Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Unhas

Prof Nurpudji Astuti Daud Terima MURI atas Pengembangan Pendidikan Dokter Gizi Klinik

Penghargaan diberikan atas kiprahnya sebagai penggagas dan pendiri Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Gizi Klinik.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
PENGHARGAAN MURI - Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Nurpudji Astuti Daud memperlihatkan penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), saat diterima di Jakarta, Senin (11/5/2026). Penghargaan diberikan atas kiprahnya sebagai penggagas dan pendiri Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Gizi Klinik. 

Dengan adanya dokter gizi klinik, pasien dapat memperoleh terapi medik gizi yang lebih tepat dan sesuai dengan kondisi penyakit masing-masing.

Menurutnya, pasien yang mendapatkan terapi gizi secara tepat cenderung mengalami lebih sedikit komplikasi.

Sehingga masa rawat inap menjadi lebih singkat dan proses penyembuhan berlangsung lebih cepat.

“Pasien lebih cepat sembuh karena terapinya tepat. Komplikasi berkurang dan biaya keluarga pasien juga lebih ringan,” jelasnya.

Prof Nurpudji mengatakan manfaat tersebut tidak hanya dirasakan pasien dan keluarga, tetapi juga rumah sakit dan BPJS Kesehatan.

Rumah sakit memperoleh efisiensi pelayanan karena pasien lebih cepat pulih.

Sementara BPJS dapat menekan biaya perawatan akibat berkurangnya komplikasi dan lama rawat inap.

Sebagai pelopor nasional, program pendidikan dokter spesialis gizi klinik yang pertama kali dibuka di Unhas kemudian diikuti oleh sejumlah perguruan tinggi lain di Indonesia.

Kini, program pendidikan dokter spesialis gizi klinik telah berkembang di sedikitnya 10 perguruan tinggi di Indonesia.

Menariknya, menurut Prof Nurpudji, Indonesia memiliki pendekatan berbeda dibandingkan luar negeri.

Di banyak negara, gizi klinik hanya menjadi sub-divisi, misalnya di Departemen Penyakit Dalam dan bukan program pendidikan spesialis tersendiri.

Sementara di Indonesia, gizi klinik dikembangkan sebagai program pendidikan dokter spesialis mandiri dengan masa pendidikan tujuh semester.

Hingga kini, lebih dari 500 dokter spesialis gizi klinik telah dihasilkan dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Para lulusan tersebut kini bekerja di rumah sakit, membuka praktik klinik, hingga menduduki posisi strategis seperti direktur utama rumah sakit, direktur pelayanan medis, dan kepala instalasi gizi.

“Ini yang dihargai MURI, mengapresiasi karya anak bangsa,” kata Prof Nurpudji.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved