Ketua TP PKK Makassar, Melinda Aksa: Semua Peran Perempuan Hebat
Ketua TP PKK Kota Makassar Melinda Aksa menganggap Khadijah binti Khuwailid, isteri Nabi Muhammad SAW menjadi inspirasi lintas zaman.
Penulis: Siti Aminah | Editor: Muh Hasim Arfah
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sosok Khadijah binti Khuwailid, isteri Nabi Muhammad SAW menjadi inspirasi lintas zaman bagi banyak perempuan, termasuk bagi Ketua TP PKK Kota Makassar Melinda Aksa.
Sosok Khadijah baginya ialah figur perempuan tangguh yang mampu menyeimbangkan peran sebagai istri dan pengusaha itu dinilai tetap relevan hingga hari ini.
Bagi Melinda Aksa, nilai-nilai yang diteladankan Khadijah menjadi cerminan perempuan modern.
Ia melihat bagaimana perempuan bisa tetap kuat dalam keluarga sekaligus berdaya di ruang publik.
“Sosok Khadijah menjadi inspirasi, bagaimana beliau bisa menjalankan peran sebagai istri dan tetap menjadi pengusaha hebat,” ujar Melinda Aksa, Senin (6/4/2026).
Dari inspirasi itulah, semangat perempuan terus dirawat.
Termasuk dalam momentum Hari Kartini yang setiap tahun diperingati.
Bagi Melinda, Kartini dan Khadijah menghadirkan semangat yang sejalan.
Baca juga: Munafri-Melinda Sowan ke JK, Rawat Silaturahmi di Momentum Idulfitri
Yakni tentang perempuan yang tidak berhenti belajar dan terus berkembang.
Di tengah kesibukan yang padat, Melinda menjalani banyak peran sekaligus.
Ia adalah seorang ibu, ia berkecimpung di dunia pendidikan, sebagai Ketua Yayasan Bosowa Education.
Saat sang suami, Munafri Arifuddin terpilih sebagai Wali Kota Makassar, peran Melinda kini
Ia juga aktif sebagai Ketua Tim Penggerak PKK.
Selain itu, ia tetap memiliki keterlibatan dalam dunia pendidikan, peran Melinda berubah.
Tanggung jawabnya kini bertambah.
Ia tidak hanya berada di ranah keluarga dan pendidikan.
Tetapi juga aktif dalam peran sosial kemasyarakatan sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar.
Perubahan itu tidak datang dengan mudah.
Ada penyesuaian yang harus dilakukan.
Baik dalam mengatur waktu, maupun dalam menentukan prioritas.
Peran-peran itu dijalani dalam keseharian yang dinamis.
Waktu menjadi hal yang sangat berharga.
Setiap hari harus diatur dengan cermat.
Namun, ia menyadari bahwa semua itu tidak bisa dijalani sendiri.
Dukungan keluarga menjadi pegangan kuat.
“Menyeimbangkan itu perlu dengan banyak dukungan, terutama dari keluarga, dari suami, dari anak-anak,” tuturnya.
Ia menggambarkan keluarga sebagai sumber energi.
Tempat kembali ketika lelah.
Tempat berbagi ketika beban terasa berat.
Meski demikian, ia juga harus membuat pilihan.
Tidak semua peran bisa dijalani dalam intensitas yang sama.
Ada yang harus dikurangi. Ada yang harus diprioritaskan.
“Bagaimana saya mengatur waktu, saya mengurangi peran saya di yayasan karena sekarang kesibukan lebih banyak sebagai Ketua TP PKK,” katanya.
Langkah itu diambil agar ia tetap bisa maksimal.
Terutama dalam perannya di PKK.
Di organisasi ini, Melinda melihat langsung bagaimana perempuan diberdayakan.
Berbagai program dijalankan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Mulai dari pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, hingga edukasi kesehatan.
“Banyak sekali, kami di PKK fokus untuk keluarga, memberikan pelatihan, pemberdayaan perempuan,” ujarnya.
Baginya, perempuan memiliki posisi strategis.
Dari keluarga, perubahan bisa dimulai.
Dari perempuan, generasi masa depan dibentuk.
Karena itu, pemberdayaan menjadi hal yang sangat penting.
Di era sekarang, Melinda menilai peluang bagi perempuan semakin terbuka.
Akses pendidikan semakin luas.
Kesempatan berkarier juga semakin besar.
Namun, semua itu kembali pada pilihan masing-masing individu.
“Saya rasa itu kembali lagi ke pribadinya, karena kesempatan sekarang sangat luas,” katanya.
Perempuan memiliki kendali atas jalan hidupnya.
Apakah ingin berkarier, fokus pada keluarga, atau menjalani keduanya sekaligus. Semua adalah pilihan yang sah.
“Apakah fokus sebagai ibu rumah tangga atau berkarier, itu kembali ke tujuannya masing-masing,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tidak ada peran yang lebih rendah.
Semua memiliki nilai, semua memiliki kontribusi.
Di akhir percakapan, Melinda menyampaikan pesan sederhana.
Ia mengajak perempuan untuk terus belajar dalam kondisi apa pun.
“Pesan saya, jangan berhenti belajar,” tegasnya.
Belajar adalah kunci untuk berkembang.
Kunci untuk tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Ia juga mengingatkan agar perempuan tidak meremehkan perannya sendiri.
Terutama bagi mereka yang memilih menjadi ibu rumah tangga.
“Jangan pernah merasa ‘saya hanya ibu rumah tangga’, itu salah sekali,” katanya.
Menurutnya, setiap peran adalah penting.
“Semua peran kita itu hebat, bagaimana kita memilih dan memaksimalkan peran itu,” tutupnya. (*)
| Resepsi Putra-Putri A Muin Fahmal–Malik Faisal Bertabur Profesor, Silaturahmi Akademisi dan Politisi |
|
|---|
| Hari Kedua Makassar Half Maraton 2026, Ribuan Peserta Taklukkan Lintasan 10 Kilometer |
|
|---|
| Potret Ribuan Warga Makassar Salat Iduladha di Lapangan Karebosi |
|
|---|
| Bosowa Peduli Kurban 98 Sapi dan 37 Kambing di 10 Provinsi |
|
|---|
| Appi, Melinda, Aliyah, dan Kapolrestabes Makassar Salat Idul Adha di Lapangan Karebosi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260406_INSPIRASI-LINTAS-ZAMAN_INSPIRASI-lintas-zaman-2026.jpg)