Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pelaut Sulsel Hilang di Selat Hormuz

Corps Alumni Bumi Seram Makassar: Prihatin, Capt Miswar Paturusi Nakhoda Musaffah 2 Alumni Kami

Dewan Pimpinan Pusat Corps Alumni Bumi Seram Makassar (DPP CABM) prihatin atas insiden menimpa Capt Miswar (50)

Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Edi Sumardi
Tribun-timur.com/DOK PRIBADI
KECELAKAAN MUSAFFAH 2 - Kolase foto Ketua Dewan Pimpinan Pusat Corps Alumni Bumi Seram Makassar (DPP CABM), Capt Agus Salim (kiri) dan Capt Miswar (kanan) nakhoda kapal Musaffah 2 yang kecelakaan di perairan Selat Hormuz, Jumat pekan lalu. Setelah empat hari sejak dilaporkan mengalami insiden, DPP CABM surati perusahaan dan KBRI demi pastikan update pencarian. 

BELOPA, TRIBUN-TIMUR.COM - Dewan Pimpinan Pusat Corps Alumni Bumi Seram Makassar (DPP CABM) prihatin atas insiden menimpa Capt Miswar (50), pelaut asal Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Capt Miswar adalah nakhoda tugboat Musaffah 2.

Kapal tersebut kecelakaan di Selat Hormuz, perairan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman, pada Jumat (6/3/2026),

Ketua Umum DPP CABM periode 2022–2027, Capt Agus Salim, mengatakan pihaknya langsung melakukan koordinasi setelah menerima informasi awal mengenai kejadian tersebut.

“Dewan Pimpinan Pusat Corps Alumni Bumi Seram Makassar menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas peristiwa yang menimpa salah seorang alumni kami, Capt Miswar Paturusi,” ujar Agus kepada Tribun-Timur.com, Selasa (10/3/2026) sekitar pukul 10.58 WITA.

Corps Alumni Bumi Seram Makassar merupakan organisasi alumni Sekolah Pelayaran Menengah (SPM) yang kemudian berkembang menjadi Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran (BPLP), dan kini dikenal sebagai Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar.

Baca juga: Sosok Sirajuddin ABK Musaffah 2 di Mata Istri: Penyayang dan Impikan Anak Kuliah di Luar Negeri

Capt Miswar sendiri merupakan alumni angkatan ke-15 dari sekolah pelayaran tersebut.

Menurut Agus, berdasarkan informasi sementara, insiden tersebut terjadi saat Miswar menjalankan tugas profesionalnya sebagai nakhoda kapal ASD Tug Musaffah 2 di wilayah perairan sekitar Oman, Timur Tengah.

Informasi awal yang beredar menyebutkan adanya dugaan ledakan di atas kapal tersebut.

Ledakan itu diduga berkaitan dengan serangan rudal di wilayah perairan tersebut.

Namun hingga kini penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu konfirmasi resmi dari otoritas terkait.

“Informasi awal menyebutkan diduga terjadi ledakan di atas kapal yang kemungkinan berkaitan dengan serangan rudal. Tetapi hingga saat ini kami masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak berwenang,” kata Agus, yang juga alumni PIP Makassar angkatan ke-5.

Sejak menerima laporan awal, DPP CABM langsung menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk keluarga Capt Miswar.

Selain itu, organisasi alumni tersebut juga berkomunikasi dengan perusahaan Abu Dhabi Ports tempat Miswar bekerja serta sejumlah instansi pemerintah Indonesia yang menangani perlindungan warga negara di luar negeri.

DPP CABM juga telah mengirimkan surat resmi kepada sejumlah pihak terkait.

“Mulai kemarin hingga hari ini kami sudah menyurat secara resmi ke KBRI di Oman, Abu Dhabi, Kementerian Perhubungan Laut, serta perusahaan tempat beliau bekerja di Abu Dhabi,” ujar Agus.

Ia menambahkan, pihaknya juga telah berkomunikasi langsung dengan perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Muscat, Oman, untuk memperoleh perkembangan terbaru.

“Kami juga sudah berkomunikasi dengan KBRI Muscat dan perwakilan perusahaan. Jika ada perkembangan terbaru, akan segera kami sampaikan kepada pihak keluarga,” katanya.

Agus menegaskan organisasinya akan terus memantau proses penanganan insiden tersebut serta memberikan dukungan moral kepada keluarga Capt Miswar.

Menurutnya, organisasi alumni berkomitmen mengawal proses komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar berjalan transparan dan akuntabel.

“Kami berkomitmen memberikan dukungan moral dan pendampingan yang diperlukan kepada keluarga,” ujarnya.

Ia juga menyebut koordinasi dengan otoritas Indonesia di luar negeri terus berjalan, termasuk pemantauan terhadap kru kapal asal Indonesia yang terlibat dalam pelayaran tersebut.

“KBRI Muscat juga sudah melakukan koordinasi dan monitoring kepada semua kru Indonesia yang terlibat,” katanya.

Di tengah tingginya perhatian publik terhadap kasus ini, DPP CABM mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Agus meminta semua pihak menunggu keterangan resmi dari keluarga, perusahaan, maupun otoritas terkait.

“Kami mengimbau masyarakat untuk menunggu informasi resmi dan tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan dan doa bagi Capt Miswar dan keluarganya.

“Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah memberikan dukungan moral dan doa bagi keselamatan serta ketabahan keluarga Capt Miswar,” katanya.

Keluarga Belum Terima Kabar Resmi

Sementara itu, istri Capt Miswar, Marliani Ahmad (47), mengatakan hingga kini keluarga belum dapat memastikan kondisi suaminya. Informasi sementara yang diterima keluarga menyebutkan bahwa Miswar masih dinyatakan hilang.

Marliani mengungkapkan, kabar mengenai insiden tersebut pertama kali diterima keluarga pada Jumat (7/3/2026) sekitar pukul 10.00 WITA dari rekan kerja suaminya di dunia pelayaran.

“Informasi itu disampaikan oleh rekan satu perusahaan suami saya yang menghubungi melalui ponsel anak kami,” ujar Marliani saat ditemui Tribun-Timur.com, Senin (9/3/2026).

Ia mengatakan komunikasi terakhir dengan suaminya terjadi pada Kamis (5/3/2026) pagi. Saat itu Miswar masih sempat berbicara dengannya dan memberi tahu rencana pelayaran yang akan dilakukan.

Pada siang hari sekitar pukul 13.00 WITA, Miswar juga diketahui sempat membaca pesan dari anaknya melalui aplikasi percakapan, namun pesan tersebut tidak sempat dibalas.

“Pesannya sempat dibaca, tapi tidak sempat dibalas. Setelah itu sudah tidak ada lagi kabar,” kata Marliani.

Selama ini Capt Miswar diketahui bekerja di pelabuhan Abu Dhabi sebagai pemandu kapal-kapal besar yang hendak masuk ke pelabuhan.

Menurut Marliani, insiden yang menimpa suaminya terjadi saat kapal yang dinakhodai Miswar berada di ujung Selat Hormuz dan telah mendekati wilayah Oman, negara yang bertetangga dengan Iran dan dipisahkan oleh Selat Hormuz.

Kapal tersebut diduga terkena serangan drone tempur, meskipun hingga kini belum diketahui asal drone tersebut.

Keluarga juga masih menerima berbagai versi informasi terkait kejadian tersebut.

Bahkan, istri dari rekan satu kapal Miswar, yakni Chief Engineer Sirajuddin, sempat datang ke rumah Marliani untuk mencari informasi mengenai kondisi suaminya.

“Tadi ada istri dari Bapak Sirajuddin datang ke rumah bersama anaknya. Beliau juga belum menerima informasi yang pasti dan masih menunggu kabar dari perusahaan maupun pihak KBRI,” ujarnya.

Marliani menuturkan suaminya telah lebih dari dua dekade berkarier di dunia pelayaran.

“Kalau di perusahaan sekarang mungkin sekitar 10 tahun,” katanya.(*)

Sebelum hilang kontak, Miswar juga sempat menyampaikan kepada rekan-rekannya bahwa kapal yang dipimpinnya mengalami gangguan pada sistem navigasi.

Hingga kini keluarga mengaku belum menerima keterangan resmi secara tertulis dari pihak perusahaan mengenai insiden tersebut.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved