Waspada! Perampok ala “Ninja” di Komplek Minasa Upa Makassar
Menyusul kejadian ini, otoritas RT/RW memperketat ronda malam, khususnya menjelang subuh.
TRIBUN-TIMUR.COM - Warga Komplek Minasa Upa, Kecamatan Rappocini, Makassar, diminta waspada terhadap perampokan ala “ninja” yang terjadi berulang.
Menyusul kejadian ini, otoritas RT/RW memperketat ronda malam, khususnya menjelang subuh.
Perampokan terbaru terjadi di RT 1/RW 7, Komplek Minasa Upa, Minggu (3/5/2026) dini hari.
Aksi tersebut menjadi yang kedua dalam beberapa bulan terakhir dengan pola serupa.
Pada Februari 2026, rumah seorang dosen Unhas juga dibobol.
Tiga pelaku menguras isi brankas berisi 21 emas batangan dan sekira 500 gram emas sebelum akhirnya ditangkap polisi.
Dari sejumlah kejadian, modus pelaku terbilang sama.
Baca juga: Hujan Ringan Masih Berlanjut di Maros, Suhu Mencapai 31 Derajat Celcius
Mereka beraksi saat warga terlelap, sekira pukul 01.00 hingga 03.00 Wita.
Sasaran utamanya rumah mewah di kawasan perumahan.
Pelaku memanjat pagar, lalu mencongkel pintu atau jendela untuk masuk ke dalam rumah.
Mereka mengenakan pakaian serba hitam, penutup wajah ala ninja, serta membawa senjata tajam untuk mengancam korban.
Dalam kasus terbaru, rumah milik juragan beras, Muhammad Sabri (53), di Jl Minasa Upa menjadi sasaran.
Peristiwa terjadi sekira pukul 02.30 Wita dan terekam kamera CCTV.
Pelaku masuk dari pagar belakang rumah, lalu menyasar kamar asisten rumah tangga (ART).
Jendela kamar dicongkel untuk membuka akses masuk.
Saat beraksi, pelaku sempat mengambil handphone dan dompet korban.
Namun aksi itu gagal total setelah korban terbangun dan berteriak, sehingga pelaku melarikan diri.
Korban bahkan sempat melawan sambil berteriak histeris, hingga menarik perhatian penghuni rumah lainnya.
Insiden ini kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian.
Dalam laporannya di Polsek Rappocini, Senin (4/5/2026), ART tersebut juga mengaku pelaku nyaris melakukan kekerasan seksual terhadap dirinya.
“Asisten rumah tangga saya sedang tidur pulas. Pelaku masuk tanpa menyalakan lampu, hanya menggunakan senter,” ujar Muhammad Sabri.
Ketua RW 3 Minasa Upa, M Ismail (47), mengatakan pihaknya meningkatkan kewaspadaan warga pasca kejadian tersebut.
Ia menyebut, kasus serupa sudah terjadi dua kali dalam waktu berdekatan di kawasan tersebut.
Hal ini membuat warga semakin resah.
“Ini sudah dua kali. Sebelumnya, sekitar satu bulan lalu, ada juga kejadian pencurian di sekitar sini,” kata Ismail.
Pihaknya kini mengintensifkan ronda malam dan meminta aparat keamanan untuk mengaktifkan patroli rutin, khususnya pada dini hari.
Respons Lurah
Lurah Minasa Upa, Rahim, mengaku belum menerima laporan resmi terkait peristiwa yang terjadi pada Minggu (3/5/2026) dini hari tersebut.
“Saya baru dengar, tidak ada informasi dari RT dan RW,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Ia menegaskan, alur pelaporan di tingkat wilayah menjadi hal penting agar setiap kejadian bisa segera ditindaklanjuti secara cepat dan terkoordinasi.
Menurut Rahim, pihak kelurahan akan segera melakukan penelusuran internal, memastikan kronologi serta memperkuat komunikasi dengan pengurus lingkungan setempat.
Ia juga menyebut, kejadian ini menjadi peringatan bagi seluruh elemen masyarakat agar tidak lengah terhadap potensi gangguan keamanan.
Rahim memastikan, koordinasi dengan RT/RW akan ditingkatkan, termasuk dalam hal pelaporan cepat jika terjadi insiden mencurigakan di lingkungan warga.
“Kami akan sampaikan kepada warga untuk lebih waspada. Biasanya juga kami imbau melalui masjid agar masyarakat menjaga keamanan dan tidak lengah,” ujarnya.
Selain itu, pihak kelurahan akan mengintensifkan komunikasi dengan aparat keamanan seperti Bhabinkamtibmas dan Babinsa untuk memperkuat pengawasan di lapangan.
Ia menilai, sinergi antara warga dan aparat menjadi kunci utama dalam mencegah tindak kriminal, terutama di kawasan permukiman padat.
Rahim mengungkapkan, wilayah Minasa Upa memiliki cakupan cukup luas dengan 17 RW dan 84 RT, serta jumlah penduduk sekitar 22 ribu jiwa.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga stabilitas keamanan lingkungan secara menyeluruh.
Karena itu, ia mendorong peran aktif masyarakat menjaga lingkungan masing-masing, termasuk melalui kegiatan ronda malam dan sistem keamanan berbasis warga.
Ke depan, isu keamanan akan menjadi salah satu fokus utama dalam rapat koordinasi rutin bersama RT dan RW.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat deteksi dini serta mencegah potensi kejadian serupa terulang di kemudian hari.
Perampokan Emas
Kasus perampokan besar juga terjadi pada Selasa (13/2/2026), sebelum Ramadan.
Tiga pelaku membobol rumah kosong dengan cara mencongkel pintu.
Karena kondisi rumah tidak berpenghuni, pelaku leluasa menguras isi brankas milik korban.
Isi brankas tersebut antara lain 21 batang emas Antam, emas batangan 100 gram, berbagai gelang emas dari Dubai, cincin berlian, hingga sejumlah bros dan surat berharga.
Total emas dan perhiasan yang dibawa kabur diperkirakan mencapai ratusan gram.
Kanit Resmob Polda Sulsel, Kompol Beny Pornika, menyebut ketiga pelaku berhasil ditangkap tiga hari setelah kejadian, Jumat (16/2/2026).
Penangkapan dilakukan di lokasi berbeda, mulai dari rumah pelaku hingga tempat hiburan malam.
Tekanan Ekonomi
Sosiolog Universitas Negeri Makassar, Idham Irwansyah, menilai faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu meningkatnya aksi kriminalitas.
Termasuk maraknya geng motor dalam beberapa waktu terakhir.
Tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, terutama di lapisan bawah, berdampak langsung pada meningkatnya beban hidup.
“Tekanan ekonomi meningkatkan beban hidup masyarakat, terutama di lapisan bawah. Kondisi ini memicu frustrasi, keputusasaan, dan hilangnya harapan, yang pada akhirnya bisa mendorong sebagian orang melakukan tindakan kriminal,” ujar, Senin (4/5/2026).
Idham menjelaskan, dampak tekanan ekonomi tidak hanya terbatas pada kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis individu.
Selain itu, relasi sosial dalam masyarakat ikut terdampak, terutama ketika kesenjangan antara harapan dan kenyataan semakin lebar.
“Ketika kebutuhan hidup tidak terpenuhi, sementara tuntutan sosial tetap tinggi, terjadi ketegangan sosial. Ini yang dalam kajian sosiologi sering memicu penyimpangan perilaku,” jelasnya.
Idham menambahkan, ketimpangan sosial dan kesenjangan ekonomi turut memperbesar potensi konflik serta kriminalitas di tengah masyarakat.
Kondisi tersebut memunculkan rasa ketidakadilan yang dirasakan oleh kelompok tertentu.
“Kesenjangan ekonomi membuat sebagian kelompok merasa tertinggal dan tidak memiliki akses yang sama. Ini bisa melahirkan rasa iri, marah, bahkan dorongan untuk mengambil jalan pintas,” katanya.
Dalam konteks geng motor, Idham melihat adanya irisan kuat antara tekanan ekonomi dan kebutuhan akan identitas sosial, khususnya di kalangan anak muda.
Kelompok geng motor kerap menjadi ruang pelarian bagi mereka yang mengalami tekanan, baik secara ekonomi maupun sosial.
“Geng motor sering menjadi ruang pelarian bagi mereka yang mengalami tekanan sosial dan ekonomi,” katanya.
“Di sana ada rasa memiliki, solidaritas, dan pengakuan, tetapi juga berpotensi mendorong perilaku menyimpang,” Idham menambahkan.
Ia juga menyoroti keterbatasan akses terhadap pendidikan dan lapangan kerja sebagai faktor yang memperbesar risiko keterlibatan anak muda dalam kelompok tersebut.
Minimnya peluang membuat sebagian anak muda kehilangan arah dalam menentukan masa depan.
“Ketika peluang kerja sempit dan pendidikan tidak menjangkau semua, sebagian anak muda kehilangan arah. Geng motor kemudian menjadi alternatif ruang sosial, meski dengan risiko tinggi,” ujarnya.
Selain faktor ekonomi, Idham menilai adanya krisis moral serta melemahnya kontrol sosial di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Padahal, ketiga elemen tersebut seharusnya menjadi benteng utama dalam mencegah perilaku menyimpang.
Menurutnya, ketika fungsi kontrol sosial melemah, individu menjadi lebih rentan terpengaruh oleh lingkungan negatif.
Kondisi ini membuka ruang lebih besar bagi munculnya tindakan kriminal.
Terkait langkah penanganan, Idham menilai pemerintah perlu memperkuat program sosial yang menyasar keluarga, sekolah, hingga komunitas.
Edukasi moral dan sosial dinilai penting untuk membangun ketahanan masyarakat dari dalam.
“Penguatan kontrol sosial penting. Program edukasi moral dan sosial harus menyasar keluarga, sekolah, dan komunitas,” ujarnya.
“Siskamling atau posko di tiap RW yang mulai berjalan bisa menjadi praktik baik yang perlu diperkuat,” Idham menjelaskan.
Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya peran aparat penegak hukum dalam menjaga stabilitas keamanan.
Langkah penindakan harus berjalan seiring dengan upaya pencegahan.
“Penegakan hukum harus diperkuat melalui peningkatan patroli, pengawasan, dan respons cepat. Selain itu, tindakan tegas dan konsisten terhadap pelaku kejahatan penting untuk memberikan efek jera,” kata Idham.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/PERAMPOKAN-RUMAH-Kolase-menantu-pemilik-rumah-yang-dimasuki-perampo.jpg)