UIN Alauddin Makassar
Menyusuri Harmoni Adat Kaluppini: Riset UIN Alauddin Ungkap Trilogi Kerukunan
tim UIN Alauddin Makassar menyoroti bagaimana harmoni spiritual, sosial, dan ekologis tidak hanya menjadi konsep, tetapi praktik kehidupan.
TRIBUN-TIMUR.COM, ENREKANG — Di balik lanskap pegunungan yang tenang di kawasan adat Kaluppini, Kabupaten Enrekang, tersimpan filosofi hidup yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Nilai-nilai itu kini menjadi fokus penelitian tim UIN Alauddin Makassar melalui program pendanaan riset Indonesia Bangkit MoRA The Air Funds.
Selama 1–6 April 2026, tim peneliti turun langsung ke lapangan mengkaji tema “Manifestasi Trilogi Kerukunan dalam Sistem Ruang dan Relasi Sosial Masyarakat Adat Kaluppini”.
Penelitian ini menyoroti bagaimana harmoni spiritual, sosial, dan ekologis tidak hanya menjadi konsep, tetapi diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakat adat.
Ketua tim peneliti, Zulkarnain, menjelaskan bahwa tata ruang di Kaluppini mencerminkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan turun-temurun.
“Ruang di Kaluppini bukan sekadar pembagian wilayah fisik. Ada ruang sakral untuk ritual, ruang sosial untuk interaksi, dan ruang produksi yang diatur ketat oleh hukum adat,” ujarnya.
Ruang, Ritual, dan Relasi Sosial
Temuan lapangan menunjukkan bahwa struktur kepemimpinan adat memainkan peran sentral dalam menjaga kohesi sosial masyarakat.
Sistem ini menciptakan stabilitas komunal yang kuat, sekaligus memastikan nilai-nilai adat tetap dijalankan secara konsisten.
Baca juga: Cerita Patahuddin Jadi Sarjana Agama dan Tentara Kampus di Depan 181 Junior UIN Alauddin Makassar
Penelitian juga mendokumentasikan praktik ritual seperti Pangewaran dan Maccera To Manurung, yang menjadi simbol kolektif dari trilogi kerukunan—hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Dalam konteks ini, kawasan hutan adat atau ongko memiliki posisi penting.
Selain sebagai sumber kehidupan, hutan juga dijaga melalui berbagai pantangan adat yang mencerminkan prinsip ekoteologi—sebuah pendekatan yang menempatkan alam sebagai bagian dari sistem spiritual.
Riset ini diharapkan tidak berhenti sebagai dokumentasi akademik semata.
Lebih jauh, hasil kajian ini ditargetkan menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan berbasis kearifan lokal, sekaligus memperkuat posisi masyarakat adat di tengah tekanan modernisasi dan globalisasi.
“Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat hak wilayah dan identitas budaya masyarakat Kaluppini,” tegas Zulkarnain.
Dengan pendekatan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan nilai tradisi, Kaluppini menunjukkan bahwa harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas bukan sekadar konsep ideal—melainkan realitas yang terus hidup dan dijaga lintas generasi.(*)
| Cerita Patahuddin Jadi Sarjana Agama dan 'Tentara Kampus' di Depan 181 Junior UIN Alauddin Makassar |
|
|---|
| Idrus Marham Ajak Alumni UIN Alauddin Konsolidasi untuk Kemajuan Umat dan Bangsa |
|
|---|
| Menag Nasaruddin Umar: UIN Alauddin Makassar Layak Masuk Lima Besar PTKIN |
|
|---|
| UIN Alauddin Makassar Kukuhkan 3 Guru Besar, Dihadiri Menag RI |
|
|---|
| FORKEIS Gelar Rapat Kerja dan Upgrading XVI 2026, Menata Langkah Teguhkan Arah Gerak Organisasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260404_HARMONI-MANUSIA-ALAM-tim-peneliti-uin-turun-lapangan.jpg)