Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

RT RW Makassar

RT05 La’latang Dorong Urban Farming Lewat Program Kompos Mandiri

RT05 La’latang Makassar jalankan program kompos mandiri untuk pengelolaan sampah dan urban farming.

Tayang:
Tribun-Timur.com/Renaldi
KOMPOS MANDIRI - Ketua RT05/RW03 Kelurahan La’latang, Ahmad R, saat ditemui di Kantor Lurah La'latang, Jl Korban 40 ribu jiwa, Kamis (29/1/2026). Kompos mandiri jadi program RT 05. 

Ringkasan Berita:
  • RT05 La’latang menjalankan program kompos mandiri dari sampah organik warga.
  • Warga mulai memilah sampah organik dan nonorganik untuk mengurangi sampah ke TPA.
  • Program diarahkan untuk mendukung urban farming dan kemandirian lingkungan RT.

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - RT05/RW03 Kelurahan La’latang, Kota Makassar, mulai mengembangkan program pengelolaan sampah organik melalui pembuatan kompos mandiri. Program ini diarahkan untuk mendukung konsep urban farming di lingkungan warga.

Ketua RT05/RW03 Kelurahan La’latang, Ahmad R, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan rencana pemerintah yang dijalankan di tingkat RT. Fokus awal kegiatan adalah sosialisasi pemilahan sampah kepada warga.

"Termasuk juga pembuatan kompos, yakni pemilahan sampah organik untuk dijadikan bahan utama pembuatan kompos,” katanya saat ditemui di Kantor Lurah La'latang, Jl Korban 40 ribu jiwa, Kamis (29/1/2026).

Menurut Ahmad, program tersebut telah berjalan hampir satu bulan dan mulai menunjukkan progres positif. 

Sosialisasi dilakukan kepada sejumlah warga, terutama terkait pemisahan sampah organik dan nonorganik.

“Saat ini kami sudah melakukan sosialisasi kepada beberapa warga, dan sampah-sampah organik tersebut sudah mulai disimpan secara terpisah. Saya menamakan ini sebagai sampah organik,” ungkapnya.

Selain itu, Ia juga membagikan karung kepada warga untuk menampung sampah nonorganik seperti plastik, botol, dan kaleng.

"Karung tersebut digunakan untuk menyimpan sampah nonorganik seperti plastik, botol, dan kaleng, sehingga dapat mengurangi sampah yang dibuang ke TPA,” ujarnya.

Ia menambahkan, program pemilahan sampah organik kini masih dalam tahap uji coba dan menunggu hasil.

"Mungkin satu bulan ke depan sudah bisa terlihat hasilnya,” kata dia.

Saat ini, proses pembuatan kompos masih dilakukan secara alami dengan peralatan sederhana.

"Dimana sampah organik disimpan dalam satu wadah. Saat ini wadah yang kami miliki masih menggunakan pipa, dan pada setiap lapisan diberi tanah,” jelasnya.

Ke depan, ia merencanakan metode yang lebih cepat dengan memanfaatkan cairan molase untuk mempercepat proses penguraian sampah organik.

"Istilahnya saya sempat lupa, yaitu cairan molase, yang berfungsi mempercepat penguraian sampah organik,” katanya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved