Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Suara Perempuan dari Bantaeng

Beban Ganda Perempuan di Sekitar Smelter

Dari lahan rumput laut ke utang bank, perempuan di dekat smelter Bantaeng, Sulsel memikul beban ganda yang kian berat...

TRIBUN TIMUR/Sukmawati Ibrahim
BURUH RUMPUT LAUT - Buruh perempuan mengikat rumput laut di Dusun Balla Tinggia, Desa Papan Loe, Kecamatan Pa’jukukang, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Kamis (13/11/2025). Upah mereka Rp2.500 per bentang atau rata-rata Rp25 ribu per hari. Sebelumnya, sebagian besar memiliki lahan sendiri dengan pendapatan Rp4-5 juta sekali panen, namun lahan dijual ke Huadi Group saat smelter mulai dibangun di wilayah tersebut sekitar 2013. 

Ringkasan Berita:
  • Liputan ini menyorot kisah perempuan di Desa Papan Loe, Bantaeng, Sulsel. Hidupnya berubah drastis sejak smelter beroperasi. 
  • SW kehilangan lahan rumput laut, usaha keluarga terhenti, suami di-PHK, utang bank.
  • L (52) dulu meraih puluhan juta dari panen kini hanya mendapat belasan ribu sebagai buruh ikat rumput laut. 
  • K (26) harus menjadi ibu, istri, sekaligus pencari nafkah dengan upah Rp25 ribu per hari.
  • Perempuan-perempuan ini menanggung beban ganda: nafkah, utang, dan kesehatan.

Perempuan Memikul Beban Ganda: Nafkah, Utang, dan Kesehatan

TRIBUN-TIMUR.COM, BANTAENG - Sebelum ada smelter, SW mengelola lahan rumput laut milik keluarga di Bantaeng. Meski hidup sederhana tapi cukup. Dari rumput laut, SW memperoleh sekitar Rp3 juta per bulan. Suaminya bekerja mencetak batu merah dengan penghasilan kisaran Rp1 jutaan per bulan. Mereka hidup tanpa utang bank. 

Namun sejak smelter mulai beroperasi pada 2019, semuanya berubah drastis. SW mengaku hasil panen rumput laut menurun, hingga akhirnya lahan dijual. Usaha batu merah milik keluarga tempat suaminya bekerja pun terhenti karena air tanah berkurang dan sumur mengering. 

Suami SW sempat bekerja di smelter PT Huadi Nickel-Alloy dengan gaji Rp6-7 juta per bulan sejak 2021. Saat itu kehidupan keluarga membaik, mereka mengambil pinjaman bank dan membeli mobil baru. Namun pada pertengahan 2025, suaminya di-PHK. 

Belakangan suaminya sering sakit dan tak lagi bisa mencari pekerjaan berat. Kini suaminya lebih banyak berdiam di rumah, berharap ada panggilan lagi.

Penghasilan hilang meninggalkan utang bank menumpuk hingga Rp10 juta, dengan cicilan Rp2,5 juta per bulan. Mobil yang dibeli SW akhirnya dijual untuk membayar cicilan.

“Kami kehilangan lahan rumput laut, kehilangan pekerjaan, polusi, penyakit, dan utang,” kata SW.

Dari Petani ke Buruh Ikat

Apa yang dialami SW juga dialami warga Desa Papan Loe lainnya. Dua mata pencaharian utama mereka, petani rumput laut dan usaha cetak batu merah, kini nyaris lenyap.

Desa Papan Loe berada di Kecamatan Pa’jukukang. Kecamatan seluas 48,90 km⊃2; ini dikenal penghasil rumput laut, memiliki empat blok zona lahan, dengan 274 petani rumput laut.

Salah satunya L (52) dan suaminya I (53), warga Balla Tinggia, Desa Papan Loe. Ia memiliki lokasi di Dusun Panoang, Desa Baruga, dengan luas are 62, panjang bentang 30 meter, dan jumlah 960 bentang. 

Lokasinya berada di blok 1. Lahan tersebut kemudian dijual ke perusahaan karena sudah tidak bisa lagi digunakan. Harapan I bisa dipekerjakan di perusahaan setelah tak lagi menggarap rumput laut tak terwujud.

L (52) mengenang janji yang pernah ia dengar dari perusahaan smelter itu. “Umur tak jadi soal, asal tenaga masih kuat.” Ucapannya mengalir pelan saat ditemui jurnalis tribun-timur.com, 14 November 2025, di halaman rumah ibunya. Di sekelilingnya, lima perempuan duduk melingkar, salah satunya sang ibu yang menua. Setengah jam lagi azan Zuhur berkumandang, tapi tangan perempuan ini tetap sibuk merajut tali rumput laut, demi membantu suami mencari nafkah.

Dulu, saat masih menanam rumput laut pada 2002, hidupnya berkecukupan. L pertama kali membeli bibit di Jeneponto bersama warga lainnya di desa itu. Dari 2002 hingga 2016, hasilnya melimpah. “Paling sedikit bisa mendapat Rp10-20 juta bersih per panen,” ujar L. 

Puncaknya pada 2008, ia meraih keuntungan hingga Rp80 juta. Kini setelah tak lagi punya usaha rumput laut, suaminya akhirnya kerja serabutan demi memenuhi kebutuhan keluarga, kadang jadi sopir pete-pete, kadang sopir truk galian C. Penghasilan tak menentu kadang Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per hari. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved