Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Gaji Guru

Puluhan Tahun Mengabdi, Guru Honorer di Pelosok Bone Hanya Digaji Rp300–550 Ribu

Seorang guru honorer di salah satu taman kanak-kanak (TK) di Bone yang enggan disebutkan namanya menceritakan suka dukanya.

Tayang:
Penulis: Wahdaniar | Editor: Alfian
Tribun-timur.com
GAJI GURU - Ilustrasi guru honorer, Guru honorer di pelosok Bone hanya digaji Rp 300–550 ribu. 

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE – Hidup sebagai guru honorer di pelosok memang tidak mudah.

Hal itu dirasakan oleh sejumlah guru honorer di Kabupaten Bone yang hingga kini masih menerima upah jauh dari kata layak, namun tetap memilih bertahan demi kecintaan pada dunia pendidikan.

Seorang guru honorer di salah satu taman kanak-kanak (TK) di Bone yang enggan disebutkan namanya menceritakan suka dukanya selama bertahun-tahun mengabdi. 

Setiap bulan ia menerima gaji sebesar Rp 550 ribu, tanpa potongan apa pun.

“Suka dukanya ya kalau honorer begitu, gajinya ya begitu-begitu saja. Di TK saya, 550 per bulan. Tidak ada potongan, full itu 550 per bulan. Dikasih cukup saja karena keperluan juga banyak, jadi bagaimana saja dikasih cukup,” ujarnya saat dikonfirmasi Tribun-Timue.com via telfon, Rabu (4/3/2026).

Setiap hari ia harus menempuh perjalanan sekitar 3 kilometer dari rumah ke sekolah menggunakan sepeda motor.

Baca juga: Pergunu Sulsel: Gaji Guru Harus Sama atau Lebih Tinggi dari Profesi Lain

Meski harus berhemat di tengah kebutuhan yang terus meningkat, ia tetap menjalani tugas mengajar dengan ikhlas.

“Harapannya supaya lebih diperhatikan honorer-honorer yang berada di pelosok-pelosok begitu,” harapnya.

Gaji Rp 300 ribu per bulan, tetap memilih mengajar. 

Kisah serupa juga datang dari guru honorer lain yang enggan disebutkan namanya.

Ia mengaku hanya menerima Rp 300 ribu per bulan sebagai upah mengajar.

Nominal itu bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, terlebih ia harus menghidupi anak dan istri.

“Untuk kebutuhan sehari-hari tidak cukup, hanya cukup di biaya bensin itu,” ungkapnya.

Untuk menutupi kebutuhan hidup, ia bekerja sampingan sebagai petani.

“Saya berkebun menanam jagung. Karena kalau hanya dari gaji guru tidak ada yang bisa diharapkan. Tapi tidak bisa berhenti karena sudah dari dulu cita-cita mau jadi guru. Jadi diterima saja,” ujarnya.

Baca juga: Insentif Guru Dikabarkan Naik, Kadisdik Gowa: Belum Ada Juknis dari Pusat

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved