Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

UIN Alauddin Makassar

UIN Alauddin Makassar Kukuhkan 3 Guru Besar, Dihadiri Menag RI

Sidang senat terbuka UIN Alauddin Makassar mengukuhkan tiga guru besar tetap, disaksikan langsung Menteri Agama RI.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Sukmawati Ibrahim
Tribun-timur.com/Sayyid Zulfadli Saleh Wahab
UIN ALAUDDIN MAKASSAR - Menteri Agama RI Prof Dr KH H Nasaruddin Umar bersama Sekjen Kemenag RI Prof Dr Phil H Kamaruddin Amin dan Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Hamdan Juhannis menghadiri pengukuhan tiga guru besar UIN Alauddin Makassar di Gedung Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, Jalan HM Yasin Limpo, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Senin (9/2/2026). 
Ringkasan Berita:
  • UIN Alauddin Makassar mengukuhkan tiga guru besar tetap dalam sidang senat terbuka luar biasa di Gowa, Senin (9/2/2026). 
  • Acara ini dihadiri Menag RI Prof Nasaruddin Umar dan jajaran Kemenag. 
  • Rektor Prof Hamdan Juhannis memberi respons kritis terhadap orasi ilmiah, menyoroti pendidikan Islam, budaya, dan tantangan generasi muda

TRIBUN-GOWA.COM - Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar menggelar sidang senat terbuka luar biasa untuk mengukuhkan tiga guru besar tetap, Senin (9/2/2026).

Pengukuhan tiga guru besar UIN Alauddin Makassar di Gedung Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, Jalan HM Yasin Limpo, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. 

Tiga dosen dikukuhkan sebagai guru besar tetap UIN Alauddin Makassar yakni Prof Dr H Abd Rauf Muhammad Amin Lc M.A dalam ranting ilmu Ushul Fikih dari Fakultas Syariah dan Hukum.

Kemudian Prof Dr Hj Indo Santalia M.Ag dalam ranting ilmu Teologi Kebudayaan Islam dari Fakultas Ushuluddin, Filsafat, dan Politik.

Selanjutnya Prof Dr H Andi Achruh AB Passinringgi M.Pd.I dalam ranting ilmu Pendidikan Islam Kontemporer dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

Prosesi pengukuhan diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran, dilanjutkan pembacaan doa oleh Anre Gurutta Prof Dr KH M Faried Wadjedy Lc MA.

Sidang senat terbuka tersebut dihadiri langsung Menteri Agama Republik Indonesia, Prof Dr KH H Nasaruddin Umar.

Turut hadir Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof Dr Phil H Kamaruddin Amin, sejumlah guru besar UIN Alauddin Makassar, Senat Universitas, perwakilan Kanwil Kemenag Sulsel dan Gorontalo, serta tokoh akademik seperti Prof Najamuddin, Jenderal Andi Muhammad, dan Prof Azhar Arsyad.

Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis, menyampaikan tanggapan, perenungan, dan komentar ringan dalam momen pengukuhan tersebut.

Dalam sambutannya, Prof Hamdan memberikan respons singkat terhadap pidato ilmiah para profesor yang dikukuhkan.

Ia menanggapi orasi Prof Andi Achruh yang mengangkat tema pendidikan Islam humanis, inklusif, dan adaptif.

Namun, Prof Hamdan mengaku sedikit terganggu dengan istilah pendidikan Islam berada di “persimpangan zaman”.

“Pertanyaan reflektif saya, apalagi yang bermasalah dengan pendidikan Islam kita? Justru pendidikan Islam sangat fasih melakukan proses adaptasi antara tradisi dan modernisasi,” ujarnya.

Menurutnya, transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) berjalan luar biasa.

Ia mencontohkan keberadaan MAN Insan Cendekia, MAN unggulan, hingga Sekolah Islam Terpadu yang terus berkembang.

“Jadi Bapak perlu melihat ulang kecemasan tentang pendidikan Islam di persimpangan zaman,” katanya.

Tanggapan kedua disampaikan kepada Prof Indo Santalia yang membahas dialektika agama dan budaya dari perspektif antropolog Islamolog.

Prof Hamdan menilai istilah “antropolog Islamolog” perlu dijelaskan secara sederhana agar mudah dipahami publik.

“Guru-guru besar kita ini terlalu asyik menggunakan istilah. Untuk menjadi guru besar yang membumi, istilah seperti ini harus dipapar dan dipahami oleh akar rumput,” ucapnya.

Ia menilai pembahasan tentang dialektika agama dan budaya tersebut masih bersifat klasik.

Prof Hamdan justru tertarik pada fenomena keberagamaan generasi muda, khususnya Gen Z.

“Saya lebih tertarik melihat dialektika pola keberagamaan dengan budaya pop anak-anak Gen Z hari ini. Itu yang sebenarnya saya tunggu,” katanya.

Menurutnya, pola aktivitas keagamaan mahasiswa tidak lagi seramai sebelumnya.

“Ada riset menyebutkan kajian-kajian tidak lagi hidup. Yang justru hidup sekarang adalah nongki-nongki,” ucapnya.

Fenomena agama digital di kalangan generasi muda, menurut Prof Hamdan, perlu mendapat perhatian serius dalam kajian akademik.

Selanjutnya, Prof Hamdan menanggapi orasi Prof Abd Rauf Muhammad Amin yang mengangkat isu desakralisasi.

Dengan nada ringan, ia mengaku sering pusing mendengar istilah-istilah yang terlalu akademis.

“Bisakah Profesor Rauf mengembangkan kajian Ushul Fikih yang tidak perlu lagi menggunakan istilah-istilah Arab?” ujarnya.

Ia menilai pidato dengan istilah yang terlalu rumit justru membuat pendengar awam kebingungan.

“Ketika mendengar pidato yang sangat cerdas, justru yang terjadi kepusingan yang bertubi-tubi,” katanya.

Dalam perenungannya, Prof Hamdan mengibaratkan profesor sebagai burung albatros.

Ia menjelaskan, burung albatros mampu terbang meski sedang tidur, karena setengah otaknya digunakan untuk tidur dan setengah lainnya untuk bekerja.

“Menjadi guru besar sebagai guru kebijaksanaan, sudah sepatutnya kita menjadi Profesor Albatros,” ujarnya.

Jika profesor terlena tanpa menjaga kesadaran intelektualnya, maka banyak hal akan tertinggal.

“Kalau Bapak Ibu tidur pulas tanpa menjaga setengah kesadaran, keesokan harinya ketika bangun, dunia sudah berubah,” katanya.

Prof Hamdan juga memuji Menag RI, Prof Nasaruddin Umar, yang menurutnya layak diibaratkan sebagai Albatros.

“Coba lihat pergerakannya Anre Gurutta Menteri luar biasa. Kemarin bersama Bapak Presiden terbang siang, lalu naik helikopter dari Makassar ke ujung untuk menghadiri resepsi keluarga. Tengah malam kembali, subuh memberi pengajian akbar, dan pagi ini menghadiri pengukuhan,” ucapnya.

“Artinya, guru besar kalau Bapak Ibu belum terbangun, betapa banyaknya yang tertinggal dari aktivitas menteri,” sambungnya.

Di akhir sambutannya, Prof Hamdan berpesan agar para guru besar memahami kontradiksi kehidupan sebagai bagian dari proses menuju keseimbangan.

“Pahamilah kontradiksi kehidupan ini untuk membangun keseimbangan, mengkapitalisasi sisi positifnya, dan mengendalikan sisi negatifnya,” pungkasnya. (*)

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved