Imlek 2026
Imlek 2026 Dinilai Istimewa, KCBI Sulsel: Momentum Harmoni Lintas Agama
Imlek 2026 tak sekadar perayaan Tahun Baru Cina. Tahun ini dinilai istimewa karena berdekatan dengan Ramadan, Paskah, dan Nyepi.
Penulis: Rudi Salam | Editor: Sukmawati Ibrahim
Ringkasan Berita:
- Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili pada 17 Februari 2026 dinilai istimewa karena berdekatan dengan Ramadan 1447 Hijriah, Paskah, dan Nyepi.
- Ketua DPD KCBI Sulsel Erdy Wijaya menyebut momentum ini sebagai cerminan nyata keberagaman Indonesia.
- Ia menekankan pentingnya sikap inklusif, kehangatan, serta menanggalkan ego demi membangun kebersamaan dalam masyarakat majemuk.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili pada 2026 dinilai memiliki makna istimewa.
Imlek 2577 Kongzili jatuh pada 17 Februari 2026.
Dua hari setelahnya, 19 Februari 2026, umat Muslim melaksanakan puasa Ramadan 1447 Hijriah.
Ketua DPD Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI) Sulawesi Selatan (Sulsel), Erdy Wijaya, menyebut tahun ini sebagai momentum unik karena sejumlah perayaan besar keagamaan hadir dalam waktu berdekatan.
“Kita melihat perayaan Imlek, kemudian memasuki Ramadan, dilanjutkan dengan Paskah dan Nyepi. Semua momentum besar keagamaan dan budaya ini hadir dalam waktu yang berdekatan. Ini menjadikan tahun ini unik dan istimewa,” kata Erdy Wijaya saat menjadi narasumber program Bincang Komunitas Tribun Timur yang disiarkan langsung melalui YouTube Tribun Timur, Jumat (20/2/2026).
Podcast bertema Inklusif, Hangat & Harmonis dalam Imlek Kuda Api tersebut menghadirkan sejumlah narasumber.
Di antaranya Wakil Ketua I DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia Sulawesi Selatan (Walubi Sulsel) Pdt Roy Ruslim, Wakil Ketua III DPD Walubi Sulsel Miguel Dharmadjie, serta Ketua DPD KCBI Sulsel Erdy Wijaya.
Menurut Erdy, berdekatannya perayaan lintas agama itu menjadi cerminan kekayaan Indonesia sebagai bangsa majemuk.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan semangat Tahun Kuda Api yang mengusung tema inklusivitas dan pentingnya membangun pendekatan hangat dalam kehidupan bermasyarakat.
“Indonesia adalah negara dengan begitu banyak etnis, budaya, dan latar belakang. Karena itu, pendekatan yang kita bangun harus disertai kehangatan. Pendekatan tanpa kehangatan tentu tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik,” jelasnya.
Baca juga: Imlek 2026, Walubi Sulsel Bagikan 200 Bingkisan untuk Warga Tionghoa
Erdy menegaskan, keharmonisan hanya dapat tercipta melalui sikap inklusif dan kesediaan menerima perbedaan.
Ia mengingatkan bahwa perbedaan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan tidak mungkin dihilangkan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya menanggalkan ego demi membangun kebersamaan yang lebih kuat di tengah masyarakat plural.
“Seperti yang disampaikan tadi, kita juga perlu melepaskan ego masing-masing. Itu menjadi kunci penting dalam membangun kebersamaan,” tambahnya.
| 15 Pertunjukan Warnai Festival Imlek Huabao |
|
|---|
| Tahun Kuda Api Datang 60 Tahun Sekali, Ini Pesan Walubi dan KCBI Sulsel |
|
|---|
| Miguel Dharmadjie: Tahun Kuda Api 2026 Momentum Kebangkitan |
|
|---|
| Imlek 2026, Walubi Sulsel Bagikan 200 Bingkisan untuk Warga Tionghoa |
|
|---|
| Melinda Aksa: Keberagaman Kekuatan Utama Pembangunan Makassar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-22-FEB-WALUBI-SULSEL-12.jpg)