Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Waspada! Perampok ala “Ninja” di Komplek Minasa Upa Makassar

Menyusul kejadian ini, otoritas RT/RW memperketat ronda malam, khususnya menjelang subuh.

Tayang:
Tribun-timur.com
PERAMPOKAN RUMAH - Kolase menantu pemilik rumah yang dimasuki perampok, Muhammad Sabri (39) saat berbincang dengan ketua RT setempat, Ismail (52) dan tangkapan layar CCTV ART Muhammad Sabri, S (18) mengejar pelaku. Aksi perampokan ini terjadi di rumah mewah Jl Jl Minasa Upa, Kelurahan Minasa Upa, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (3/5/2026) dini hari. 

Isi brankas tersebut antara lain 21 batang emas Antam, emas batangan 100 gram, berbagai gelang emas dari Dubai, cincin berlian, hingga sejumlah bros dan surat berharga.

Total emas dan perhiasan yang dibawa kabur diperkirakan mencapai ratusan gram.

Kanit Resmob Polda Sulsel, Kompol Beny Pornika, menyebut ketiga pelaku berhasil ditangkap tiga hari setelah kejadian, Jumat (16/2/2026).

Penangkapan dilakukan di lokasi berbeda, mulai dari rumah pelaku hingga tempat hiburan malam.

Tekanan Ekonomi

Sosiolog Universitas Negeri Makassar, Idham Irwansyah, menilai faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu meningkatnya aksi kriminalitas.

Termasuk maraknya geng motor dalam beberapa waktu terakhir.

Tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, terutama di lapisan bawah, berdampak langsung pada meningkatnya beban hidup.

“Tekanan ekonomi meningkatkan beban hidup masyarakat, terutama di lapisan bawah. Kondisi ini memicu frustrasi, keputusasaan, dan hilangnya harapan, yang pada akhirnya bisa mendorong sebagian orang melakukan tindakan kriminal,” ujar, Senin (4/5/2026).

Idham menjelaskan, dampak tekanan ekonomi tidak hanya terbatas pada kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis individu.

Selain itu, relasi sosial dalam masyarakat ikut terdampak, terutama ketika kesenjangan antara harapan dan kenyataan semakin lebar.

“Ketika kebutuhan hidup tidak terpenuhi, sementara tuntutan sosial tetap tinggi, terjadi ketegangan sosial. Ini yang dalam kajian sosiologi sering memicu penyimpangan perilaku,” jelasnya.

Idham menambahkan, ketimpangan sosial dan kesenjangan ekonomi turut memperbesar potensi konflik serta kriminalitas di tengah masyarakat.

Kondisi tersebut memunculkan rasa ketidakadilan yang dirasakan oleh kelompok tertentu.

“Kesenjangan ekonomi membuat sebagian kelompok merasa tertinggal dan tidak memiliki akses yang sama. Ini bisa melahirkan rasa iri, marah, bahkan dorongan untuk mengambil jalan pintas,” katanya.

Dalam konteks geng motor, Idham melihat adanya irisan kuat antara tekanan ekonomi dan kebutuhan akan identitas sosial, khususnya di kalangan anak muda.

Kelompok geng motor kerap menjadi ruang pelarian bagi mereka yang mengalami tekanan, baik secara ekonomi maupun sosial.

“Geng motor sering menjadi ruang pelarian bagi mereka yang mengalami tekanan sosial dan ekonomi,” katanya.

“Di sana ada rasa memiliki, solidaritas, dan pengakuan, tetapi juga berpotensi mendorong perilaku menyimpang,” Idham menambahkan.

Ia juga menyoroti keterbatasan akses terhadap pendidikan dan lapangan kerja sebagai faktor yang memperbesar risiko keterlibatan anak muda dalam kelompok tersebut.

Minimnya peluang membuat sebagian anak muda kehilangan arah dalam menentukan masa depan.

“Ketika peluang kerja sempit dan pendidikan tidak menjangkau semua, sebagian anak muda kehilangan arah. Geng motor kemudian menjadi alternatif ruang sosial, meski dengan risiko tinggi,” ujarnya.

Selain faktor ekonomi, Idham menilai adanya krisis moral serta melemahnya kontrol sosial di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Padahal, ketiga elemen tersebut seharusnya menjadi benteng utama dalam mencegah perilaku menyimpang.

Menurutnya, ketika fungsi kontrol sosial melemah, individu menjadi lebih rentan terpengaruh oleh lingkungan negatif.

Kondisi ini membuka ruang lebih besar bagi munculnya tindakan kriminal.

Terkait langkah penanganan, Idham menilai pemerintah perlu memperkuat program sosial yang menyasar keluarga, sekolah, hingga komunitas.

Edukasi moral dan sosial dinilai penting untuk membangun ketahanan masyarakat dari dalam.

“Penguatan kontrol sosial penting. Program edukasi moral dan sosial harus menyasar keluarga, sekolah, dan komunitas,” ujarnya.

“Siskamling atau posko di tiap RW yang mulai berjalan bisa menjadi praktik baik yang perlu diperkuat,” Idham menjelaskan.

Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya peran aparat penegak hukum dalam menjaga stabilitas keamanan.

Langkah penindakan harus berjalan seiring dengan upaya pencegahan.

“Penegakan hukum harus diperkuat melalui peningkatan patroli, pengawasan, dan respons cepat. Selain itu, tindakan tegas dan konsisten terhadap pelaku kejahatan penting untuk memberikan efek jera,” kata Idham.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved