Sosiolog UNM Idham Irwansyah Sebut Tekanan Ekonomi Picu Maraknya Perampokan
Dalam dua bulan terakhir terjadi perampokan rumah mewah di Minasa Upa, Makassar, yang menyebabkan kerugian material penghuni rumah.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Rumah juragan beras di Minasa Upa, Makassar, dirampok pada Minggu (3/5/2026) dini hari.
Telepon genggam dan dompet milik asisten rumah tangga sang juragan dibrondol kawanan perampok yang juga melakukan percobaan pemerkosaan terhadap sang asisten.
Peristiwa tersebut menambah daftar kasus kriminal yang terjadi di Kota Makassar dalam beberapa waktu terakhir. Warga pun mulai merasa resah dengan meningkatnya aksi kejahatan di lingkungan permukiman.
Dua bulan sebelumnya, juga di Minasa Upa, terjadi perampokan rumah dosen Unhas. Puluhan emas batangan dan 500 gram emas saat itu raib sebelum pelaku ditangkap.
Akhir-akhir ini kita juga melihat fenomena geng motor kembali marak di Kota Makassar. Kehadiran kelompok ini menambah kekhawatiran masyarakat, terutama saat beraktivitas pada malam hingga dini hari.
Bahkan, ada geng motor yang beraksi menggunakan senjata api. Geng motor bersenjata pistol itu menyerang permukiman warga di Jalan Langgau, Kecamatan Bontoala, Makassar, Jumat (1/5/2026) dini hari.
Aksi tersebut terekam kamera CCTV dan viral di media sosial, sehingga memicu reaksi luas dari masyarakat yang menuntut peningkatan keamanan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tindak kriminal tidak hanya terjadi secara individual, tetapi juga melibatkan kelompok dengan pola yang semakin terorganisir.
Baca juga: Perampokan Rumah Mewah di Minasa Upa Makassar, ART Nyaris Dirudapaksa
Di saat yang bersamaan, kondisi ekonomi kita mengalami gejolak. Baik itu disebabkan oleh perang di Timur Tengah maupun kebijakan ekonomi pemerintah yang dinilai belum mampu membangkitkan ekonomi.
Tekanan ekonomi ini dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat, terutama mereka yang berada di kelompok ekonomi menengah ke bawah.
Sosiolog Universitas Negeri Makassar, Idham Irwansyah, menilai faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab yang berkontribusi terhadap meningkatnya aksi kriminalitas, termasuk maraknya geng motor.
“Tekanan ekonomi meningkatkan beban hidup masyarakat, terutama di lapisan bawah. Kondisi ini memicu frustrasi, keputusasaan, dan hilangnya harapan, yang pada akhirnya bisa mendorong sebagian orang melakukan tindakan kriminal,” ujar Idham kepada Tribun-Timur.Com, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, tekanan ekonomi tidak hanya berdampak pada kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis dan relasi sosial individu dalam masyarakat.
“Ketika kebutuhan hidup tidak terpenuhi, sementara tuntutan sosial tetap tinggi, terjadi ketegangan sosial. Ini yang dalam kajian sosiologi sering memicu penyimpangan perilaku,” jelasnya.
Idham menambahkan, ketimpangan sosial dan kesenjangan ekonomi juga memperbesar potensi konflik dan kriminalitas, karena muncul rasa ketidakadilan di tengah masyarakat.
| Lupakan Kemenangan Atas Bhayangkara FC! PSM Makassar Alihkan Fokus Hadapi Arema FC |
|
|---|
| Tekuk Bhayangkara FC 2-1, Asisten Pelatih PSM Makassar: Ini Buah Kepercayaan Manajemen |
|
|---|
| Suporter Juku Eja Dilarang ke Stadion, Polisi Nonton Tim Polisi Takluk dari PSM Makassar |
|
|---|
| Demo Hardiknas di Batas Makassar-Gowa Ricuh |
|
|---|
| Dua Skenario PSM Makassar Kunci Tiket Super League Pekan Depan Usai Taklukkan Bhayangkara FC |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/HAJI-MUDA-Sosiolog-Universitas-Negeri-Makassar-Idham-Irwansyah-saat-hadir-sebagai.jpg)