiliki minimal satu titik pengolahan sampah.
“Iya, jadi saya buat baru kemarin itu. Memang diarahkan, minimal satu RT satu Teba,” ujarnya kepada Tribun-Timur.Com, Rabu (6/5/2026).
Ia menilai, konsep satu Teba per RT lebih efektif dibandingkan jika hanya terpusat di tingkat RW.
Dengan begitu, tanggung jawab pengelolaan sampah bisa merata di setiap wilayah.
“Memang bagus kalau per-RT, karena kalau per-RW, ada saja yang tidak bergerak. Jadi lebih baik masing-masing RT,” jelasnya.
Teba yang dibangun memiliki kedalaman hampir satu meter, dengan memanfaatkan dua gorong-gorong sebagai bangunan.
Lubang tersebut digali di lahan kosong yang selama ini dimanfaatkan warga sebagai kebun bersama.
Meski lubang Teba telah selesai dibuat, fasilitas tersebut belum sepenuhnya difungsikan.
Juprianda mengaku masih menunggu pendampingan dari penyuluh untuk memastikan pengelolaan berjalan sesuai prosedur.
“Belum digunakan, masih tunggu penyuluh. Katanya mau datang sekalian ajarkan juga bikin ecoenzim,” ujarnya.
Di sisi lain, kesadaran warga terkait pengelolaan sampah, kata dia, mulai tumbuh.
Sejumlah warga secara mandiri sudah membawa sampah mereka ke Bank Sampah Unit (BSU).
“Lumayan, ada saja warga yang bawa sendiri sampahnya ke BSU,” katanya.
Di wilayah RW 008 sendiri, saat ini telah terdapat dua Bank Sampah Unit yang aktif, yakni BSU Cinta Damai dan BSU Al-Bayan.
“Di sini sudah ada dua BSU, jadi warga sudah mulai terbiasa memilah dan menyetor sampah,” jelasnya.
Juprianda berharap, kehadiran Teba di tingkat RT dapat memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat, sekaligus mendukung program lingkungan di tingkat kelurahan.
“Harapannya, semua RT bisa punya Teba, jadi pengolahan sampah organik bisa selesai di wilayah masing-masing,” ucapnya