Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Rektor UMI Peringatkan Bahaya Narasi Dipelintir, Singgung Serangan terhadap JK

Prof Hambali Thalib mengingatkan pelintir informasi berpotensi melanggar hukum

Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com
Rektor Universitas Muslim Indonesia, Prof Hambali Thalib. 

Ringkasan Berita:
  • Rektor UMI Prof Hambali Thalib menilai adanya fenomena pelintir informasi di ruang digital terhadap potongan ceramah JK
  • Menurutnya hal itu berpotensi merusak kehormatan dan nama baik JK
  • Ia mengingatkan, JK bukanlah figur publik biasa melainkan negarawan utuh

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR — Rektor Universitas Muslim Indonesia, Prof Hambali Thalib, menyampaikan pernyataan tegas terkait maraknya narasi yang dinilai dipelintir di ruang digital.

Menurutnya fenomena pelintir informasi itu berpotensi merusak kehormatan tokoh bangsa, termasuk Jusuf Kalla.

Dalam pernyataan resminya, Hambali menilai informasi yang beredar di media sosial kerap tidak utuh.

Informasi beredar kadang hanya berupa potongan pernyataan atau video yang dilepaskan dari konteks sebenarnya.

Kondisi ini, menurutnya, berbahaya karena dapat membentuk opini publik yang menyesatkan.

“Fenomena ini adalah reduksi kebenaran yang direkayasa menjadi sensasi,” tegas Prof Hambali Thalib, Rabu (15/4/2026).

Sebagai akademisi di bidang hukum pidana, ia mengingatkan praktik memelintir informasi tidak bisa dianggap sekadar kebebasan berekspresi. 

Tindakan tersebut berpotensi melanggar hukum karena masuk dalam kategori penyebaran informasi menyesatkan hingga pencemaran nama baik.

Hambali merujuk pada ketentuan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik serta Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang mengatur batasan dalam menyampaikan informasi di ruang publik, termasuk di ranah digital.

Ia pun mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan menyebarkan narasi yang belum terverifikasi kebenarannya, apalagi jika berpotensi merugikan kehormatan seseorang.

“Ruang digital bukan ruang tanpa hukum. Setiap jejak memiliki konsekuensi hukum,” ujarnya.

Lebih lanjut, Hambali menegaskan keluarga besar UMI berdiri untuk menjaga kehormatan Jusuf Kalla, yang dinilai sebagai negarawan dengan rekam jejak panjang dalam menjaga keutuhan bangsa.

Selain dikenal sebagai Wakil Presiden RI dua periode, Jusuf Kalla juga memiliki hubungan historis dengan UMI sebagai mantan Ketua Yayasan Wakaf.

Namun, ia menekankan bahwa sikap tersebut bukan didasarkan pada emosi, melainkan pada pertimbangan akademik dan rekam jejak yang teruji.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved