Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Cap Go Meh

Walubi Sulsel Bagi Sembako Bertepatan Ramadan, Roy Ruslim: Kesempatan Berbagi Kasih

Festival Cap Go Meh Makassar juga diisi dengan aksi sosial berupa penyerahan paket sembako kepada warga prasejahtera.

Tayang:
Penulis: Siti Aminah | Editor: Muh Hasim Arfah
Tribun-timur.com
PAKET SEMBAKO- Penyerahan paket sembako kepada warga prasejahtera di sela-sela Festival Cap Go Meh di kawasan Pecinan, Jl Sulawesi, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Selasa (3/3/2026). Festival Cap Go Meh adalah inisiasi dari  DPD Walubi Sulawesi Selatan bersama Vihara Girinaga.  

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -  Momentum perayaan Cap Go Meh Makassar Zou Zou 2577/2026 tak hanya diramaikan dengan atraksi budaya dan festival UMKM.

Festival ini juga diisi dengan aksi sosial berupa penyerahan paket sembako kepada warga prasejahtera.

Festival Cap Go Meh yang digelar DPD Walubi Sulawesi Selatan bersama Vihara Girinaga ini berlangsung di kawasan Pecinan, Jl Sulawesi, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Selasa (3/3/2026). 

Sembako diserahkan langsung oleh Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah dan Panitia Cap Go Meh Zou Zou. 

Ketua Panitia, Roy Ruslim menyampaikan, kegiatan berbagi tersebut menjadi bagian penting dari perayaan hari ke-15 Tahun Baru Imlek. 

Terlebih, Cap Go Meh tahun ini bertepatan dengan masuknya bulan suci Ramadan.

Baca juga: Bertepatan Ramadan, Cap Go Meh di Makassar Jadi Simbol Persatuan

“Karena bertepatan dengan bulan Ramadan, ini menjadi kesempatan bagi kami untuk berbagi kasih. Tadi ada pembagian sembako kepada warga prasejahtera Kelurahan Wajo, juga paket buka puasa bagi pengunjung yang membutuhkan,” ujarnya.

Ia menegaskan, semangat berbagi dalam Cap Go Meh sejalan dengan nilai kebersamaan dan kemanusiaan yang ingin terus dirawat di tengah keberagaman masyarakat.

Tahun ini terasa istimewa karena Cap Go Meh bertepatan dengan suasana Ramadan. 

Nuansa spiritual dari dua tradisi besar berpadu dalam satu panggung kebersamaan.

Salah satu momen paling menggetarkan adalah kolaborasi antara tabuhan bedug dan gendang barongsai. 

Biasanya, dentuman gendang hanya mengiringi atraksi barongsai yang lincah dan enerjik. 

Namun saat itu, irama tersebut menyatu dengan tabuhan bedug yang identik dengan panggilan ibadah umat Muslim.

“Bulu kuduk kita berdiri melihatnya. Itu pertama kali dan sungguh luar biasa. Doa-doa yang dipanjatkan saudara kita Muslim bisa dipadukan dengan gendang barongsai. Selama ini kita hanya melihat barongsai saja, tapi malam ini harmonis dan sangat indah,” tutur Pdt Roy Ruslim

Ketua DPD Walubi Sulsel, Henry Sumitomo, turut mengapresiasi antusiasme masyarakat dalam kegiatan tersebut. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved