IMM Sulsel Sayangkan Kasus Gizi Buruk di Bulukumba
Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Selatan ikut menyayangkan adanya kasus gizi buruk di Desa Tamatto
Penulis: Samsul Bahri | Editor: Ardy Muchlis
Laporan Wartawan Tribun Timur, Syamsul Bahri
TRIBUN-TIMUR.COM, SINJAI-- Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Selatan ikut menyayangkan adanya kasus gizi buruk di Desa Tamatto, Kecatamatan Ujung Loe Bulukumba.
“Kejadian kasus gizi buruk yang dialami seorang anak usia 15 tahun selama 10 tahun di Bulukumba menjadi tamparan keras buat pemerintah, dan bisa menjadi perhatian nasional karena waktu yang terlalu lama untuk ditangani,” kata A Muh Rifqi Ismulail, Sekretaris DPD IMM Sulsel, Selasa (28/11/2017).
Ismulail mengatakan, dalam istilah medis gizi buruk disebut sebagai Malnutrisi Energi Protein (MEP) Berat, gizi buruk dikenal juga dengan sebutan busung Lapar yang memiliki tiga bentuk klinis, yaitu Marasmus, Kwashiorkor, dan Marasmus-Kwashiorkor.
“Pada anak ini kemungkinan dia mengalami Kwashiorkor,” jelas Ismulail yang juga aktivis asal Bulukumba ini..
“ Kami atas DPD IMM Sulsel menyoroti aliran anggaran kesehatan untuk perbaikan gizi dikemanakan dan memperingatkan pemerintah daerah Bulukumba agar kasus ini tertangani dan tidak terulang kembali,” katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Sulaiman alias Komeng (17), warga Kupang, Dusun Tamapalolo, Desa Tamatto, Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel) terkena gizi buruk sejak umur lima tahun.
Remaja yang lahir di Malaysia 1 Juli 2002 itu sudah 10 tahun terbaring lemah di rumahnya. Ia tampk kurus dan tak terurus.
Baca: Kisah Miris Komeng, Penderita Gizi Buruk di Bulukumba, 10 Tahun Terkunci di Rumah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/makassar_20171128_103625.jpg)