Diskusi Publik
Psikolog Unhas: Burnout Mahasiswa Bisa Berujung Stres hingga Depresi
Fenomena silent burnout penting untuk dikaji bersama karena angka kejadiannya cukup tinggi di Indonesia.
Penulis: Rudi Salam | Editor: Alfian
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Dosen Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin (Unhas), Andi Tenri Pada Rustham, S.Psi., MA., M.Psi.Psikolog, menyoroti fenomena silent burnout di kalangan mahasiswa yang dinilai dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental apabila tidak ditangani dengan baik.
Hal itu disampaikannya dalam diskusi publik bertajuk “Mahasiswa, Prestasi, dan Silent Burnout” yang diinisiasi Ikatan Alumni Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (I AM FEB Unhas).
Diskusi publik tersebut berlangsung di kantor Tribun Timur, Jalan Cendrawasih No 430, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Kamis (21/5/2026).
Andi Tenri menilai, kondisi mahasiswa yang memilih diam saat menghadapi tekanan perlu menjadi perhatian serius karena berpotensi mengalami silent burnout.
“Inilah kenapa kita perlu menggarisbawahi menyelamatkan yang terdiam. Mungkin yang tidak terdiam ini mudah untuk kembali bangkit ketika ada di kondisi-kondisi yang tertekan. Berbeda dengan yang memang terdiam dengan kondisi tekanan, tidak tahu mau ngapain,” ucapnya.
Baca juga: Apa Itu Silent Burnout? Fenomena Mahasiswa yang Disorot I AM FEB Unhas
Andi Tenri menjelaskan, fenomena silent burnout penting untuk dikaji bersama karena angka kejadiannya cukup tinggi di Indonesia.
Ia mengutip data penelitian Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia (API) tahun 2024 terkait tingkat burnout di kalangan pelajar dan mahasiswa.
Dari data tersebut, di usia SMA ini 62 persen dalam kondisi burnout.
Sementara mahasiswa kelompok ada 71 persen, dan untuk umum ada 65 persen.
Menurut Andi Tenri, mayoritas mahasiswa yang mengalami burnout berada dalam kondisi kelelahan yang sangat sistemik.
Ia menjelaskan, terdapat beberapa spektrum penting dalam kondisi burnout.
Pertama adalah emotional exhaustion atau kelelahan emosional, yakni terkurasnya energi fisik dan mental akibat tekanan akademik yang berlangsung terus-menerus.
“Jadi, kondisi yang kadang mahasiswa kalau dia di kondisi diam tidak dieksplor atau tidak mendapatkan penanganan, ketika dia dalam kondisi burnout dan dia menjadi silent, nah inilah yang kadang bertubi-tubi kita sampai tidak menyangka kok terjadi,” jelasnya.
Ia menilai, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih berat apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Misalnya sampai stres, frustrasi, depresi, bahkan sampai ke arah hal-hal yang lebih berdampak pada kondisi diri mahasiswa.
Spektrum kedua yang disorotnya adalah sinisme dan depersonalisasi.
Menurutnya, mahasiswa yang mengalami burnout cenderung merasa terasing, kehilangan minat, hingga memandang tugas akademik sebagai beban.
“Karena terlalu banyak tantangan, terlalu banyak tuntutan barangkali, masalah, sehingga menjadi seperti kondisi saat ini,” katanya.
Selain itu, ia juga menjelaskan adanya penurunan efikasi diri pada mahasiswa yang mengalami burnout.
Kondisi tersebut membuat mahasiswa merasa usaha keras yang dilakukan tidak lagi membuahkan hasil dan mulai meragukan kemampuan dirinya sendiri.
“Kadang mahasiswa itu ketika sudah di dalam kondisi burnout, dia tidak menyadari dengan sendirinya dia langsung bisa berkata, ‘Sudahlah, masa bodo aja lah dengan tugas saat ini’,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Andi Tenri juga menjelaskan perbedaan antara kelelahan akademik biasa dengan burnout.
Menurutnya, kelelahan biasa umumnya dapat pulih melalui istirahat.
Sedangkan burnout berlangsung dalam jangka panjang dan memengaruhi sistem secara menyeluruh.
“Kalau kita lelah, kita istirahat bisa baik lagi, itu tidak ada masalah. Yang jadi masalah adalah ketika kita lelah, terus ketika kita bangkit, kita masih lelah lagi, dan itu berlangsung lama,” jelasnya.
Ia mencontohkan, kelelahan akademik biasa biasanya dipicu oleh ujian atau tenggat tugas dan masih dapat dikendalikan secara psikologis.
Namun pada kondisi silent burnout, tekanan yang dialami mahasiswa bersifat sistemik dan berkepanjangan.
Seperti tugas yang terus menumpuk dan tidak terselesaikan hingga akhirnya mengganggu kondisi psikologis.
Sekadar diketahui, hadir dalam diskusi tersebut Ketua Umum I AM FEB Unhas Dien Triana, Anggota Departemen Kajian Keilmuan Strategis dan Kebijakan Publik Ikatan Alumni Manajemen FEB Unhas Yukiko Hiro Mantu, Dosen Akuntansi FEB Universitas Muslim Indonesia (UMI) Tenriwaru, serta Wakil Ketua 2 Ikatan Alumni Manajemen FEB Unhas Sofwan Suryanata.
Hadir pula sejumlah mahasiswa dari Unhas, UMI, dan Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP).(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260521-Andi-Tenri-Pada-Rustham.jpg)