Diskusi Publik
Wakil Ketua II I AM FEB Unhas Tekankan Pentingnya Dukungan Kampus Atasi Silent Burnout
Dalam diskusi itu, Sofwan membagikan pengalaman pribadinya saat menghadapi masa sulit selama kuliah.
Penulis: Rudi Salam | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Wakil Ketua II Ikatan Alumni Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin atau I AM FEB Unhas, Sofwan Suryanata, menekankan pentingnya dukungan lingkungan kampus terhadap mahasiswa yang menghadapi tekanan akademik maupun persoalan mental di tengah fenomena Silent Burnout.
Hal tersebut disampaikan Sofwan dalam diskusi publik bertajuk “Mahasiswa, Prestasi, dan Silent Burnout: Menghidupkan Kembali Kampus yang Menguatkan”.
Diskusi publik yang diinisiasi I AM FEB Unhas ini digelar di kantor Tribun Timur, Jalan Cendrawasih No 430, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Kamis (21/5/2026).
Dalam diskusi itu, Sofwan membagikan pengalaman pribadinya saat menghadapi masa sulit selama kuliah.
“Saya merasanya dulu seperti itu ya. Kurang support dari senior-senior sendiri. Bahwa kita ternyata harus menghadapi itu dengan usaha sendiri,” katanya.
Menurut Sofwan, kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana mahasiswa kerap menghadapi tekanan secara diam-diam tanpa ruang dukungan yang memadai.
Ia mengatakan pengalaman itu membuat dirinya dan rekan-rekannya harus berjuang sendiri untuk menyelesaikan pendidikan.
Sofwan menilai kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat mengejar prestasi akademik.
Tetapi juga menjadi ruang yang mampu menguatkan mahasiswa saat menghadapi tekanan mental maupun persoalan hidup.
“Semuanya pasti akan bisa diselesaikan kalau memang kita punya pegangan dan juga punya keyakinan,” lanjutnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sofwan juga mengingatkan agar mahasiswa tidak hanya memaknai pendidikan dari capaian angka maupun indeks prestasi kumulatif (IPK).
Ia mengutip pemikiran Kuntowijoyo mengenai konsep ilmu sosial profetik yang menempatkan nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi sebagai dasar pendidikan.
“Ilmu itu harus memanusiakan manusia, membebaskan dari penindasan, dan berdasarkan nilai-nilai ketuhanan,” tuturnya.
Menurut Sofwan, kecerdasan seseorang tidak hanya diukur dari prestasi akademik.
Tetapi juga dari kemampuan bertahan menghadapi tekanan hidup dan tetap memiliki empati terhadap sesama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/diskusi-publik-silent-burnout4.jpg)