Pelaut Sulsel Hilang di Selat Hormuz
Kenangan Terakhir Istri Capt Miswar, Hampir Setiap Hari Video Call dari Kapal
Pelaut asal Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, itu dikenal hampir selalu menyempatkan diri melakukan video call setiap hari
Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU - Kebiasaan Capt Miswar Maturusi (50) melakukan panggilan video dengan keluarganya kini menjadi kenangan yang paling dirindukan oleh sang istri, Marliani Ahmad (47).
Pelaut asal Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, itu dikenal hampir selalu menyempatkan diri melakukan video call setiap hari, meski sedang bekerja di kapal di luar negeri.
“Bapak itu tidak suka telepon biasa, dia lebih suka video call. Hampir setiap hari video call,” kata Marliani dengan suara parau saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Pattedong, Kabupaten Luwu, Senin (9/3/2026) sekitar pukul 15.06 Wita sore.
Menurut Marliani, panggilan video itu biasanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu, menyesuaikan dengan jadwal kerja Miswar di kapal.
Ia kerap menghubungi keluarga pada pagi hari, sore, atau menjelang waktu tidur sekitar pukul 21.00 Wita.
“Biasanya pagi, sore, atau menjelang tidur sekitar jam sembilan malam,” ujarnya sambil ditemani anak keduanya, Muhammad Ayatullah Miswar.
Dalam panggilan video itu, Capt Miswar kerap memperlihatkan aktivitasnya di kapal.
Tak jarang, Marliani tetap melayani pelanggan di toko bangunan miliknya sambil tetap berbincang dengan suaminya melalui layar ponsel.
“Kadang saya lagi jaga kasir di toko bangunan, pasti video call," ujarnya.
Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang menyampaikan, insiden tersebut terjadi pada Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat.
Lokasinya berada di perairan Selat Hormuz, di antara wilayah Persatuan Emirat Arab (PEA) dan Oman.
Informasi awal mengenai kejadian itu diterima Kemlu melalui Kedutaan Besar RI di Abu Dhabi dan Muscat.
“Pada 6 Maret 2026, Kementerian Luar Negeri melalui KBRI Abu Dhabi dan KBRI Muscat menerima laporan terkait insiden yang menimpa satu tugboat bernama Musafa II berbendera Persatuan Emirat Arab,” demikian pernyataan resmi Yvonne yang dikutip Senin (9/3/2026).
Kapal Mussafah II diketahui memiliki tujuh awak kapal, termasuk empat WNI anak buah kapal (ABK), serta membawa enam teknisi, di antaranya satu WNI.
Saat kejadian, kapal tersebut sedang melakukan pengecekan terhadap kapal kontainer Safin Prestis yang mengalami kerusakan.
“Berdasarkan saksi mata, Musafa II mengalami ledakan yang menyebabkan kapal terbakar. Pada saat kejadian, empat WNI ABK berada di kapal Musafa II dan satu WNI teknisi sedang berada di kapal kontainer Safin Prestis,” lanjutnya.
Laporan Jurnalis Tribun-Timur.com, Muh Sauki Maulana
| Nasib 2 Kru Luwu Belum Jelas, DPRD Sulsel Minta Keluarga Desak Tanggung Jawab Perusahaan |
|
|---|
| Keluarga Pelaut Sulsel Tunggu Kabar dari Selat Hormuz |
|
|---|
| Chief Engineer Asal Luwu Masih Hilang |
|
|---|
| Keberadaan Kru Kapal Musaffah 2 Masih Nihil Usai Alami Insiden Ledakan, Pencarian Masuki Hari Keenam |
|
|---|
| Anak Capt Miswar Tenangkan Ibunya Usai Insiden Kapal Musaffah 2, Minta Tak Percaya Info di Medsos |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Capten-Miswar-2026-66.jpg)