Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun RT RW

Sosok Sri Rahmi Mahmud, Kartini Penggerak Pendidikan di Lorong Rappokalling

‎Perempuan kelahiran Makassar, 30 April 1985, itu dikenal sebagai penggerak pendidikan, sosial, dan pemberdayaan warga

Penulis: Makmur | Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Makmur
KARTINI - Sri Rahmi Mahmud di dalam ruang kelas Sikola Mangkasara, sekolah informal untuk anak-anak kurang mampu di Kelurahan Rappokalling, Kota Makassar, 6 April 2026. Perjuangan Sri Rahmi menggerakkan pendidikan dan memberdayakan warga di Kelurahan Rappokalling.  

‎TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Semangat Kartini tak selalu lahir dari ruang-ruang besar.

‎Di sebuah lorong di Kelurahan Rappokalling, Kota Makassar, semangat itu tumbuh melalui kerja nyata yang dilakukan Sri Rahmi Mahmud.

‎Perempuan kelahiran Makassar, 30 April 1985, itu dikenal sebagai penggerak pendidikan, sosial, dan pemberdayaan warga di lingkungannya.

‎Dari lorong kecil tempat tinggalnya, ia menghadirkan perubahan yang dirasakan langsung masyarakat.

‎Sri Rahmi tinggal di Jalan Haji Mustafa Nomor 11, Kelurahan Rappokalling.

‎Ia menempuh pendidikan hingga meraih gelar S1 dan S2 Hukum di Universitas Hasanuddin.

‎Meski berlatar pendidikan hukum, jalan pengabdiannya justru banyak dihabiskan di tengah masyarakat.

‎Saat ini, ia bekerja sebagai guru olahraga di SMP dan SMA Al Biruni, sekaligus pelatih panahan di SDIT Ar Rafii dan Club Mushaf.

‎Di lingkungan tempat tinggalnya, Sri Rahmi juga dipercaya menjabat sebagai Ketua RT 002 RW 001 Kelurahan Rappokalling.

‎Namun kiprahnya paling menonjol melalui pendirian Sikola Mangkasara, sekolah informal yang berada sekitar 50 meter dari rumahnya.

‎Tempat itu menjadi ruang belajar gratis bagi anak-anak kurang mampu di sekitar wilayahnya. 

‎Di Sikola Mangkasara, anak-anak diajarkan membaca, menulis, dan berhitung.

‎Mereka juga mendapat pelatihan bela diri hapkido, bahasa Inggris, serta public speaking.

‎Sri Rahmi tak ingin pendidikan berhenti pada pelajaran akademik.

‎Ia juga menanamkan pembentukan karakter melalui kebiasaan salat berjamaah, disiplin, serta motivasi belajar.

‎“Anak-anak harus punya ilmu dan akhlak. Itu yang kami bangun,” ujarnya kepada Tribun-Timur.Com, Selasa (21/4/2026).

‎Baginya, pendidikan yang baik harus hadir dekat dengan masyarakat dan bisa diakses siapa saja.

‎Karena itu, ia menghadirkan sekolah sederhana yang terbuka bagi warga sekitar.

‎Tak hanya di bidang pendidikan, Sri Rahmi juga aktif menggerakkan kehidupan sosial masyarakat.

‎Setiap Sabtu pagi, ia menggelar senam sehat bagi para ibu rumah tangga. 

‎Lorong yang biasanya sepi berubah menjadi ruang kebersamaan, canda, dan semangat hidup sehat.

‎“Kami ada program senam sehat setiap hari Sabtu pagi. Kita sama-sama jadikan sebagai hiburan,” katanya.

‎Soal kebersihan, Sri Rahmi mendorong perubahan dari rumah ke rumah.

‎Sampah organik diolah menjadi kompos cair dan padat menggunakan maggot, komposter, dan biopori.

‎“Yang bikin bau itu sampah organik, jadi kami olah jadi kompos,” jelasnya.

‎Untuk sampah anorganik seperti botol dan plastik, warga diminta memilah lalu menyerahkannya kepada pemulung agar bernilai ekonomi.

‎Kepeduliannya juga terlihat ketika menginisiasi pengadaan gerobak melalui bantuan donatur Sikola Mangkasara untuk seorang warga di wilayahnya yang bekerja sebagai pemulung.

‎“Dulu saya lihat ada warga bawa barang pakai karung, ternyata warga saya. Dari situ ada inisiatif bantu gerobak,” tuturnya.

‎Sri Rahmi juga menggagas program beasiswa untuk anak sekolah dasar.

‎Menariknya, beasiswa tersebut disertai syarat sosial. Orang tua harus aktif mengikuti kegiatan lingkungan seperti senam, mengaji, dan kerja bakti.

‎“Kalau orang tuanya aktif, dampaknya juga bagus untuk anak,” katanya.

‎Selain itu, ia rutin menjalankan program Sedekah Jumat dengan membagikan beras, gula, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lain bagi warga yang membutuhkan.

‎Dalam pelayanan publik sebagai Ketua RT, Sri Rahmi menegaskan seluruh urusan administrasi warga dilakukan tanpa pungutan biaya. 

‎Bahkan ia sering mengantar langsung warga mengurus KTP dan dokumen lainnya.

‎“Tidak ada satu rupiah pun saya ambil dari warga. Semua administrasi gratis,” tegasnya.

‎Ia juga menyiapkan pelatihan memasak dan menjahit bagi ibu rumah tangga agar muncul sumber pendapatan baru bagi keluarga.

‎Di Hari Kartini, Sri Rahmi menyampaikan refleksi mendalam tentang peran perempuan masa kini.

‎Menurutnya, perempuan harus berpendidikan, berakhlak baik, dan terus meningkatkan keterampilan.

‎“Perempuan jangan hanya pandai memoles wajah, tapi juga harus pandai memoles hati, pikiran, dan mental,” ujarnya.

‎Ia menilai perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anak, sehingga masa depan bangsa sangat ditentukan kualitas perempuan hari ini.

‎“Entah menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga, perempuan harus cerdas dan bermental juara,” jelasnya.

‎Di Hari Kartini, Sri Rahmi Mahmud membuktikan bahwa perjuangan perempuan tak selalu dilakukan dari podium besar.

‎Kadang, perubahan justru dimulai dari lorong kecil, dengan kerja nyata yang konsisten dan tulus.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved