Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Inilah 9 Kecamatan Rawan Longsor dan Kebakaran Menurut BPBD Luwu

Sebab musim kemarau menyebabkan retakan tanah akibat penyusutan ekstrem karena kehilangan kadar air.

Tayang:
Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Ansar
Tribun-timur.com/Muh. Sauki Maulana
MUSIM KEMARAU - Koordinator TRC BPBD Luwu, Sulawesi Selatan, Karyadi saat menyisit lokasi banjir di dusun Cappie, Kecamatan Larompong. Karyadi mengaku terdapat 9 kecamatan yang dipetakan menjadi daerah rawan longsor di Luwu. 

TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mengingatkan potensi bencana alam saat peralihan musim.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Makassar memperkirakan bulan April-Mei menjadi peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Luwu, Karyadi, menerangkan peralihan ke musim kemarau dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti longsor.

Sebab musim kemarau menyebabkan retakan tanah akibat penyusutan ekstrem karena kehilangan kadar air.

Retakan tanah inilah, sambung Karyadi, yang berpotensi tinggi menjadi cikal bakal terjadinya longsor karena menjadi celah bagi masuknya air.

"Jadi antisipasi setelah kemarau panjang itu adalah retakan pada tanah. Ditambah hujan dengan intensitas tinggi yang biasanya kerap menjadi pemicu longsor," bebernua kepada Tribun-Timur.com, Minggu (3/5/2026) sekitar pukul 10.43 Wita pagi.

Kendati demikian, Karyadi menyebut pihaknya telah memetakan 9 kecamatan rawan longsor.

Dari kesembilan kecamatan itu, rata-rata berada di wilayah pegunungan seperti Kecamatan Suli Barat, Bajo Barat, Latimojong, Bastem, serta Bastem Utara.

Sementara lainnya merupakan wilayah pesisir dengan hinterland berbukit seperti Kecamatan Walenrang Barat, Walenrang Utara, Larompong, Larompong Selatan, dan Bupon.

"Sehingga langkah mitigasinya, bagi masyarakat agar menghindari terutama jalan-jalan di kecamatan yang rawan longsor. Terutama wilayah pegunungan dan perbukitan," ungkapnya.

Karyadi mengimbau warga untuk tidak lagi menunda pembuatan wadah penampungan air.

Mengingat debit air tanah yang berpotensi menyusut, cadangan air di rumah menjadi sangat krusial.

"Kami menyarankan warga mulai membuat penampungan air, baik itu tandon maupun bak air permanen. Selain itu, pembuatan sumur resapan sangat penting agar air hujan tidak terbuang percuma dan bisa menjadi cadangan di dalam tanah," bebernya.

Bukan hanya soal air, ancaman kebakaran juga menjadi perhatian serius TRC BPBD Luwu.

Karyadi dengan tegas melarang aktivitas pembakaran sampah atau pembukaan lahan dengan api.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved