Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Bone

Jalan Penghubung Dua Kecamatan Bone Rusak, Adry: Saat Hujan Seperti Kubangan Sapi

Jalanan rusak penghubung antara Desa Baringeng, Kecamatan Libureng, dengan Desa Mattiro Walie, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan

Tayang:
Penulis: Wahdaniar | Editor: Muh Hasim Arfah
Istimewa/pemuda Kecamatan Bontocani, Adry
JALAN RUSAK- Potret screenshot video jalan rusak yang menghubungkan Desa Baringeng, Kecamatan Libureng dengan Desa Mattiro Walie, Kecamatan Bontocani (26/3/2026). Jalan penghubung dua Kecamatan di Bone rusak parah. 

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE — Sekitar lima kilometer ruas jalan yang menghubungkan Desa Baringeng, Kecamatan Libureng dengan Desa Mattiro Walie, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dilaporkan dalam kondisi rusak parah.

Kerusakan jalan tersebut sudah berlangsung lama dan hingga kini belum mendapat penanganan serius dari pihak terkait.

Kondisi jalan dipenuhi lubang dan tanah yang tidak rata, sehingga menyulitkan pengendara yang melintas, baik roda dua maupun roda empat.

Bahkan, saat musim hujan tiba, ruas jalan tersebut berubah menjadi kubangan lumpur yang dalam dan licin, sehingga sangat berbahaya dilalui.

Tokoh pemuda asal Kecamatan Bontocani, Adry (32), mengungkapkan bahwa jalan tersebut sudah puluhan tahun tidak pernah mengalami pengerasan.

“Ini jalan sudah lama sekali rusak, bahkan puluhan tahun tidak pernah diperbaiki. Kalau hujan, kondisinya seperti kubangan sapi, tidak bisa dilewati dengan normal,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (26/3/2026).

Menurut Adry, kerusakan jalan tersebut berdampak besar terhadap aktivitas ekonomi warga, khususnya para petani.

Baca juga: Alasan Keselamatan ASDP Bone Perbaiki Dermaga Bajoe

Ia menjelaskan, saat musim panen tiba, warga kesulitan menjual hasil pertanian mereka karena akses jalan yang tidak memadai.

“Kalau musim panen, banyak pembeli tidak mau masuk karena kondisi jalan. Terpaksa warga jual hasil panen di bawah harga normal,” jelasnya.

Tak hanya itu, kata dia, sebagian warga memilih menjual hasil pertanian ke daerah tetangga seperti Kabupaten Maros dan Sinjai karena aksesnya dinilai lebih mudah dijangkau.

“Kadang juga warga bawa ke Maros atau Sinjai karena lebih dekat dan jalannya lebih bagus dibanding ke dalam wilayah sendiri,” tambahnya.

Adry berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi jalan tersebut dan segera melakukan perbaikan.

“Kami apresiasi pemerintah karena sudah banyak jalan rusak yang dibangun. Tapi kalau bisa, di Bontocani ini juga diperbaiki tahun ini,” harapnya.

Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya, Rahmat (40), yang mengaku kesulitan beraktivitas sehari-hari akibat kondisi jalan tersebut.

“Kalau mau ke pasar atau bawa hasil kebun itu sangat susah. Kendaraan sering rusak karena jalannya jelek sekali,” ungkapnya.

Ia juga menyebutkan bahwa akses jalan tersebut sangat penting karena menjadi penghubung antar kecamatan dan jalur utama bagi warga setempat.

“Ini jalan penting, bukan jalan kecil. Banyak warga bergantung di sini,” katanya.

Dirinya berharap pemerintah segera turun tangan agar akses jalan tersebut dapat diperbaiki dan aktivitas masyarakat kembali lancar.

Untuk diketahui jarak dari Kecamatan Bontocani ke pusat Kota Watampone mencapai sekitar 105 kilometer, tergantung rute yang dilalui.

Dengan kondisi jalan yang rusak, waktu tempuh warga menjadi lebih lama dan biaya transportasi pun meningkat.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved