Haji 2026
Alasan Jamaah Haji Sidrap Singgah Pakai Baju Mispa di Maros, PPIH Ingatkan Jaga Aurat
Sebanyak 391 jamaah haji asal Kabupaten Sidrap, Sulsel, tiba di Tanah Air, Selasa (2/6/2026). Setelah diterima di Asrama Haji Sudiang
Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Edi Sumardi
Laporan jurnalis Tribun-Timur.com, Nurul Hidayah
TURIKALE, TRIBUN-TIMUR.COM - Sebanyak 391 jamaah haji asal Kabupaten Sidrap, Sulsel, tiba di Tanah Air, Selasa (2/6/2026).
Setelah menjalani proses penerimaan di Asrama Haji Sudiang, rombongan jamaah kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pangkajene Sidenreng, Sidrap.
Namun, mereka transit Masjid Al-Markaz Al-Islami Maros.
Sekitar pukul 11.15 Wita, sebanyak 12 bus yang mengangkut jamaah memasuki area parkir masjid.
Suasana haru terasa saat para keluarga yang telah menunggu sejak pagi hari menyambut kedatangan sanak saudara mereka.
Usai melepas rindu dengan keluarga, jamaah kemudian menuju area masjid untuk membersihkan diri dan bersolek sebelum pulang ke daerah masing-masing.
Pelataran Masjid Al-Markaz dipenuhi jamaah perempuan yang sibuk merias diri.
Beberapa perias juga tampak hadir membantu para jemaah mempercantik penampilan mereka.
Para jamaah perempuan berganti pakaian dengan gamis berwarna-warni, mulai dari merah muda, hijau hingga warna-warna cerah lainnya.
Baca juga: Kloter 1 Debarkasi Makassar Mendarat 1 Juni, PPIH Soroti Tren Pakaian Bling-Bling Jamaah
Mereka juga mengenakan penutup kepala khas Bugis yang dikenal dengan sebutan mispa.
Salah seorang jemaah, Jabaniah, mengaku sengaja mengenakan pakaian adat tersebut karena sudah menjadi tradisi masyarakat Bugis saat pulang dari ibadah haji.
“Karena memang tradisi. Biasanya pulang haji pakai baju bagus dengan mispa khas Bugis,” ujarnya.
Beli Emas
Selain membawa kenangan spiritual, Jabaniah juga membawa sejumlah oleh-oleh dari Tanah Suci.
Ia membeli berbagai barang seperti cokelat, sajadah, pakaian hingga perhiasan emas Arab untuk keluarga di kampung halaman.
Selama berada di Makkah dan Madinah, ia mengaku banyak memanjatkan doa, terutama untuk kesehatan dan keselamatan.
Ia juga bersyukur karena akhirnya bisa menunaikan rukun Islam kelima setelah menunggu antrean selama 16 tahun.
Biaya perjalanan haji dikumpulkan dari hasil berjualan buah-buahan yang ditabung sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.
“Tidak tentu menabungnya. Kadang Rp500 ribu, kadang sampai Rp1 juta kalau ada rezeki lebih,” katanya.
Jamaah lainnya, Musdalifah, mengatakan seluruh rombongan memang singgah di Masjid Al-Markaz untuk bersolek sebelum melanjutkan perjalanan ke Sidrap.
Ia mengenakan gamis berwarna cokelat yang dihiasi payet serta mispa khas Bugis yang telah dibawa sejak berangkat dari kampung halaman menuju Tanah Suci.
Musdalifah juga membeli sejumlah oleh-oleh berupa perabotan bernuansa emas seperti cerek, wadah teh, hingga perhiasan emas Arab.
“Salah satu doa yang saya panjatkan semoga menjadi haji yang mabrur,” ucapnya.
Musdalifah mengaku penantian keberangkatannya juga tidak singkat.
Ia baru bisa berangkat ke Tanah Suci setelah menunggu selama 16 tahun.
Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai penjual ikan itu mengatakan biaya haji dikumpulkan dari hasil usaha yang disisihkan sedikit demi sedikit.
"Uang dikumpulkan sedikit-sedikit dari hasil jualan ikan," sebutnya.
Sebelumnya, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Makassar mengingatkan jemaah, khususnya perempuan, agar tetap memperhatikan etika berpakaian.
Ketua PPIH Debarkasi Makassar, Ikbal Ismail, mengatakan mayoritas jemaah haji Embarkasi Makassar tahun ini merupakan perempuan.
“Dari data yang ada pada kami, jamaah haji Embarkasi Makassar itu 65 persen adalah perempuan,” katanya kepada Tribun-Timur.com, Ahad atau Minggu (31/5/2026).
Ia mengaku, masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya budaya Bugis-Makassar, memiliki tradisi tersendiri saat menyambut kepulangan dari ibadah haji.
Salah satu yang kerap terlihat adalah penggunaan busana yang lebih mencolok atau dikenal masyarakat sebagai pakaian bling-bling maupun pakaian Batman.
Menurutnya, tradisi tersebut merupakan bagian dari ekspresi budaya yang telah lama dikenal dan tidak menjadi larangan dari pihak penyelenggara.
“Itu adalah budaya Sulawesi Selatan, budaya orang Bugis-Makassar. Kami tidak melarang. Silakan menampilkan diri dengan ciri khasnya,” uyjarnya.
Namun demikian, Ikbal menegaskan jika kebebasan menampilkan identitas budaya tetap perlu disertai perhatian terhadap ketentuan berpakaian yang sesuai, terutama bagi jamaah perempuan yang baru kembali dari ibadah haji.
“Tetapi ingat bahwa Ibu-ibu pulang dari haji, ada batas-batas aurat yang perlu ditutup," ungkapnya.
"Bolehlah menggunakan pakaian bling-bling atau pakaian Batman, tetapi leher harus ditutup karena itu adalah aurat,” tambah dia.
Pasalnya, kata Kanwil Kemenhaj Sulsel itu, aurat harus tetap terjaga apalagi telah melaksanakan ibadah haji.
"Karena dari leher itu sampai ke bawah itu sudah aurat," jelasnya.(*)
| Warga Sidrap Makin Sejahtera Lewat Pertanian, Syahar Harap Kouta Haji Ditambah |
|
|---|
| 628 Jemaah Haji Maros Dijadwalkan Pulang Bertahap, Kloter 14 Perdana |
|
|---|
| 391 Jemaah Haji Sidrap Tiba di Makassar, Kilau Gelang Emas Menarik Perhatian Syahar |
|
|---|
| Wamenhaj: Jangan Kendor, Pemulangan Jemaah Haji Sama Krusialnya dengan Puncak Haji |
|
|---|
| Pulang dari Tanah Suci, Kakek Kulasse Bawa 9 Boneka Unta untuk Cucunya di Soppeng |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/haji-sidrap-1-262026.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/jamaah-haji-sidrap-3-262026.jpg)