Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

PSBM XXVI

Gubernur Maluku Utara Cari Investor Bugis, Gubernur Sulawesi Utara: Kami Ada Tambang Emas

Menurutnya, daerah tersebut tengah dibangun sebagai pintu gerbang ekonomi baru di kawasan Indonesia Timur.

Tribun-timur.com/Faqih Imtiyaaz
POTENSI SULUT - Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus (kiri) dalam Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI Tahun 2026 di Hotel Claro Makassar pada Kamis (26/3/2026). 

TRIBUN-TIMUR.COM - Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos (43) mengajak para saudagar Bugis untuk berinvestasi di daerahnya yang tengah mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi.

Ajakan itu disampaikan saat ia memaparkan success story dalam forum PSBM XXVI di Hotel Claro Makassar, Kamis (26/3/2026).

Dalam paparannya, Sherly menyebut pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada 2025 menjadi yang tertinggi di Indonesia.

“Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara year on year mencapai 34 persen, tertinggi se-Indonesia. Ini terjadi karena hilirisasi nikel,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Maluku Utara saat ini memproduksi sekira 40 hingga 50 persen nikel Indonesia, bahkan sekira 20 persen dari produksi nikel dunia.

Meski demikian, ia mengakui pembangunan di daerahnya masih menghadapi sejumlah tantangan. Terutama dalam pemerataan ekonomi dan kesiapan sektor pendukung.

Ia menyebut kebutuhan pangan dan logistik di Maluku Utara masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah.

“Sekira 80 persen kebutuhan Maluku Utara masih dipasok dari luar, terutama dari Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan,” katanya.

Karena itu, ia mengundang para pengusaha Bugis yang memiliki pengalaman di sektor perdagangan, pelayaran, logistik, hingga peternakan untuk melihat langsung peluang usaha di wilayahnya.

Sherly menilai sektor pangan menjadi salah satu peluang investasi yang sangat menjanjikan.

Dengan jumlah penduduk sekira 1,4 juta jiwa, kebutuhan ayam di Maluku Utara mencapai 25.000 ton per tahun.

Jika diasumsikan dengan harga Rp40 ribu per kilogram, nilai pasar ayam diperkirakan mendekati Rp1 triliun per tahun.

“Padahal harga ayam di Maluku Utara sekarang bisa Rp50 ribu sampai Rp55 ribu per kilo karena biaya logistik tinggi. Artinya peluang membangun peternakan ayam masih sangat besar,” jelasnya.

Hal serupa juga terjadi pada komoditas telur.

Dengan asumsi satu orang mengonsumsi satu butir telur per hari, kebutuhan tahunan mencapai sekitar 400 juta butir.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved