Pelajar di Pedalaman Walenrang Barat Luwu Belum Tersentuh Program MBG
Padahal, setiap hari mereka harus berjalan kaki berkilo-kilometer melewati jalur pegunungan demi bisa bersekolah.
Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU – Puluhan siswa SMP Negeri Paranta di Desa Ilan Batu Uru, Kecamatan Walenrang Barat, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, hingga kini belum menikmati Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Padahal, setiap hari mereka harus berjalan kaki berkilo-kilometer melewati jalur pegunungan demi bisa bersekolah.
Sekolah yang berada di wilayah pedalaman perbatasan Luwu-Toraja Utara itu masih sulit dijangkau kendaraan akibat kondisi infrastruktur yang buruk.
Jalan menuju sekolah hanya bisa dilalui kendaraan roda dua dengan kondisi tanah berbatu, berlubang, dan berlumpur saat hujan turun.
Di beberapa titik, jalur menuju sekolah berada di sisi perbukitan.
Topografinya diisi tanjakan curam dan tikungan tajam yang rawan menyebabkan pengendara terjatuh.
Kondisi itu membuat distribusi logistik menuju wilayah tersebut juga tidak mudah.
Kendaraan roda empat hingga kini belum bisa menjangkau SMP Negeri Paranta karena akses jalan yang sempit dan rusak.
Bagi para siswa, keterbatasan itu menjadi rutinitas yang harus dihadapi setiap hari.
Sebagian siswa bahkan harus berangkat sejak pukul 05.30 Wita agar bisa tiba tepat waktu di sekolah.
Mereka berjalan kaki hingga enam kilometer melewati jalan setapak, kebun warga, sungai kecil, dan jalur berbatu di tengah pegunungan.
Di tengah perjuangan itu, para siswa berharap pemerintah dapat menghadirkan Program Makan Bergizi Gratis di sekolah mereka.
Arel, salah seorang siswa SMP Negeri Paranta, mengaku ingin merasakan program MBG seperti siswa di wilayah lain.
“Kami berharap ke depannya sekolah kami ini mendapatkan MBG karena sekolah kami terletak jauh,” kata Arel, Senin (25/5/2026) kepada Tribun-Timur.com.
Ia berharap pemerintah tidak hanya menghadirkan program makan gratis, tetapi juga memperhatikan akses jalan menuju desa mereka.
“Kami juga berharap jalan dan sekolah kami diperbaiki oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.
Harapan serupa disampaikan Aini.
Ia mengatakan siswa di daerah terpencil juga ingin mendapatkan perhatian yang sama seperti sekolah di perkotaan.
“Kami ingin seperti siswa lainnya bisa menikmati MBG, seperti di ibu kota kecamatan atau daerah yang mudah dijangkau,” pintanya.
Menurut Aini, pilihan makanan di sekolah sangat terbatas karena lokasi sekolah jauh dari pusat keramaian.
Sebagian siswa bahkan memilih menahan lapar hingga pulang ke rumah karena tidak membawa cukup uang saku.
Kepala SMP Negeri Paranta, Usman, mengatakan siswanya sangat membutuhkan program MBG karena harus menempuh perjalanan jauh setiap hari.
“Anak-anak kami ini seharusnya mendapat MBG karena mereka harus jalan kaki ke sekolah, begitu juga kalau pulang. Jarak tempuh mereka kebanyakan berkilo-kilo,” bebernya.
Menurutnya, asupan makanan bergizi sangat penting untuk menjaga stamina siswa yang harus melewati medan berat setiap hari.
“Kalau mereka mendapat asupan MBG itu sangat membantu mereka sebagai penambah energi agar tidak kelelahan di jalan,” akunya.
Selain persoalan MBG, Usman berharap pemerintah pusat juga memperhatikan kondisi infrastruktur di wilayah pedalaman tersebut agar akses pendidikan masyarakat menjadi lebih mudah.
Laporan Jurnalis Tribun-Timur.com, Muh Sauki Maulana
| Siswa di Pedalaman Walenrang Barat Luwu Belum Tersentuh Program MBG |
|
|---|
| Semangka hingga Selada Diburu Dapur MBG, Petani Bupon Diminta Manfaatkan Peluang |
|
|---|
| Penyaluran MBG 3B Tepat Sasaran, Wabup Gowa Minta Penyuluh KB Kerja Ekstra |
|
|---|
| Sepak Terjang Mayjen Bangun Nawoko Pangdam XIV/Hasanuddin, Ungkap Fakta Keterlibatan TNI di MBG |
|
|---|
| Kampus Bukan Dapur Negara: Menolak Reduksi Fungsi Perguruan Tinggi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Suasana-kelas-siswa-SMP-Negeri-Paranta-di-Desa.jpg)