TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Camat Mariso Andi Syahrir menginstruksikan seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kecamatan Mariso menjadi contoh dalam gerakan Makassar bebas sampah.
Instruksi tersebut diberikan agar para ASN menjadi teladan bagi masyarakat dalam mengubah perilaku pengelolaan sampah, dimulai dari lingkungan rumah tangga masing-masing.
Menurut Andi Syahrir, ASN merupakan ujung tombak pemerintahan sehingga harus menunjukkan kepedulian terhadap kebersihan sebelum mengajak masyarakat melakukan hal serupa.
“ASN, PPPK, ataupun seluruh teman-teman yang berada di bawah naungan Kecamatan Mariso kami instruksikan melaksanakan pemilahan sampah dimulai dari rumah,” ujarnya kepada Tribun Timur, Senin (20/4/2026).
Ia menegaskan, pemerintah kecamatan tidak ingin aparatur hanya menyampaikan imbauan kepada warga, namun tidak menjalankan di rumah sendiri.
Karena itu, setiap ASN diminta membuat laporan berupa foto maupun video terkait pelaksanaan pemilahan sampah di rumah masing-masing.
Laporan tersebut nantinya akan diperiksa sebagai bentuk pengawasan terhadap kebijakan yang dijalankan.
“Jangan sampai kita sebagai ASN sudah koar-koar, ternyata kita sendiri di rumah tidak memilah sampah. Itu kan hal yang lucu,” katanya.
Ia menambahkan, ASN yang tidak menjalankan instruksi tersebut dapat dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
"Bisa penilaian kinerja melalui SKP maupun pengurangan tambahan penghasilan pegawai (TPP), itu nanti kita lihat," ujarnya.
Selain menata perilaku ASN, Kecamatan Mariso juga menyiapkan strategi pembentukan wilayah percontohan pengelolaan sampah di setiap kelurahan.
Setiap kelurahan nantinya akan memiliki satu RW percontohan yang menerapkan pemilahan sampah, penggunaan TEBA, ember tumpuk, komposter, hingga pemanfaatan hasil olahan untuk urban farming.
Menurutnya, model percontohan dibutuhkan agar warga bisa melihat langsung manfaat pengelolaan sampah secara nyata di lingkungannya.
Sampah organik nantinya diolah menjadi pupuk cair, kompos, maupun media tanam yang bisa dimanfaatkan untuk kebun warga.
Hasil urban farming diharapkan dapat membantu kebutuhan rumah tangga masyarakat, bahkan mendukung pemenuhan gizi anak-anak dan warga rentan stunting.
Sementara sampah non-organik seperti plastik akan diarahkan ke bank sampah agar memiliki nilai ekonomi.
Ia mencontohkan, di beberapa wilayah tabungan bank sampah warga bahkan dapat digunakan untuk membantu pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Andi Syahrir berharap gerakan yang dimulai dari ASN, RT/RW, dan wilayah percontohan itu dapat mendorong masyarakat luas ikut mewujudkan Makassar sebagai kota bebas sampah.
“Hal seperti ini pasti butuh proses, tidak mungkin sekali disampaikan langsung berubah. Tapi paling tidak sudah ada upaya, mulai dari rumah sendiri, supaya masyarakat juga bisa ikut bergerak bersama,” tuturnya.