Banjir Bone
Sungai Meluap dan Air Laut Pasang Perparah Banjir di Bone
Cuaca kini seperti kehilangan pola. Bone memberi pelajaran penting hari ini. Bahwa bencana tidak lagi datang dengan pola lama.
Penulis: Wahdaniar | Editor: Abdul Azis Alimuddin
TRIBUN-TIMUR.COM - Kabupaten Bone terendam lagi.
Padahal Sulawesi Selatan sedang berbicara kemarau.
BMKG memperingatkan ancaman El Nino.
Matahari terasa menyengat di Kota Makassar.
Tetapi di Watampone, warga justru berjibaku menghadapi banjir.
Hujan deras mengguyur Bone sejak Kamis (7/5/2026) malam hingga Jumat (8/5/2026) pagi.
Hampir 10 jam tanpa henti.
Air naik cepat sejak dini hari.
Jalan-jalan utama berubah menjadi sungai.
Rumah warga terendam.
Aktivitas lumpuh.
Markas Polres Bone dan Kantor Kejaksaan Negeri Bone di Tanete Riattang Timur pun terendam.
Banjir merendam sedikitnya tiga kecamatan.
Yakni Kecamatan Tanete Riattang, Tanete Riattang Timur, dan Tanete Riattang Barat.
Di kawasan pesisir, tinggi genangan air mencapai dua meter.
Warga panik menyelamatkan barang-barang mereka.
Sebagian bertahan di rumah sambil menunggu bantuan.
Sebagian lain memilih mengungsi ke tempat lebih aman.
“Kami masih bertahan di rumah sambil menunggu petugas datang evakuasi. Air masuk terus sejak subuh dan sekarang sudah cukup tinggi di dalam rumah,” ujar Nurafni, warga Kelurahan Panyula.
Di sejumlah titik, genangan bahkan mencapai di atas lutut orang dewasa.
Air berwarna kecokelatan menggenangi lorong-lorong permukiman warga.
Anak-anak terlihat berdiri di teras rumah.
Sebagian perempuan memilih bertahan sambil menjaga barang-barang belum sempat diselamatkan.
Warga lama Bone langsung mengingat satu tahun yang sulit dilupakan: 2018.
Sebab banjir kali ini disebut hampir setara dengan banjir yang pernah melanda Bone tujuh tahun silam.
Pendangkalan Drainase
Kasi Ops Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengatakan curah hujan yang sangat tinggi diperparah dengan kondisi air laut pasang dan pendangkalan drainase di wilayah kota.
“Terakhir banjir yang terparah di Kabupaten Bone kalau tidak salah tahun 2018. Debit air kali ini hampir sama dengan tahun 2018,” katanya.
Menurutnya, hujan mulai mengguyur wilayah Bone sejak sekitar pukul 21.00 Wita hingga Jumat pagi.
Kondisi itu menyebabkan debit air meningkat cepat dan merendam sejumlah wilayah di Watampone.
“Yang membuat banjir kali ini cukup parah di wilayah pesisir karena hujan deras terjadi bersamaan dengan air laut pasang,” ujarnya.
Selain faktor cuaca dan pasang laut, kondisi drainase kota disebut turut memperparah banjir.
“Penyebab lainnya memang karena adanya pendangkalan drainase yang terjadi di wilayah kota,” katanya lagi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bone mencatat sedikitnya tujuh titik terdampak banjir.
Wilayah itu tersebar di Kelurahan Panyula, Kelurahan Biru, Jalan Yos Sudarso depan Polres Bone, Sambung Loe Baru BTN Pepabri Kelurahan Masumpu, Kelurahan Toro, Lingkungan Lengkong’e Panyula, hingga Lingkungan Rompe Kelurahan Bajoe.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bone, Andi Reski Firdaus, mengatakan petugas masih terus melakukan pemantauan di lapangan.
“Kami terus siaga dan melakukan pemantauan di lokasi terdampak. Warga juga diminta tetap waspada apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi,” ujarnya.
Di tengah kondisi itu, tim gabungan langsung bergerak melakukan evakuasi.
Basarnas, BPBD, Damkar, Satpol PP, Brimob, Polres Bone, hingga personel Kodim 1407/Bone diterjunkan ke sejumlah titik banjir sejak pagi.
Fokus utama evakuasi dilakukan terhadap warga rentan seperti lansia dan anak-anak.
Sedikitnya 69 warga dievakuasi oleh tim gabungan.
Sebagian warga lainnya melakukan evakuasi mandiri dibantu masyarakat sekitar.
Namun banjir besar itu tetap menelan korban jiwa.
Naima, lansia berusia sekitar 100 tahun asal Lingkungan Pao, Kelurahan Bajoe, meninggal di tengah banjir.
Korban lainnya adalah Muh Arsyah, bocah enam tahun asal Kelurahan Panyula.
Ia meninggal dunia setelah tenggelam saat banjir melanda permukiman warga.
“Kedua korban memang berada di wilayah pesisir yang terdampak cukup parah,” ujar Andi Sultan.
Duka menyelimuti rumah-rumah warga di pesisir Bone.
Pemerintah Kabupaten Bone pun menyalurkan santunan kepada keluarga korban.
Bantuan Bupati
Penjabat Sekda Bone, Andi Tenriawaru, menyerahkan santunan Rp5 juta kepada keluarga almarhum Muh Arsyah di rumah duka di Kelurahan Panyula.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bone, kami turut berduka cita atas musibah ini,” ujarnya.
Ia mengatakan kehadiran pemerintah daerah merupakan bentuk perhatian kepada keluarga korban.
“Kehadiran kami menyampaikan amanah dari bapak Bupati Bone sebagai bentuk perhatian pemerintah daerah kepada keluarga korban,” katanya.
Keluarga korban menyampaikan terima kasih atas perhatian pemerintah daerah.
“Kami berterima kasih kepada bapak Bupati Bone dan semua pihak yang sudah datang memberi perhatian kepada keluarga kami,” ujar Salma, keluarga korban.
Di tengah genangan air yang masih merendam sejumlah titik, Bupati Bone Andi Asman Sulaiman turun langsung memantau lokasi terdampak.
Didampingi sejumlah kepala OPD, Bupati terlihat berjalan kaki menembus banjir di kawasan depan Polres Bone hingga Kelurahan Panyula.
Ia mengenakan pakaian loreng hijau dan topi, berada di tengah aparat pemerintah daerah, TNI, Polri, dan petugas gabungan.
Bupati meminta seluruh OPD terkait segera bergerak melakukan penanganan tanpa menunggu kondisi semakin parah.
“Seluruh OPD terkait dan camat agar segera melakukan pemantauan dan penanganan di wilayah kerja masing-masing, mengingat curah hujan sangat tinggi dan ada beberapa titik mengalami banjir,” tegasnya.
Ia juga meminta seluruh camat, lurah, hingga pemerintah desa segera melakukan pendataan terhadap dampak banjir yang dialami masyarakat.
Data tersebut mencakup kerusakan rumah warga, fasilitas umum, hingga kerugian yang ditimbulkan akibat banjir.
“Pemerintah harus hadir cepat di tengah masyarakat. Semua dampak harus segera didata agar bantuan bisa langsung disalurkan sesuai kebutuhan warga,” katanya.
Sementara itu, Komandan Kodim 1407/Bone Letkol Inf Laode Muhammad Idrus memerintahkan seluruh Babinsa di jajaran Koramil siaga memantau wilayah rawan banjir.
Babinsa terlihat menyisir desa binaan, membantu warga mengevakuasi barang rumah tangga, sekaligus berkoordinasi dengan aparat pemerintah setempat.
“Begitu mendapat informasi hujan deras semalaman, saya langsung memerintahkan seluruh jajaran untuk memantau wilayah binaan masing-masing,” ujarnya.
Menurutnya, deteksi dini dan respons cepat sangat penting guna meminimalisir dampak yang lebih besar.
Bone hari ini seperti memberi pesan keras.
Krisis iklim tidak lagi berjalan normal.
Kemarau bisa datang bersama banjir.
Panas ekstrem bisa berdampingan dengan hujan ekstrem.
Dan masyarakat kecil selalu menjadi pihak pertama yang paling merasakan dampaknya.
Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya hujan derasnya.
Tetapi kemampuan kota menahan air semakin lemah.
Drainase dangkal. Kawasan pesisir rentan. Permukiman tumbuh tanpa tata air yang kuat.
Sementara perubahan iklim membuat cuaca semakin sulit diprediksi.
Di satu daerah, petani Sulsel cemas menghadapi kekeringan akibat El Nino.
Di daerah lain, warga justru tenggelam karena banjir besar.
Cuaca kini seperti kehilangan pola.
Bone memberi pelajaran penting hari ini.
Bahwa bencana tidak lagi datang dengan pola lama.
Dan ketika musim kemarau saja bisa menghadirkan banjir besar, maka kewaspadaan tidak boleh ikut mengering.
| Kronologi Bocah 6 Tahun dan Lansia 100 Tahun Tewas Saat Banjir Bone |
|
|---|
| Dapur Umum dan Tenaga Medis Siaga Dampingi Korban Banjir Bone |
|
|---|
| Terparah Sejak 2018, Banjir Bone Disebabkan Pendangkalan Drainase dan Pasang Air Laut |
|
|---|
| Bupati Bone Salurkan Santunan Rp5 Juta untuk Keluarga Bocah Korban Banjir |
|
|---|
| Dandim Bone Perintahkan Jajaran Siaga, Babinsa Sisir Wilayah Rawan Banjir dan Longsor |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260508-Terobos-Banjir-Setinggi-Lutut-Bupati-Bone-Pastikan-Keselamatan-Warga.jpg)