Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

BRI

Hardinianti dan Perjuangan Menghidupkan Warisan Markisa Keluarga

Pelanjut bisnis Markisa Bintang Jaya Hardinianti (32). Ia pernah ikut program inkubator bisnis yang dijalankan Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Tayang:
Penulis: Muh Hasim Arfah | Editor: Muh Hasim Arfah
Tribun-timur.com
INKUBATOR BRI-Pelanjut bisnis Markisa Bintang Jaya Hardinianti (32). Ia pernah ikut program inkubator bisnis yang dijalankan Bank Rakyat Indonesia (BRI). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Di lorong kecil tepat di Jalan Deppasawi Dalam, Kelurahan Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, ada harapan besar yang sedang diracik dari aroma segar buah markisa.

Di dalam rumah yang sekaligus dijadikan tempat produksi tersebut, beberapa botol sirup markisa tersusun rapi di rak besi sederhana. 

Jumlahnya tak terlalu banyak, hanya dua baris botol berwarna kuning keemasan yang tampak siap menunggu orderan pelanggan. 

Ukuran botolnya bervariasi, mulai dari 250 ml, 500 ml, hingga 1 liter. 

Tak ada papan usaha besar terpampang di depan rumah itu.

Aktivitasnya pun tampak seperti rumah biasa pada umumnya.

Namun dari lorong kecil itulah, Hardinianti (32) perlahan membangkitkan kembali usaha warisan keluarganya yang nyaris berhenti.

Usaha sirup markisa bernama Markisa Bintang Jaya itu sebenarnya bukan bisnis baru. 

Baca juga: Petani Jagung Takalar Dapat Edukasi Kelola Usaha dan Akses Modal dari BRI ‎

20260520_GENERASI KETIGA_generasi ketiga 2026
GENERASI KETIGA- Pebisnis generasi ketiga Markisa Bintang Jaya, Hardinianti (32) mengikuti program inkubator bisnis yang dijalankan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Hardinianti (32) perlahan membangkitkan kembali usaha warisan keluarganya yang nyaris berhenti.

Produk tersebut telah terdaftar sejak tahun 2001.

Bahkan jika ditarik lebih jauh, usaha keluarga itu sudah dimulai sejak 1999 oleh kakek dan ibunya.

Setelah itu, usaha diteruskan oleh pamannya yang dikenal sebagai seorang ustaz. Hingga dua tahun lalu, ketika sang paman meninggal dunia, usaha tersebut sempat kehilangan arah.

“Qadarullah, Om saya meninggal dua tahun lalu. Jadi akhirnya saya memutuskan mengambil alih usaha ini,” tutur Hardinianti ditemui di kediamannya, Selasa (19/5/2026). 

Keputusan itu tidak datang tanpa keraguan. Sebab saat mulai terjun langsung, ia mendapati bisnis keluarga tersebut berjalan stagnan selama bertahun-tahun.

Sistem penjualan masih dilakukan secara manual. Produk diantar langsung ke kantor pemerintahan, rumah sakit hingga instansi tertentu dengan pembayaran tempo.

“Kadang lebih besar biaya pergi menagih dibanding uang yang dibayarkan,” ujarnya sambil tersenyum kecil.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved