TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tiga lurah di Kota Makassar mencontohkan langsung kepada RT/RW dan warga terkait pemilahan sampah.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk edukasi agar sampah rumah tangga warga dapat dikelola dengan baik.
Edukasi tersebut dikemas dalam bentuk video yang disebarkan melalui platform media sosial.
Tiga lurah tersebut adalah Lurah Tamalanrea Sulaeman, Lurah Ujung Tanah D. Mery Bura, dan Lurah Pannambungan Andi Tenri Leleang.
Dalam video yang dilihat Tribun Timur, para lurah mencontohkan pemisahan sampah organik, seperti sisa makanan, dan sampah nonorganik, seperti plastik.
Sampah plastik dimasukkan ke dalam karung, sementara sampah organik dimasukkan ke dalam biopori.
Tampak dalam video para lurah memasukkan sampah organik ke dalam biopori yang tertanam dalam tanah dengan disaksikan para ketua RT/RW.
Lurah Tamalanrea Sulaeman mengatakan, sebagai lurah dirinya harus menjadi contoh bagi masyarakat.
Ia tidak ingin instruksi yang disampaikan kepada warga menjadi omong kosong jika dirinya sendiri tidak melaksanakannya.
"Kita ini sebagai teladan, sebagai contoh kepada warga. Kebiasaan memilah sampah ini harus dimulai dari kita sendiri," ucapnya kepada Tribun-Timur.Com, Rabu (29/4/2026).
Sementara itu, Lurah Panambungan Andi Tenri Leleang mengatakan video edukasi tersebut terutama ditujukan kepada RT/RW.
Ia menilai perubahan kebiasaan warga harus dimulai dari ketua RT/RW sebagai ujung tombak pemerintahan.
"Jadi kita edukasi ini. Jadi kita ke RT-nya dulu, nanti dari RT-nya baru diteruskan ke warganya dalam pengolahan sampah," jelasnya.
Ia meminta seluruh RT/RW memiliki fasilitas pengolahan sampah yang lengkap di rumah masing-masing sebagai contoh bagi warga.
Fasilitas tersebut harus digunakan secara optimal dan dapat dilihat masyarakat.
"Ketika masyarakat melihat dan tahu manfaatnya, perlahan akan mengikuti," ucapnya.
Senada, Lurah Ujung Tanah D. Meri Bura mengatakan edukasi pengolahan sampah yang ia lakukan juga terutama menyasar RT/RW sebagai pemimpin wilayah.
Ia berharap RT/RW ke depan lebih gencar melaksanakan sosialisasi. Menurut Meri, sosialisasi itu harus berbasis percontohan.
"Mulai dari RT/RW dulu secara terstruktur turun ke masyarakat," ucapnya.
Meri optimis masyarakat perlahan akan menciptakan kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah.
Tapi sebelum itu, menurutnya, contoh latihan pengelolaan yang baik harus terus menerus digalakkan.
"Sebenarnya ini soal kebiasaan, yang harus dirubah juga dengan kebiasaan," ucapnya.