Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Konflik PBNU

Gus Yahya Dipecat, PCNU Takalar Tunggu Hasil, Makassar: Jangan Ikut Mendukung

Gus Yahya diberhentikan dari posisi Ketua Umum PBNU berdasarkan surat edaran nomor 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/2025.

Tayang:
Penulis: Makmur | Editor: Ansar
Tribun-timur.com/Makmur
KETUA PBNU - Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Takalar Abdul Hamid ditemui di Kantor Baznas Takalar, Pattallassang, Kamis (27/11/2025). Abdul Hamid mengatakan tidak punya hak menilai pemecatan Ketua Umum PBNU.  

Ia menegaskan,  apa yang berlangsung saat ini bukanlah konflik terbuka, melainkan dinamika organisasi yang wajar terjadi dalam sebuah jam’iyah besar seperti NU.

Menurut Usman, dinamika di tingkat pusat secara tidak langsung memengaruhi struktur di bawahnya, termasuk PWNU dan PCNU. 

Namun, ia menilai pengaruh tersebut masih dalam batas wajar karena NU adalah organisasi ulama yang menjunjung tinggi keteladanan dan moralitas.

“Jam’iyah sejati sebenarnya tidak kaget dengan dinamika seperti ini. Para pemimpin pusat (para kiai dan ulama) adalah patron kita semua, bukan hanya bagi warga NU, tapi juga umat Islam secara umum,” ujarnya.

Usman mengingatkan, Gus Dur pernah menyebut, dalam NU setiap turbulensi awalnya bisa terasa panas, tetapi selalu berakhir dengan gegeran, dengan suasana cair dan penuh tawa. 

Itu sebabnya, ia mengimbau warga NU agar tidak ikut memperuncing keadaan.

“Yang paling tepat dilakukan hari ini adalah tidak ikut menyebarkan informasi yang bisa memperkeruh suasana. Jangan ikut mendukung salah satu pihak atau membagikan informasi yang tidak membawa manfaat bagi organisasi,” tegasnya.

Hingga saat ini, Usman mengungkapkan tidak ada satu pun struktur NU di level bawah—PWNU, PCNU, atau badan otonom—yang ikut memberikan reaksi berlebihan.

Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa warga NU memahami benar bahwa para kiai akan menemukan penyelesaian terbaik.

Ia juga menyoroti sikap beberapa PWNU seperti DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat yang mendorong PBNU mengedepankan islah.

Menurutnya, seruan tersebut sangat menenangkan bagi para santri dan pengurus di daerah.

Di sisi lain, Usman menilai dinamika menjelang akhir masa khidmat PBNU 2022–2027 ini juga tidak lepas dari berbagai gebrakan besar yang dilakukan kepengurusan hasil Muktamar 2021 di Lampung, terutama dalam penataan organisasi dan digitalisasi program.

“Empat tahun terakhir, PBNU sangat luar biasa dalam melakukan konsolidasi dan penataan tata kelola organisasi. Sistem kaderisasi dibenahi, pemusyawaratan ditata ulang, dan NU diarahkan untuk menyesuaikan diri dengan era digital. Perubahan cepat ini mungkin membuat sebagian pengurus yang terbiasa dengan cara-cara konvensional menjadi kaget,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam proses perubahan besar tersebut, dinamika kecil yang tak terselesaikan bisa saja muncul dan menumpuk.

Bagi pengurus di tingkat cabang seperti dirinya, dinamika hari ini justru dapat menjadi momentum evaluasi dan pendewasaan organisasi.

“Bagi kami, apa yang terjadi hari ini juga memberi manfaat agar struktur di bawah lebih memahami bahwa NU adalah organisasi besar yang terus bergerak maju. Dan dinamika adalah bagian dari proses itu,” tutup Usman. (*)

 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved