Aip Saiful Menangis Pasca Tinggalkan Arafah: Saya Capek Jauh dari Allah
Di balik tugas yang berat itu, tersimpan kisah-kisah spiritual yang tak banyak diketahui publik.
Penulis: Muh. Hasim Arfah | Editor: Sudirman
Ringkasan Berita:
- Petugas Transportasi PPIH Arab Saudi 2026, Aip Saiful, membagikan pengalaman spiritual mendalam saat bertugas di Arafah.
- Di tengah kesibukan mengatur mobilisasi jamaah dan bekerja dalam cuaca ekstrem, ia mengaku tak kuasa menahan air mata karena merasakan suasana Arafah layaknya "mahsyar kecil" yang membawanya pada refleksi diri dan kedekatan dengan Allah.
- Berbagai peristiwa selama bertugas menjadi bahan muhasabah, membuatnya merasa pulang dari Arafah sebagai pribadi yang lebih baik.
Laporan Hasim Arfah
Wartawan Tribun-timur.com dan Media Centre Haji 2026 dari Arab Saudi
TRIBUN-TIMUR.COM, JEDDAH – Ribuan petugas haji Indonesia bekerja tanpa mengenal lelah demi memastikan jutaan rangkaian ibadah jamaah berjalan lancar.
Di balik tugas yang berat itu, tersimpan kisah-kisah spiritual yang tak banyak diketahui publik.
Salah satunya dialami Aip Saiful, Pelaksana Transportasi PPIH Arab Saudi 2026 Daerah Kerja Bandara.
Di tengah kesibukannya mengatur mobilisasi jamaah selama puncak haji, ia mengaku tak mampu membendung air mata saat berada di Arafah.
"Arafah bagi saya adalah mahsyar kecil. Di sana saya sangat banyak menitikkan air mata," kata Aip saat ditemui di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Senin (8/6/2026).
Baca juga: Kemenhaj Bongkar Kasus Penyimpangan Dam dan Badal Haji, Nilainya Capai Rp2,9 Miliar
Sebagai petugas transportasi, Aip bertanggung jawab mengatur pergerakan jamaah dari bandara menuju hotel, serta mengawal proses kedatangan dan pemulangan jamaah.
Saat puncak haji, tugasnya bertambah berat karena harus memastikan proses pemberangkatan jamaah dari Arafah menuju Muzdalifah berjalan lancar.
Di tengah suhu yang mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, ia mengaku harus bekerja tanpa henti membantu menaikkan jamaah ke armada bus.
"Saya membantu memberangkatkan sekitar tujuh kloter. Karena personel terbatas, kami bekerja sekuat tenaga. Saya sampai menghabiskan satu krat minuman karena panas yang luar biasa," ujarnya.
Namun bukan kelelahan fisik yang paling membekas dalam ingatannya.
Usai seluruh tugas selesai, Aip sempat berada seorang diri di dalam bus.
Pada momen itulah perasaan yang selama ini tertahan seakan tumpah begitu saja.
"Saya merunduk di kursi bus dan menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil," kenangnya.
Menurutnya, Arafah menghadirkan pengalaman batin yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Ia merasa seolah dihadapkan pada seluruh perjalanan hidupnya, termasuk kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan kepada orang lain.
"Di Arafah saya hanya bisa berkata dalam hati, 'Ya Allah, saya capek jauh dari-Mu'," tuturnya.
Kalimat sederhana itu justru menjadi refleksi terdalam selama bertugas di Tanah Suci.
Ia mengaku banyak bermuhasabah selama berada di Arafah. Bahkan, salah satu peristiwa yang membuatnya merenung adalah ketika celana yang dikenakannya tiba-tiba robek saat bertugas.
Meski terdengar sepele, kejadian itu menjadi pengingat baginya untuk lebih banyak melakukan introspeksi diri.
Tak hanya itu, Aip juga teringat kepada seorang mahasiswa yang pernah ia uji dalam sidang skripsi.
Saat berada di Arafah, ia langsung menghubungi mahasiswa tersebut untuk meminta maaf karena khawatir pernah menyakiti perasaannya.
"Saya takut pernah melukai orang lain tanpa saya sadari. Maka saya langsung menelepon dan meminta maaf," ujarnya.
Bagi Aip, Arafah bukan sekadar tempat berkumpulnya jutaan manusia untuk berdoa.
Lebih dari itu, Arafah menjadi ruang perenungan yang membuat seseorang melihat kembali dirinya secara jujur.
Ia mengaku pulang dari Arafah dengan perasaan berbeda dibanding saat datang.
"Saya merasa menjadi orang yang baru. Ada banyak hikmah yang saya dapatkan di sana. Mudah-mudahan pengalaman itu menjadikan saya pribadi yang lebih baik," katanya.
Di balik hiruk-pikuk pelayanan haji yang penuh tantangan, kisah Aip menjadi pengingat bahwa para petugas bukan hanya bekerja melayani jamaah, tetapi juga menjalani perjalanan spiritual mereka sendiri di Tanah Suci.
| Klinik Satelit Sektor 2 Madinah Layani Puluhan Jamaah, Keluhan ISPA Dominasi |
|
|---|
| Cerita Ahmad Sumantri Dampingi Ibu di Tanah Suci, Kenang Perjuangan Dorong Kursi Roda saat Tawaf |
|
|---|
| Kemenhaj Bongkar Kasus Penyimpangan Dam dan Badal Haji, Nilainya Capai Rp2,9 Miliar |
|
|---|
| Irjen Kemenhaj RI Optimistis Haji 2026 Berhasil, Serapan Kuota Capai 99,63 Persen |
|
|---|
| Lika Liku Hidup Masrona Simbolon, Korban Terdampak Tsunami Aceh Kini Tunaikan Haji |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-06-11-Aip-Saiful-Pelaksana-Transportasi-PPIH-Arab-Saudi-2026.jpg)