TRIBUN-TIMUR.COM - Kenaikan harga cup plastik mulai menekan pelaku usaha kafe di Makassar.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh cafe Espoir Space yang berlokasi di Jalan Mapala Raya No 3C Blok A2, Kecamatan Rappocini, Makassar, Sulawesi Selatan.
Owner Espoir Space, Akbar Sumitro, menyebut lonjakan harga terjadi dalam waktu singkat dengan angka yang cukup signifikan.
“Untuk sekarang kenaikan bisa sampai 100 persen. Sebelumnya harga cup sekitar Rp1.400 sampai Rp1.550 per pcs,” ujarnya saat ditemui, Rabu (8/4/2026).
Kenaikan tersebut berdampak langsung pada biaya operasional harian. Penggunaan cup plastik dalam jumlah besar membuat beban pengeluaran ikut meningkat.
“Pemakaian setiap hari cukup banyak, jadi saat harga naik, terasa sekali di biaya,” jelasnya.
Meski biaya operasional meningkat, manajemen kafe memilih menahan harga menu demi menjaga daya beli pelanggan.
“Kalau harga dinaikkan pasti berpengaruh ke konsumen. Jadi kami tahan, tapi dampaknya ke keuntungan,” katanya.
Menurut Akbar, tidak semua pelaku usaha mampu mengambil langkah serupa. Sebagian memilih menyesuaikan harga jual untuk menutup kenaikan biaya bahan baku.
“Kalau pelaku usaha lain mungkin langsung naikkan harga. Kami masih coba bertahan,” tambahnya.
Sebagai langkah antisipasi, pihak kafe mulai mendorong pengurangan penggunaan plastik melalui program khusus. Salah satunya dengan menghadirkan promo bagi pelanggan yang membawa tumbler.
“Kami pernah jalankan Tumbler Day dengan diskon 20 persen untuk pelanggan yang membawa tumbler sendiri, biasanya di akhir pekan,” ungkapnya.
Namun, tingkat partisipasi pelanggan masih tergolong rendah. Penggunaan tumbler di luar program hanya berkisar 5 hingga 10 persen.
“Di luar program masih jarang, paling satu dua orang saja,” ujarnya.
Ia menilai kondisi ini bisa menjadi momentum untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai di lingkungan kafe.
“Kalau bisa memang diutamakan pakai tumbler, supaya sampah plastik berkurang,” jelasnya.
Ke depan, jika harga plastik terus naik, pihaknya akan menerapkan strategi subsidi silang dari bahan lain sebelum mengambil keputusan menaikkan harga menu.
“Kalau masih bisa ditutup dari bahan lain, kami tahan dulu. Kecuali semua bahan naik, kemungkinan penyesuaian harga sekitar 5 sampai 15 persen,” katanya.
Selain itu, penggunaan gelas kaca untuk pelanggan dine-in juga mulai dipertimbangkan sebagai alternatif, meski memiliki tantangan dari sisi biaya dan risiko kerusakan.
Di akhir, ia mengimbau pelanggan untuk mulai membiasakan membawa tumbler sebagai langkah sederhana menjaga lingkungan.
“Kami harap pelanggan bisa mulai bawa tumbler sendiri, karena ini juga untuk lingkungan,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu mahasiswa, Salsabila, berharap harga minuman di kafe tetap stabil.
“Semoga harganya tidak naik ji. Kami mahasiswa harus keluar budget lebih lagi,” ucapnya.
Ia mengungkapkan bahwa cafe adalah salah satu tempat favoritnya, selain untuk bersantai, juga untuk mengerjakan tugas kuliah.
"Tempat ngumpul ya di cafe," ucapnya.