Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

'Medali Emas Barcelona' AGH Ambo Dalle untuk Jenderal Tri Sutrisno

Salah satunya, tasbih dari pendiri Darul Dakwah wal Irsyad (DDI), Anre Gurutta Haji (AGH) Abdul Rahman Ambo Dalle (1900-1996).

Editor: Ansar
Tribun-timur.com/Ist
TRY SUTRISNO WAFAT - KH Abdul Rahman Ambo Dalle dan Try Sutrisno. Ambo Dalle punya kedekatan khusus dengan Try Sutrisno. 

WAKIL Presiden ke-6 (1993-1998) Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno (1935-2026), Senin (2/3/2026) pagi, wafat dengan tenang di usia 90 tahun.

Sebagai penghormatan, selepas zuhur, Presiden Prabowo Subianto (74), memimpin  Apel Persada (upacara pemakaman) Panglima ke-9 ABRI (1988-1993) itu, di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

Banyak kenangan dari sosok humble dan murah senyum, Try Sutrisno di Sulawesi Selatan.

Salah satunya, tasbih dari pendiri Darul Dakwah wal Irsyad (DDI), Anre Gurutta Haji (AGH) Abdul Rahman Ambo Dalle (1900-1996).

Tasbih 99 biji itu diberikan Gurutta sekira akhir 1987 di Pondok Pesantren Manahilil Ulum DDI Kaballangang, Pinrang, sekitar 206 km utara Kota Makassar.

“Pak itu Pak Try, belum jadi Panglima ABRI, dan Pak Palaguna jadi Wakil Gubernur setelah jadi Bupati Pinrang,” ujar HM Aksa Mahmud (80), dewan pembina Mustasyar PB DDI, kepada Tribun, di momen Haul ke-26 AGH Ambo Dalle di Tobaraka, Minggu (30/11/2025) lalu.

Di momen itu pula, kata Aksa, Try Sutrisno yang kala itu masih menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), didaulat menjadi “anak angkat Gurutta.

Di momen itu, Jenderal Try minta didoakan supaya bisa mengemban amanat bangsa dan negara.

Setelah kembali ke Jakarta, beberapa bulan kemudian, Try Sutrisno ditunjuk Presiden Soeharto menjadi Panglima Angkatan Bersenjata RI (ABRI) ke-15.

Try mulai menjabat Panglima TNI 27 Februari 1988 hingga 19 Februari 1993.

Di masa itu, secara ex officio jabatan KSAD juga merangkap sebagai Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Indonesia.

Badminton kala itu, jadi salah satu olahraga paling populis dan menyajikan banyak prestasi internasional.

Try menjabat Ketua Umum ke-6 PBSI selama dua periode, 1985-1989 dan 1989-1993.

Di periodenya lah, erah kedua kebangkitan bulu tangkis Indonesia, capai puncak.

Indonesia berhasil memenangkan Piala Sudirman di Jakarta (1989), dan Susi Susanti menjuarai tunggal putri All England (1990, 1991, dan 1993).

Bahkan, medali emas pertama Indonesia di Olimpiade diraih dari cabang bulu tangkis.

Pemain tunggal putri Susi Susanti dan Alan Budikusuma (tunggal putra), persembahkan dua emas di Olimpiade Barcelona 1992. Keduanya lalu dijuluki “pengantin olimpiade Barcelona.”

Aksa bercerita, saat olimpiade 1992 itulah, Try Sutrisno selalu membawa tasbih pemberian gurutta.

Olimpiade digelar mulai 25 Juli hingga 9 Agustus 1992.

Perlawanan Alan Budikusuma, kala itu, lebih ringan. Pasalnya, tim putra all indonesian final. Alan melawan rekannya, Ardi B Wiranata.

Namun di final tunggal putri, Susi melawan andalan tangguh Korea Selatan, Bang Soo Hyun. Perjuangan berat dimulai di babak kedua.

“Poinnya kejar-kejaran, Susi menang dulu set pertama, lalu kalah set kedua, saat itu, Pak Try katanya hanya terus pegang tasbih pemberian Gurutta,” ujar Aksa mengisahkan pengalaman ‘spiritual’ tasbih Barcelona itu” dari Try Sutrisno, saat bertemu awal dekade 2000-an di Jakarta.

Sebelumnya, kata Aksa, sekitar 1995 hingga 1996, Gurutta AmBo Dalle, juga pernah menceritakan ini ke Aksa, saat proses masa pengobatan rutin Gurutta di Makassar.

Aksa menyebut, bersama Gubernur Sulsel HZB Palaguna, dia mendapat tanggung jawab untuk menemani masa pengobatan Gurutta selama di Makassar.

“Pak Try selalu mengontrol kesehatan Gurutta melalui Pak Palaguna,” ujar Aksa. Dari “pengantin olimpiade Barcelona.

Try berada di barisan penonton VVIP di gelanggang badminton. Sedangkan, pelatih tim putri,  Liong Chiu Shia, di bench pinggir lapangan.

Setelah memastikan dua emas dari cabang badminton, Try Sutrisno, langsung menelpon Gurutta Ambo Dalle di Pinrang.

Bagi Indonesia, emas dari pengantin olimpiade Barcelona itu, monumental dan bersejarah. Indonesia pertama kali mengikuti Olimpiade di Helsinki, Finlandia tahun 1952.

Namun, medali itu diraih setelah 40 tahun partisipasi Indonesia di Olimpiade.

Perjuangan Indonesia meraih emas itu, juga disaksikan melalui siaran langsung TVRI di Tanah Air.

Setahun, setelah raihan emas dan prestasi membanggakan itu, Try Sutrisno disetujui Soeharto menjadi wakil presiden ke-6 Indonesia.

Try Sutrisno mendampingi Soeharto mulai 11 Maret 1993 hingga 11 Maret 1998.

Try menggantikan Soedharmono (1988-1993) dan digantikan oleh BJ Habibie (1998-1999).

Sekira empat bulan setelah dilantik menjadi Wakil Presiden RI, Try Sutrisno menyempatkan diri bertemu langsung Anregurutta.

Momen itu, terjadi Selasa 3 Agustus 1993. Acaranya dikemas dalam acara silaturahmi dengan alim ulama Sulsel, di Balai Kemanunggalan ABRI-Rakyat, Jl Jenderal Sudirman, Makassar.

Secara khusus, sepanjang acara Try Sutrisno duduk berdampingan dengan pendiri/pimpinan DDI (Darul Da'wah Irsyad) AGH Abdul Rahman Ambo Dalle, yang kala itu sudah berusia 103 tahun.

Selasa 3 Agustus 1993 - Wakil Presiden Try Sutrisno menjabat dan memapah tangan Pendiri DDI AGH Ambo Dalle di acara silaturahmi nasional di balai Kemanunggalan ABRI-Rakyat, Jl Jenderal Sudirman, Makassar, Selasa (3/8/1993).

Foto ini dimuat harian Angkatan Bersendjata, 3 Agustus 1993 Halaman 8 Kolom 1. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Perpustakaan Nasional RI.(thamzil thahir)

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved