Unhas
Gigi Estetik Modern Antar Nurhayati Natsir Raih Guru Besar di Unhas
Nurhayati Natsir mengingatkan keinginan memperoleh tampilan gigi yang ideal tidak boleh mengabaikan kesehatan biologis dan pelestarian jaringan gigi.
Penulis: Siti Aminah | Editor: Sudirman
Salah satunya adalah perawatan noninvasif dan minimal invasif seperti bleaching atau pemutihan gigi.
Menurutnya, prosedur tersebut tergolong konservatif karena tidak membutuhkan pengasahan jaringan gigi, meski tetap harus dilakukan sesuai prosedur medis untuk mencegah sensitivitas, iritasi jaringan lunak, maupun gangguan pada jaringan keras dan pulpa.
Selain itu, ia juga menjelaskan tentang restorasi langsung menggunakan resin komposit atau direct veneer.
Metode ini dinilai lebih konservatif karena preparasi minimal, biaya lebih terjangkau, prosedur lebih cepat, dan dapat diperbaiki apabila terjadi kerusakan.
“Restorasi langsung mengutamakan estetika dan fungsi dengan prinsip reparabel dan konservatif,” jelasnya.
Nurhayati juga membahas restorasi adhesif tidak langsung atau indirect restoration yang menawarkan presisi tinggi dan ketahanan lebih baik melalui teknologi adhesif modern serta kontrol kualitas laboratorium.
Meski demikian, ia menegaskan tidak semua kasus estetika dapat diselesaikan hanya dengan restorasi konservatif.
Kasus malposisi gigi, gangguan skeletal, kehilangan dimensi vertikal akibat aus berat, hingga masalah periodontal lanjut sering membutuhkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan ortodonti, periodonsia, prostodonsia bahkan psikologi klinis.
Ia juga menyoroti perkembangan teknologi digital dalam praktik kedokteran gigi estetik.
Pemanfaatan fotografi klinis terstandar, analisis senyum berbasis perangkat lunak hingga kecerdasan buatan dinilai mampu meningkatkan presisi diagnosis dan komunikasi antara dokter dengan pasien.
Namun ia mengingatkan, teknologi tetap hanya alat bantu dan tidak dapat menggantikan pertimbangan klinis.
“Keputusan klinis harus tetap mengintegrasikan data digital, pengalaman, dan pemahaman biologis agar tidak mengabaikan variasi individual pasien,” ujarnya.
Dalam perspektif kesehatan, Nurhayati mengingatkan bahwa tren estetika yang tidak terkendali dapat memicu fenomena overtreatment, yakni tindakan invasif pada gigi yang sebenarnya masih sehat.
Terutama pada pasien usia muda.
Karena itu, ia menegaskan konservasi gigi estetik harus tetap berpijak pada sains, etika, dan keberlanjutan kesehatan pasien.
“Bidang konservasi gigi estetika harus berdiri kokoh sebagai disiplin yang menjaga keseimbangan, mewujudkan estetika yang selaras dengan biologi, mengutamakan pelestarian jaringan, dan mengarahkan perawatan agar berkelanjutan,” tutupnya. (*)
| Alasan Prof Jamaluddin Jompa Unhas Tak Naikkan UKT Mahasiswa 2026 |
|
|---|
| Inilah Nomor Urut Calon Dekan Fisip Unhas, Prof Phil Sukri Bersaing 3 Guru Besar |
|
|---|
| 392 Halaman Disertasi Antar Yasir Machmud Raih Gelar Doktor Politik Unhas |
|
|---|
| Mahasiswa Unhas Kuliah Daring Awal Ramadan |
|
|---|
| Agussalim Burhanuddin Wakili Unhas Jadi Pembicara Tamu Southeast Asia–Japan Security Dialogue 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-05-11-Prof-Nurhayati-Natsir-dikukuhkan-sebagai-guru-besar.jpg)