Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kisah Andi Fahsar Setelah Tak Jadi Bupati Bone: Bangun Masjid dan Dekatkan Diri ke Tuhan

Bagi Fahsar, membangun masjid bukan keputusan spontan, melainkan cita-cita yang telah lama ia simpan.

Tayang:
Penulis: Wahdaniar | Editor: Ansar
Tribun-timur.com/Nurul Hidayah
WAKAF MASJID - Potret Eks Bupati Bone dua periode, Andi Fahsar M Padjalangi inisiasi Masjid Al Itikaf di Jalan Makmur (6/2/2026). Kisah eks Bupati Bone bangun empat masjid, sebut sudah menjadi keinginan sejak lama.  

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE –  Pagi itu, Andi Fahsar M Padjalangi tampak sederhana.

Mengenakan baju koko biru tua, topi hitam, dan sarung kotak-kotak, eks Bupati Bone dua periode itu menyambut tamu di kawasan Jalan Makmur, Kelurahan Manurunge, Kecamatan Tanete Riattang.

Tak ada lagi hiruk pikuk protokoler atau barisan pejabat yang mengiringi.

Kini, sebagian besar waktunya justru dihabiskan di masjid.

Di hadapannya berdiri Masjid Al Itikaf, rumah ibadah yang bukan hanya menjadi tempat salat, tetapi juga ruang pengabdian baru setelah ia tak lagi menjabat.

Masjid Al Itikaf
Masjid Al Itikaf (Tribun-timur.com/Wahdaniar)

Bagi Fahsar, membangun masjid bukan keputusan spontan, melainkan cita-cita yang telah lama ia simpan.

“Alhamdulillah, Masjid Al Itikaf ini dibangun berkat masukan masyarakat. Kebetulan tanah ini kosong dan merupakan aset Pemkab Bone. Saya memang punya keinginan membangun masjid sejak lama, apalagi kalau sudah pensiun bisa beribadah dekat rumah,” ujarnya kepada Tribun-Timur.com, Jumat (6/2/2026).

Dukungan masyarakat mengalir sejak awal pembangunan.

Bahkan kini, jemaah yang datang tak hanya berasal dari sekitar lingkungan masjid, tetapi juga dari luar daerah.

Saf-safnya kerap terisi, membuat masjid itu hidup sepanjang hari.

“Banyak yang datang ke sini, terutama hari kerja dan libur. Jadi masjid ini bisa terus makmur,” katanya.

Pada tahap awal, pembangunan Masjid Al Itikaf sepenuhnya dibiayai oleh keluarganya.

Fahsar mengaku ingin memastikan rumah ibadah itu berdiri lebih dulu sebelum membuka pintu bagi bantuan pihak lain.

“Awalnya mohon maaf, pembangunannya 100 persen dari kami sekeluarga. Setelah terbangun dan fasilitasnya lengkap, barulah banyak yang ikut membantu,” ungkapnya.

Kini, ada 48 donatur tetap yang menyumbang antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu setiap bulan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved