Cuaca Buruk
Nelayan Bone Memilih Tak Melaut Akibat Ombak Tinggi
Salah seorang nelayan Bajoe, Muh Rahman Bukhari, mengaku sempat tertahan di laut akibat cuaca buruk tersebut.
Ringkasan Berita:
- Berdasarkan pantauan di lapangan, tinggi ombak di perairan Bajoe dilaporkan mencapai hampir dua meter dan disertai angin kencang yang bertiup tidak menentu.
- Situasi ini membuat nelayan, khususnya yang menggunakan perahu dan kapal berukuran kecil, memilih bertahan di darat.
- Salah seorang nelayan Bajoe, Muh Rahman Bukhari, mengaku sempat tertahan di laut akibat cuaca buruk tersebut.
TRIBUN-TIMUR.COM, BONE - Cuaca ekstrem berupa angin kencang dan ombak tinggi melanda perairan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dalam sepekan terakhir.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas nelayan setempat yang terpaksa menunda melaut demi keselamatan jiwa.
Berdasarkan pantauan di lapangan, tinggi ombak di perairan Bajoe dilaporkan mencapai hampir dua meter dan disertai angin kencang yang bertiup tidak menentu.
Situasi ini membuat nelayan, khususnya yang menggunakan perahu dan kapal berukuran kecil, memilih bertahan di darat.
Salah seorang nelayan Bajoe, Muh Rahman Bukhari, mengaku sempat tertahan di laut akibat cuaca buruk tersebut.
Saat ditemui di Pelabuhan Rakyat Bajoe, Rahman terlihat sedang menambatkan kapal sekaligus menurunkan hasil tangkapan ikannya.
“Saya hampir satu minggu tertahan di laut karena ombak tinggi dan angin kencang. Baru sekarang bisa sampai,” ujar Rahman, Senin (12/1/2026).
Baca juga: Hampir Tiga Pekan Warga Bone Kesulitan Dapat Elpiji 3 Kg, Jika Dapat Harganya Rp35 Ribu
Ia mengatakan, kondisi cuaca ekstrem ini juga berdampak pada hasil tangkapan ikan yang menurun drastis.
Menurutnya, jika situasi tidak membaik, nelayan lebih memilih tidak memaksakan diri untuk melaut.
“Kalau hasil tangkapan berkurang sekali. Andai tidak tertahan di laut, saya pilih tinggal di darat dulu tunggu angin dan ombak turun,” katanya.
Rahman menambahkan, sebagian besar nelayan di Bajoe juga mengambil keputusan serupa demi menghindari risiko kecelakaan di laut.
Nelayan lainnya, Basri, mengaku sejak beberapa hari terakhir memilih tidak melaut karena mempertimbangkan faktor keselamatan.
“Banyak juga teman-teman nelayan yang pilih di darat saja. Ombaknya besar, anginnya kencang,” ujar Basri.
Ia menegaskan bahwa keselamatan menjadi pertimbangan utama dibandingkan harus memaksakan diri mencari ikan di tengah cuaca ekstrem.
“Daripada nyawa jadi taruhannya, lebih baik menunggu kondisi laut kembali aman,” tandasnya.
Para nelayan berharap cuaca segera membaik agar aktivitas melaut dapat kembali normal dan pendapatan mereka tidak terus terganggu akibat cuaca buruk.(*)
| 29 Titik di Makassar Terdampak Angin Kencang, Kepala BPBD: Waspada Pohon Tumbang |
|
|---|
| Gelombang Capai 3 Meter, BPBD Parepare Larang Warga Berenang di Pantai |
|
|---|
| Abrasi Robohkan Dua Petak Rumah Warga Pulau Langkai, Ibu Tunggal Bertahan di Tengah Ancaman Ombak |
|
|---|
| ASN Tedampak Bencana di Maros Boleh WFA |
|
|---|
| Cuaca Buruk Sejak Desember, Harga Ikan di Makassar Melonjak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026012-Kapal-nelayan-Bone.jpg)