Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

IAI Sulsel Gelar Lokakarya Penulisan Arsitektur dan Kunjungan Heritage

Pemahaman konteks sosial dan budaya lokal menjadi kunci tulisan tidak sekadar dokumentatif, melainkan mampu menghadirkan kedalaman makna.

Editor: Muh. Abdiwan
TRIBUN-TIMUR.COM/MUHAMMAD ABDIWAN
LOKAKARYA ARSITEKTURAL - Ikatan Arsitek Indonesia Sulawesi Selatan (IAI SulSel) sukses menyelenggarakan lokakarya penulisan karya arsitektural dan ilmiah serta kunjungan warisan budaya arsitektur pada 23-24 Agustus 2025 di Hotel Claro Makassar. Kegiatan bertajuk Jejak Pena Arsitek ini digelar melalui Bidang Pengkajian dan Pelestarian Arsitektur (BATARI) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Pelestarian Arsitektur (KASTARI) IAI Nasional sebagai upaya strategis mengasah kemampuan menulis karya arsitektural yang berkualitas dan relevan, khususnya dalam konteks heritage. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ikatan Arsitek Indonesia Sulawesi Selatan (IAI SulSel) sukses menyelenggarakan lokakarya penulisan karya arsitektural dan ilmiah serta kunjungan warisan budaya arsitektur pada 23-24 Agustus 2025 di Hotel Claro Makassar.

Kegiatan bertajuk Jejak Pena Arsitek ini digelar melalui Bidang Pengkajian dan Pelestarian Arsitektur (BATARI) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Pelestarian Arsitektur (KASTARI) IAI Nasional sebagai upaya strategis mengasah kemampuan menulis karya arsitektural yang berkualitas dan relevan, khususnya dalam konteks heritage.

Ketua IAI Sulsel, Ar. Andi Syahriyunita Syahruddin, menegaskan pentingnya penulisan arsitektural sebagai bagian dari pengabdian profesi.

"Arsitek bukan hanya membangun ruang fisik, tetapi juga membangun narasi dan pengetahuan. Melalui karya tulis, kita bisa meninggalkan jejak pemikiran, mendokumentasikan sejarah, sekaligus memberi arah bagi perkembangan arsitektur ke depan," ujarnya, Minggu (24/8).

Penulisan karya arsitektural dinilai menjadi kompetensi penting bagi arsitek dan akademisi, bukan hanya dari sisi teknis tetapi juga analisis, argumentasi, dan komunikasi logis.

Pemahaman terhadap konteks sosial dan budaya lokal menjadi kunci agar tulisan tidak sekadar dokumentatif, melainkan mampu menghadirkan kedalaman makna.

Peserta lokakarya dibekali pemahaman menulis artikel dengan empat aspek utama, yaitu protagonis, latar, isu atau konflik, serta resolusi, sehingga karya tulis arsitektur bisa lebih kuat secara naratif dan hidup sebagai representasi budaya.

Lokakarya menghadirkan dua narasumber ahli, yakni Ar. Setiadi Sopandi, ST., M.A., IAI, praktisi dan pendiri Yayasan Museum Arsitektur Indonesia, serta Ar. M. Sudjar Adityadjaja, IAI, pengkaji bangunan heritage berpengalaman.

Selain materi, peserta juga diajak observasi langsung ke Gedung Pengadilan Negeri Makassar sebagai salah satu bangunan bersejarah penting di kota ini.

Proses pembelajaran dilanjutkan dengan sesi tinjauan daring oleh reviewer Avianti Armand dan Assoc. Prof. Ir. Ria Wikantari, M.Arch., Ph.D. yang memberikan masukan konstruktif untuk menyempurnakan tulisan para peserta.

Lokakarya ini juga diarahkan untuk membentuk komunitas penulis arsitektur berkelanjutan melalui publikasi di media log.iai.or.id agar karya tulis arsitek Indonesia lebih dikenal, sekaligus memperkuat kontribusi mereka dalam pengembangan arsitektur yang berpijak pada budaya dan nilai historis.

Kegiatan ini menegaskan bahwa penulisan arsitektural bukan sekadar dokumentasi teknis, tetapi proses analisis kritis yang berperan menjaga warisan heritage sekaligus menopang perkembangan arsitektur kontemporer di Indonesia.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved