Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Bukan Sekadar Cukur, Buzzcut and Co Membangun Loyalitas Lewat Pelayanan Maksimal

ditempat ini kursi barber sering berubah menjadi ruang cerita, tempat pelanggan datang bukan hanya untuk tampil rapi, tetapi juga mencari kenyamanan.

Tayang:
Editor: Muh. Abdiwan
Tribun-timur.com/Muh. Abdiwan
PELAYANAN MAKSIMAL - Owner Buzzcut & Co Barbershop, Muhammad Hizran Rafii atau yang akrab disapa Ichank berfoto didepan di Buzzcut & Co Barbershop Jl. Anggrek Raya No.25, Paropo, Kec. Panakkukang, Kota Makassar, Kamis (7/5). Ditempat ini pelayanan maksimal membuat kursi barber sering berubah menjadi ruang cerita, tempat pelanggan datang bukan hanya untuk tampil rapi, tetapi juga mencari kenyamanan. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Suara mesin clipper berdengung pelan di dalam ruangan berukuran 3x8 meter itu. Musik hits mengalun santai, berpadu dengan aroma pomade dan udara dingin dari AC yang langsung terasa begitu pintu dibuka.

Di depan cermin besar, seorang pelanggan tersenyum puas melihat hasil rambutnya yang rapi dan presisi. Sementara di belakang, Owner Buzzcut & Co Barbershop, Muhammad Hizran Rafii atau yang akrab disapa Ichank, mengamati para kapster (sebutan untuk pemangkas dan penata rambut profesional) merapikan detail terakhir.

Bagi sebagian orang, barbershop hanyalah tempat mencukur rambut. Namun di Buzzcut & Co Barbershop Jl. Anggrek Raya No.25, Paropo, Kec. Panakkukang, Kota Makassar, kursi barber sering berubah menjadi ruang cerita, tempat pelanggan datang bukan hanya untuk tampil rapi, tetapi juga mencari kenyamanan.

“Awalnya saya kepikiran buka barbershop karena memang suka cukur dua kali dalam sebulan,” cerita Ichank sambil tersenyum saat ditemui, Kamis (7/5).

Kebiasaan sederhana itu perlahan berubah menjadi mimpi usaha. Ia melihat budaya grooming pria di Makassar berkembang pesat dan mulai menjadi bagian dari gaya hidup anak muda.

Nama “Buzzcut” dipilih karena sederhana namun kuat. Menurut Iccang, buzzcut identik dengan kesan praktis, bersih, tegas, dan maskulin, karakter yang ingin ia hadirkan dalam konsep barbershopnya.

Namun perjalanan membangun Buzzcut tidak selalu mudah. Di masa awal merintis, kursi barber lebih sering kosong dibanding terisi pelanggan.

20260607_DWN_Buzzcut
PELAYANAN MAKSIMAL - Suasana pelayanan di Buzzcut & Co Barbershop Jl. Anggrek Raya No.25, Paropo, Kec. Panakkukang, Kota Makassar, Kamis (7/5). Ditempat ini pelayanan maksimal membuat kursi barber sering berubah menjadi ruang cerita, tempat pelanggan datang bukan hanya untuk tampil rapi, tetapi juga mencari kenyamanan.

Saat itu, Ichank sadar satu hal: pelayanan harus dibuat berbeda.

Maka setiap pelanggan yang datang disambut dengan hangat. Dari ucapan selamat datang hingga detail potongan rambut, semuanya dilakukan dengan serius dan penuh perhatian.

“Kalau ada customer masuk, kami berusaha kasih pelayanan di atas rata-rata,” ujarnya.

Perlahan, pelanggan mulai datang kembali dan membawa teman-temannya. Ditambah promosi before-after cukuran melalui Instagram dan TikTok, nama Buzzcut makin dikenal di kalangan anak muda Makassar.

Tetapi cerita paling berkesan datang dari seorang mahasiswa baru dua tahun lalu.

Saat itu barbershop sebenarnya sudah tutup. Lampu hampir dimatikan ketika seorang pemuda datang tergesa-gesa dan memohon agar tetap dilayani karena keesokan harinya harus mengikuti kegiatan penting.

“Dia bilang sudah keliling tapi tidak ada barber yang mau terima karena sudah closing,” kenang Ichank.

Karena iba, ia akhirnya menerima pelanggan tersebut. Awalnya sang mahasiswa hanya meminta cukuran sederhana satu ukuran. Namun Ichank tetap mengerjakannya sepenuh hati.

Hasilnya ternyata lebih dari sekadar potongan rambut.

Sampai hari ini, mahasiswa itu masih menjadi pelanggan setia Buzzcut. Bahkan ketika pindah tempat tinggal, ia tetap datang untuk mencukur rambut di sana.

“Dari situ saya belajar, di kursi barber pelanggan bisa berubah jadi teman, dan teman bisa berubah jadi keluarga,” katanya.

Keakraban itu terasa nyata di Buzzcut. Kadang pelanggan datang membawa makanan atau oleh-oleh untuk para capster. Bagi Iccang, itu menjadi tanda bahwa pelanggan merasa nyaman dan dihargai.

Saat pertama kali masuk ke Buzzcut, pelanggan akan langsung disambut capster dengan ramah. Ruangan terasa terang dengan pencahayaan modern, musik yang sedang tren, serta kursi tunggu dan kursi cukur yang empuk.

Namun detail kecil justru menjadi ciri khas yang paling dijaga.

“Setelah selesai cukur, capster pasti bilang, ‘Terima kasih di, hati-hatiki di jalan,’” ujar Iccang. “Kelihatannya kecil, tapi efeknya besar ke customer.”

Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, Buzzcut juga bergerak mengikuti perkembangan digital. Sejak pertama kali buka, mereka langsung menggunakan QRIS BRI sebagai metode pembayaran utama.

Menurut Ichank, penggunaan QRIS BRI bukan hanya soal tren pembayaran non tunai, tetapi juga soal efisiensi dan profesionalisme usaha.

“QRIS BRI sangat memudahkan karena fitur di BRI Merchant lengkap. Ada notifikasi pembayaran dan laporan harian, mingguan sampai bulanan,” jelasnya.

Kehadiran QRIS BRI membuat transaksi di Buzzcut terasa lebih praktis. Pelanggan cukup melakukan scan tanpa perlu membawa uang tunai.

“Sering sekali customer lupa bawa dompet, tapi tetap bisa bayar karena ada QRIS,” katanya.

QRIS BRI juga membantu pengelolaan keuangan usaha menjadi lebih tertata. Melalui aplikasi BRImo, transaksi dapat dipantau kapan saja melalui mutasi rekening yang mudah diakses.

“Jadi gampang lihat mana uang usaha dan mana transaksi dari merchant QRIS,” ujarnya.

20260607_DWN_QRIS_BRI_
QRIS BRI - Pelanggan membayar menggunakan QRIS BRI di Buzzcut & Co Barbershop Jl. Anggrek Raya No.25, Paropo, Kec. Panakkukang, Kota Makassar, Kamis (7/5). Ditempat ini pelayanan maksimal membuat kursi barber sering berubah menjadi ruang cerita, tempat pelanggan datang bukan hanya untuk tampil rapi, tetapi juga mencari kenyamanan.

Kemudahan transaksi digital ini sejalan dengan inovasi yang terus dikembangkan oleh BRI dalam mendukung ekosistem pembayaran digital di Indonesia.

Melalui pembaruan fitur QRIS di aplikasi BRImo, nasabah kini bahkan dapat menggunakan Kartu Kredit BRI sebagai sumber dana utama pembayaran QRIS. Inovasi tersebut membuat transaksi digital menjadi semakin fleksibel karena pengguna dapat memanfaatkan limit kartu kredit tanpa perlu repot mengisi saldo terlebih dahulu.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, mengatakan fitur tersebut merupakan langkah BRI menghadirkan layanan digital yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

“Fitur ini memberikan kenyamanan lebih, terutama bagi mereka yang tidak ingin repot mengisi ulang saldo. Dengan kartu kredit, nasabah dapat memanfaatkan limit yang tersedia untuk bertransaksi,” ujarnya.

Melalui BRImo, pengguna juga dapat mengakses informasi limit kartu, tagihan, hingga mutasi rekening secara praktis dalam satu aplikasi. Kehadiran fitur-fitur ini semakin memudahkan pelaku usaha seperti Buzzcut dalam memantau arus kas usaha sehari-hari.

Bagi Ichank, digitalisasi bukan hanya tentang teknologi pembayaran, tetapi tentang menciptakan pengalaman pelanggan yang lebih nyaman.

Kini, setelah berhasil membangun identitas yang kuat di Makassar, ia mulai memikirkan mimpi yang lebih besar. Dalam lima tahun ke depan, Buzzcut ingin membuka cabang baru dan terus berkembang menjadi bagian dari lifestyle anak muda Makassar.

Namun bagi Ichank, pertumbuhan usaha tidak hanya soal memperbesar nama. Ia ingin terus meningkatkan kualitas pelayanan, melatih attitude para capster, dan mengikuti tren model rambut terbaru agar pelanggan selalu mendapatkan pengalaman terbaik.

Di tengah persaingan bisnis yang semakin ramai, ia percaya satu hal sederhana: usaha yang tumbuh dengan ketulusan akan selalu menemukan jalannya sendiri.

“Mulai saja dulu,” pesannya untuk anak muda yang ingin membangun UMKM. “Nanti akan terbentuk sendiri, tapi tetap harus fokus dan pakai perhitungan.” tutupnya.
 
 
 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved