Tribun RT RW
Sosok Sri Rahmi Mahmud, Kartini Penggerak Pendidikan di Lorong Rappokalling
Perempuan kelahiran Makassar, 30 April 1985, itu dikenal sebagai penggerak pendidikan, sosial, dan pemberdayaan warga
Penulis: Makmur | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Semangat Kartini tak selalu lahir dari ruang-ruang besar.
Di sebuah lorong di Kelurahan Rappokalling, Kota Makassar, semangat itu tumbuh melalui kerja nyata yang dilakukan Sri Rahmi Mahmud.
Perempuan kelahiran Makassar, 30 April 1985, itu dikenal sebagai penggerak pendidikan, sosial, dan pemberdayaan warga di lingkungannya.
Dari lorong kecil tempat tinggalnya, ia menghadirkan perubahan yang dirasakan langsung masyarakat.
Sri Rahmi tinggal di Jalan Haji Mustafa Nomor 11, Kelurahan Rappokalling.
Ia menempuh pendidikan hingga meraih gelar S1 dan S2 Hukum di Universitas Hasanuddin.
Meski berlatar pendidikan hukum, jalan pengabdiannya justru banyak dihabiskan di tengah masyarakat.
Saat ini, ia bekerja sebagai guru olahraga di SMP dan SMA Al Biruni, sekaligus pelatih panahan di SDIT Ar Rafii dan Club Mushaf.
Di lingkungan tempat tinggalnya, Sri Rahmi juga dipercaya menjabat sebagai Ketua RT 002 RW 001 Kelurahan Rappokalling.
Namun kiprahnya paling menonjol melalui pendirian Sikola Mangkasara, sekolah informal yang berada sekitar 50 meter dari rumahnya.
Tempat itu menjadi ruang belajar gratis bagi anak-anak kurang mampu di sekitar wilayahnya.
Di Sikola Mangkasara, anak-anak diajarkan membaca, menulis, dan berhitung.
Mereka juga mendapat pelatihan bela diri hapkido, bahasa Inggris, serta public speaking.
Sri Rahmi tak ingin pendidikan berhenti pada pelajaran akademik.
Ia juga menanamkan pembentukan karakter melalui kebiasaan salat berjamaah, disiplin, serta motivasi belajar.
“Anak-anak harus punya ilmu dan akhlak. Itu yang kami bangun,” ujarnya kepada Tribun-Timur.Com, Selasa (21/4/2026).
Baginya, pendidikan yang baik harus hadir dekat dengan masyarakat dan bisa diakses siapa saja.
Karena itu, ia menghadirkan sekolah sederhana yang terbuka bagi warga sekitar.
Tak hanya di bidang pendidikan, Sri Rahmi juga aktif menggerakkan kehidupan sosial masyarakat.
Setiap Sabtu pagi, ia menggelar senam sehat bagi para ibu rumah tangga.
Lorong yang biasanya sepi berubah menjadi ruang kebersamaan, canda, dan semangat hidup sehat.
“Kami ada program senam sehat setiap hari Sabtu pagi. Kita sama-sama jadikan sebagai hiburan,” katanya.
Soal kebersihan, Sri Rahmi mendorong perubahan dari rumah ke rumah.
Sampah organik diolah menjadi kompos cair dan padat menggunakan maggot, komposter, dan biopori.
“Yang bikin bau itu sampah organik, jadi kami olah jadi kompos,” jelasnya.
Untuk sampah anorganik seperti botol dan plastik, warga diminta memilah lalu menyerahkannya kepada pemulung agar bernilai ekonomi.
Kepeduliannya juga terlihat ketika menginisiasi pengadaan gerobak melalui bantuan donatur Sikola Mangkasara untuk seorang warga di wilayahnya yang bekerja sebagai pemulung.
“Dulu saya lihat ada warga bawa barang pakai karung, ternyata warga saya. Dari situ ada inisiatif bantu gerobak,” tuturnya.
Sri Rahmi juga menggagas program beasiswa untuk anak sekolah dasar.
Menariknya, beasiswa tersebut disertai syarat sosial. Orang tua harus aktif mengikuti kegiatan lingkungan seperti senam, mengaji, dan kerja bakti.
“Kalau orang tuanya aktif, dampaknya juga bagus untuk anak,” katanya.
Selain itu, ia rutin menjalankan program Sedekah Jumat dengan membagikan beras, gula, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lain bagi warga yang membutuhkan.
Dalam pelayanan publik sebagai Ketua RT, Sri Rahmi menegaskan seluruh urusan administrasi warga dilakukan tanpa pungutan biaya.
Bahkan ia sering mengantar langsung warga mengurus KTP dan dokumen lainnya.
“Tidak ada satu rupiah pun saya ambil dari warga. Semua administrasi gratis,” tegasnya.
Ia juga menyiapkan pelatihan memasak dan menjahit bagi ibu rumah tangga agar muncul sumber pendapatan baru bagi keluarga.
Di Hari Kartini, Sri Rahmi menyampaikan refleksi mendalam tentang peran perempuan masa kini.
Menurutnya, perempuan harus berpendidikan, berakhlak baik, dan terus meningkatkan keterampilan.
“Perempuan jangan hanya pandai memoles wajah, tapi juga harus pandai memoles hati, pikiran, dan mental,” ujarnya.
Ia menilai perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anak, sehingga masa depan bangsa sangat ditentukan kualitas perempuan hari ini.
“Entah menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga, perempuan harus cerdas dan bermental juara,” jelasnya.
Di Hari Kartini, Sri Rahmi Mahmud membuktikan bahwa perjuangan perempuan tak selalu dilakukan dari podium besar.
Kadang, perubahan justru dimulai dari lorong kecil, dengan kerja nyata yang konsisten dan tulus.(*)
| Ketua RW Pisang Selatan Abdul Rafiuddin Sukseskan Urban Farming, Pernah 20 Tahun Jadi Pelaut |
|
|---|
| Ramlah Ketua RT Barombong Terima Hadiah Motor dari Wali Kota Makassar |
|
|---|
| Hadapi Kemarau Panjang, Camat Panakkukang Tanam 1.000 Pohon dan Instruksikan Kesiapaan Air Bersih |
|
|---|
| Camat Mariso Andi Syahrir Minta ASN Jadi Teladan Gerakan Pilah Sampah Sejak dari Rumah |
|
|---|
| Camat Sangkarrang Genjot Urban Farming dan Aktifkan Kembali Bank Sampah Unit |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Sri-Rahmi-Mahmud-di-dalam-ruang-kelas-Sikola-Mangkasara.jpg)