Inflasi Ancam Gerus Nilai Uang, Mahasiswa Mulai Harus Paham Kelola Dana Pensiun
Tantangan terbesar dalam menjaga ketahanan finansial setelah pensiun bukan hanya terletak pada besarnya dana yang dimiliki.
Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Alfian
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Literasi keuangan masih menjadi tantangan bagi banyak masyarakat Indonesia.
Tidak sedikit yang beranggapan masa pensiun identik dengan kondisi finansial yang aman.
Bersadar pada dana pensiun, pesangon, atau jaminan dari negara maupun perusahaan.
Padahal tanpa perencanaan yang matang, dana yang diterima saat memasuki masa pensiun berpotensi habis dalam waktu relatif singkat.
Kesadaran untuk mengelola keuangan jangka panjang dinilai menjadi semakin penting di tengah meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi.
Perencanaan investasi, pengelolaan aset, hingga pemahaman terhadap risiko inflasi menjadi faktor menentukan kemampuan seseorang mempertahankan kualitas hidup setelah tidak lagi memiliki penghasilan tetap.
Hal ini yang harus mulai dipahami sejak bangku kuliah oleh mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas).
"Masih banyak orang berpendapat bahwa setelah kita pensiun kalau menjadi pegawai negeri, semua ditanggung negara. Padahal uang yang diberikan dari negara atau perusahaan dalam Waktu sebentar habis," ujar Ketua Persatuan Aktuaris Indonesia, Paul Setio Kartono di atas mimbar dalam Seminar Edukasi Keuangan di Auditorium Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin pada Rabu (17/6/2026).
Baca juga: PAI Gandeng OJK dan Unhas Tingkatkan Literasi Keuangan Mahasiswa
Menurutnya, tantangan terbesar dalam menjaga ketahanan finansial setelah pensiun bukan hanya terletak pada besarnya dana yang dimiliki.
Lebih jauh kemampuan mengelolanya agar tetap bernilai dalam jangka panjang. Banyak pihak merasa memiliki dana yang cukup saat pertama kali pensiun.
Namun daya beli uang tersebut terus menurun seiring waktu akibat inflasi.
Kondisi ini membuat strategi penyimpanan dana semata tidak lagi cukup.
Masyarakat perlu memahami instrumen keuangan yang mampu menjaga bahkan meningkatkan nilai aset mereka agar tidak tergerus kenaikan harga barang dan jasa dari tahun ke tahun.
"Karena inflasi sangat tinggi. Kalau di deposito kan kita hanya dapat 3 persen. Sedangkan inflasi saja 6 sampai 7 persen. Uang yang kita simpan kalau tidak di manage dengan baik akan semakin habis," jelasnya.
Paul menilai pemahaman mengenai inflasi harus menjadi bagian penting dalam literasi keuangan masyarakat.
| CEO Tribun Network Dahlan Dahi Bakal Ulas Kepemimpinan hingga Manajemen Konflik di Unhas |
|
|---|
| Mengonsumsi Obat Generik, Mengapa Harus Ragu? |
|
|---|
| Prof Farida Kenang Amirullah Tahir Lettingnya di Unhas, Ceria dan Pekerja Keras |
|
|---|
| FIKP Unhas Edukasi Warga Pangkep Manajemen Pakan Ikan Nila Tingkatkan Produktivitas |
|
|---|
| Niat 2 Menit Habis 2 Jam: Sultan Rakib Ingatkan Bahaya Adiksi Scroll ke Mahasiswa Unhas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260617-Edukasi-Keuangan-digelar-Persatuan-Aktuaris-Indonesia.jpg)