Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Profil Gustia Tahir Profesor Baru UIN Alauddin Makassar, 'Wacana Pindah Planet Bentuk Keputusasaan'

Prof Gustia mengkritik tajam terhadap krisis lingkungan global yang kian memburuk.

Tribun-timur.com/Ist
UIN ALAUDDIN - Prof Dr Hj Gustia Tahir, M.Ag saat menyampaikan orasi ilmiah pada pengukuhan guru besar berlangsung di Gedung Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, Jalan HM Yasin Limpo, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (2/4/2026). Profil Prof Dr Hj Gustia Tahir. 

Ringkasan Berita:
  • Gustia Tahir dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar dengan orasi bertema eco-sufisme dan tobat ekologis. 
  • Dalam pidatonya, ia menyoroti krisis lingkungan global yang semakin parah, serta menegaskan bahwa kerusakan bumi bukan karena kurangnya teknologi, melainkan hilangnya nurani manusia.
  • Prof Gustia mengkritik paradoks peradaban modern: kemajuan sains dan teknologi tidak diiringi dengan empati dan kebijaksanaan.

TRIBUN-TIMUR.COM — Profil Prof Gustia Tahir guru besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar.

Pengukuhan di Gedung Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, Jalan HM Yasin Limpo, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (2/4/2026).

Ia menyampaikan orasi “Haruskah Kita Pindah ke Planet Lain: Eco-Sufisme dan Tobat Ekologis”.

Prof Gustia mengkritik tajam terhadap krisis lingkungan global yang kian memburuk.

Ia membuka pidatonya dengan pernyataan reflektif.

“Bumi tidak sedang sekarat karena kurangnya teknologi, tetapi karena manusia kehilangan nuraninya,” ujarnya.

Baca juga: UIN Alauddin Makassar Kukuhkan Tiga Guru Besar, ini Nama-namanya

Kemajuan teknologi yang dibanggakan manusia saat ini justru berbanding terbalik dengan kondisi bumi yang terus mengalami kerusakan.

“Di saat manusia membanggakan kecerdasan buatan dan mimpi menetap di planet lain, bumi justru terengah-engah menahan luka akibat ulah manusia sendiri,” katanya.

Ia menilai, peradaban modern tengah mengalami paradoks besar.

Sains berkembang pesat, namun empati dan kebijaksanaan justru mengalami kemunduran.

“Kita mampu memotret galaksi yang jauh, tetapi gagal membaca penderitaan hutan yang ditebang dan sungai yang diracuni,” ungkapnya.

Prof Gustia juga menyoroti wacana pindah ke planet lain yang dinilai sebagai bentuk keputusasaan moral, bukan sekadar kemajuan ilmiah.

“Pertanyaan pindah planet lahir karena manusia tidak lagi mampu hidup dengan batas dan kesadaran spiritual,” jelasnya.

Dia menegaskan bumi sejatinya tetap setia menyediakan kebutuhan hidup manusia, namun manusialah yang berubah menjadi eksploitator.

“Dari penjaga, manusia berubah menjadi penguasa. Alam tidak lagi dipandang sebagai amanah, melainkan komoditas,” tegasnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved