TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Perjuangan perempuan tidak mengenal ruang dan waktu.
Di lorong-lorong sempit Kota Makassar, banyak perempuan yang memberikan pengabdiannya untuk warga sekitarnya.
Mereka adalah para Ketua RT/RW yang menjadi ujung tombak pemerintahan sekaligus pemersatu masyarakat.
Peran perempuan sebagai Ketua RT/RW begitu sentral karena menjadi muara dari penjabaran program pemerintah kota.
Kesuksesan program pemerintah kota juga bertumpu pada keuletan, konsistensi, dan semangat para Ketua RT/RW.
Ketua RT 001 RW 001 Kelurahan Parangloe, Idawati, mengatakan perempuan harus mengambil peran dalam urusan publik.
“Perempuan juga harus mengambil peran dalam politik, pemerintahan, maupun sosial. Untuk mendapatkan peran strategis, kita juga harus belajar, aktif dalam kegiatan sosial untuk menambah pengetahuan dan wawasan,” ujarnya kepada Tribun-Timur, Selasa (21/4/2026).
Selain itu, menurutnya, perempuan harus mempunyai jiwa mandiri dan mampu menjadi pemimpin di lingkungannya.
“Perempuan itu harus mandiri, baik secara finansial maupun dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Ketua RT 003 RW 002 Kelurahan Kalukuang, Herny, mengatakan bahwa perempuan harus punya karakter dan kepribadian tangguh.
“Wanita hebat bukan karena dia cantik, kaya, atau pintar. Wanita hebat itu yang mampu menyelesaikan masalahnya, melukis kekuatan melalui proses kehidupan, bersabar saat tertekan, memilih diam saat dihina, tetap tersenyum walaupun tersakiti,” ujarnya.
Ketua RT 002 RW 005 Kelurahan Wala-Walaya, Marlina, mengatakan wanita harus tangguh, kuat, dan hebat.
“Teruslah bermimpi dan menginspirasi setiap wanita. Tetap sehat, tetap semangat,” katanya.
Menurut Marlina, roda kehidupan terus berputar sehingga perempuan harus tetap bersyukur dalam keadaan apa pun.
“Roda terus berputar, tetap bersyukur apa pun yang terjadi. Tetap berjuang dan jangan pernah menyerah. Karena tidak ada kehidupan yang sempurna. Maka jadikan sabar dan syukur kita sebagai penyemangat diri,” ujarnya.
Ketua RT 004 RW 004 Kelurahan Tabaringan, Siti Halimah, mengatakan perempuan tidak boleh berhenti melangkah dan berkarya.
“Perempuan harus terus bergerak, terus belajar, dan terus berkarya. Jangan pernah merasa kecil, karena perempuan juga mampu memberi perubahan besar bagi lingkungan dan masyarakat,” katanya.
Di Hari Kartini, para perempuan Ketua RT di Makassar membuktikan bahwa semangat perjuangan tidak hanya hidup dalam catatan sejarah.
Semangat itu hadir nyata di tengah masyarakat, melalui tangan-tangan perempuan yang setiap hari bekerja menjaga lingkungan, mempersatukan warga, dan mendorong perubahan dari lorong ke lorong.(*)